Jumat, 01 Februari 2013

SENDAL JEPIT DI BATAS SUCI


Pada kesempatan perjalanan ke Ciamis Jawa Barat, KA Lodaya jurusan Surabaya - Bandung singgah di Tasikmalaya pagi buta. Saya berangkat dari Jogja pukul 9 malam. Terpaksa harus tidur sebentar di kios warung nasi di dalam stasiun untuk menunggu pagi dimana angkot mulai beroperasi. Angkot mulai ada jam 5 pagi, sedangkan kereta tiba jam 3 pagi. Bangku kayu panjang milik kios warung nasi rupanya cukup lumayan sejam saja untuk merebahkan badan.

Pukul lima saya mulai beranjak mencari angkot. Jarak Tasikmalaya - Ciamis bisa ditempuh antara 20 - 30 menit. Cukup lah untuk singgah sebentar di Masjid Raya Ciamis sebelum matahari terbit. Jadwal subuh masih didapat.

Subuh di kota kecil Ciamis masih cukup menusuk. Dinginnya minta ampun. Mungkin karena suhu yang turun karena semalaman diguyur hujan. Untung saja jaket gunung yang resletingnya sudah agak bermasalah masih mampu menahan dinginnya. Untuk masuk ke dalam Masjid, semua atribut perjalanan harus kulepas. Jaket, tas ransel carrier dan sepatu caterpillar. Ini bukan peralatan perjalanan reguler, tetapi karena semata sebelumnya saya baru menyelesaikan pekerjaan gelar acara di daerah Kaliurang Jogja. Banyak jadinya peralatan dan perlengkapan yang harus saya bawa, sebab semingguan lebih saya mukim di sana.

Untuk tas ransel carrier dan jaket masih bisa saya bawa ke dalam ruang wudhu, namun sepatu tidak mungkin. Ruang penitipan sandal dan sepatu masih kosong pengelola. Maka saya taruh saja di kumpulan sendal dan sepatu milik orang lain di anak tangga Masjid yang di salah satu spot bertuliskan BATAS SUCI.

Tradisi mandi di Masjid sering saya lakukan tiap berkesempatan pergi ke kota-kota tujuan perjalanan. Juga pula mandi di stasiun sudah menjadi hal biasa. Sebab waktu tidak dapat menunggu, seringkali sesampainya di kota tujuan, saya harus bersiap diri langsung memulai pekerjaan. Mandi pagi menjadi hal wajib dan mandi sore tidak terlalu wajib. Jorok bukan?

Selama tiga menit saya di ruang wudhu dan bersiap hendak memasuki Masjid, namun saya teringat sepatu. Sepertinya harus dipindahkan ke rak sepatu di ruang penitipan yang saat itu sudah muncul pengelolanya.

Tak ada!


Sepatuku tak ada di tempatnya semula. Kucari-cari di sekitaran pun tak ada. Bahkan hingga mengelilingi teras Masjid tempat adanya kumpulan sepatu dan sandal. Tak pula ditemukan. Sepatu itu kumiliki sejak SMA. Ukuran kakiku sejak SMA hingga saat itu tak berubah dan sepatu itu masih memberikan kenyamanan yang sama. Kubeli di Taman Puring dengan harga Rp 65 ribu saja. Konon sepatu Catepillar KW tapi masih tahan lama dan tak rusak sedikit pun meski telah saya pakai bertahun-tahun.


Jam sudah menunjukkan pukul setengah enam kurang, waktu Shubuh akan habis. Buru-buru saya masuk ke dalam sambil gundah tak menemukan sepatu. Dalam shalat, terbagi pikiran antara sepatu yang belum ketemu dan rasa kehilangan.

Usainya, saya kembali mencari sepatu saya itu lagi. Masih belum ketemu juga. Seorang bapak separuh baya menawari saya menggunakan sandalnya untuk digunakan mencari dan membeli sendal baru. Bapak itu tahu saya tengah kebingungan dan menanyakan alasan kebingungan saya. Ketika ia tahu kebingungan saya, ia dengan logat jawa-baratan ikut berempati. Langkah solusif saya saat itu adalah hendak membeli sandal jepit. Kemudian bapak itu menawarkan sandalnya untuk saya gunakan. Bahkan hendak memberinya saya uang untuk membeli sandal. Kutolak halus, namun membuatku bergidik dengan ketulusannya. Saya baru dikenalnya dan dia tak berpikir buruk aku berpotensi membohonginya.

Meski ukurannya kecil, sandal bapak itu tetap kugunakan. Untuk menghormati ketulusannya berbaik padaku. Dan akhirnya kudapat sandal yang sepadan ukurannya dengan kakiku. Kisah ini terjadi 2002 silam.
***

Jelang Natal tahun lalu, saya kedatangan teman lama yang pernah membantu saya menjebolkan dana CSR di suatu perusahaan BUMN untuk tambahan permodalan usaha yang tengah saya rintis dengan cicilan berbunga 1% per tahun. Ringan bukan? Sangat terbantu, sebab saat memulai usaha saya hanya memiliki uang Rp 2,5 juta, gaji terakhir sebagai reporter majalah properti. Dana tersebut saya belikan peralatan kerja dan sebagian kecilnya dipergunakan untuk operasional.

Teman lama saya itu menjadi organisator gereja dan bertindak sebagai panitia persiapan Natal. Kedatangannya adalah hendak minta dibuatkan undangan dan pernak-pernik desain Natal untuk dekorasi penyambutan gerejanya. Maka saya buatkan.

Ketika percakapan kami selama mendesain permintaannya, ia bicara tentang toleransi beragama. Sebagai pensiunan BUMN, ia tidak kehilangan kepekaan terhadap fenomena kehidupan bangsa ini. Salah-satu hal yang mengusiknya adalah tentang agama yang dipolitisir dan politisasi agama. Ia tidak setuju agama dan politik dicampur-baurkan. Politik ya politik, agama ya agama. Agama berkutat pada kemurnian Illahi dan politik berkutat pada kepentingan seseorang. "Tak akan bisa nyambung," ujarnya.

Dari pendapatnya tersebut, saya jadi teringat kisah hilangnya sepatu kesayangan saya dan berganti sandal jepit di Masjid Raya Ciamis.

Masjid sediakalanya adalah rumah ibadah. Kedatangan ke situ seharusnya murni karena-Nya. Tetapi kepentingan orang yang datang berbeda-beda. Bisa jadi mereka menegakkan shalat berjamaah, bisa jadi mereka mencari petunjuk-Nya dengan panjat doa-doa, ber-majlis tak'lim dengan jamaah lainnya. Atau bisa jadi mereka mencari hal lainnya dari situ.

Politik dimukimi banyak orang dengan hal lainnya itu. Motifnya beragam, dari idealis hingga oportunis. Dari semangat bernegarawan hingga 'ber-tega-tegaan'. Pantas saja di tiap Masjid, terutama Masjid besar banyak bertulis di anak tangganya 'BATAS SUCI', ternyata tidak hanya untuk alas kaki atau telapak kaki yang kotor, tetapi juga hati yang kotor. Dan saya mulai memaklumi kalau si pengambil sepatu saya itu hanya ada di garis BATAS SUCI itu, bukan di dalam Masjid. Karena tak pernah ada orang sepengetahuan saya menaruh sepatu atau sandalnya di dalam Masjid yang notabene areal beribadah.

Politik dan agama jika dipisah akan seperti kehilangan sepatu dan menggantinya dengan sandal jepit. Wajah politik cukup rupawan untuk menjadi daya pikat. Wajah agama pun sangat menarik untuk menjadi aqidah dalam berpolitik. Masalahnya adalah jika agama bukan menjadi patron politik dan malah menjadi peron dari tujuan politiknya sebenarnya.

Politik ya politik, agama ya agama, seperti perkataan teman lama saya itu, menurut saya berada pada tulisan BATAS SUCI di anak tangga. Tetapi masih lebih baik daripada sudah memasuki ruang suci namun niatannya tak suci. Seperti shalat Shubuh-ku waktu itu yang sudah tak khusu' lagi. Guru Ngaji saya bilang dulu waktu kecil, yang membuat suci seseorang terletak pada aqidahnya. Kalau belok ya nggak lurus. Kalau lurus, jangan belok-belok. Seperti rel kereta, ada jalurnya.

Untung saja rasa sayang saya terhadap sepatu kesayangan saya itu tidak menimbulkan fanatisme berlebihan hingga saya masih bisa berpikir agak sedikit sehat untuk tidak menuduh siapapun yang ada di TKP sepatu saya yang hilang. Bukannya malah mendapatkan pinjaman sandal jepit, malah bisa-bisa mendapatkan tamparan sandal jepit di wajah saya...  


Supported by