Senin, 04 Februari 2013

SALAH TULIS SALAH SEJARAH

Foto: Istimewa
Saya tidak mengecek kepada pemiliknya tentang arti dari nama usaha PITI PILI Money Changer di daerah Tebet Jakarta Selatan. Dan rasanya tak perlu. Saya hanya tertarik dengan penggunaan namanya saja. Maka tak perlu saya mewawancarai pemiliknya untuk sekedar bertanya arti dari nama usahanya tersebut. Butuh surat tugas dan butuh singgah dulu. Sebab saya tengah dalam perjalanan ke tujuan lain.

Saya buka KBBI, tak ditemukan artinya. Saya buka google translate-pun tak ada artinya. Tetapi nama PITI PILI itu sudah merasuk ke dalam pikiran saya sepanjang jalan waktu itu. Apa artinya dan kenapa dipergunakan sebagai nama usaha money changer? Unik memang dan enak diingat. Atau terkesan jenaka. Bisa jadi nama itu diambil dari bahasa Spanyol atau Italia. Karena agak mendekati lafalannya. Namun pula ketika saya cari di arti kata PITI PILI dalam bahasa Spanyol atau Italia, juga tak ditemukan. Juga dibeberapa bahasa asing lainnya. Ah, sudahlah.

Di lain waktu perjalanan, saya melihat sebuah gerobak beratap terpal plastik. Di dalamnya ada dua orang anak kecil usia berkisar delapan tahunan dan seorang ibu terduduk sambil menyusui bayinya. Gerobak itu ditarik oleh seorang bapak tua dengan pakaian kumal seperti lusuhnya bentuk gerobaknya itu. Di dinding gerobak bagian luar bertuliskan "MILIK KAMI SATU-SATUNYA". Saya berasumsi tulisan itu diperuntukkan bagi gerobaknya yang merupakan harta mereka paling berharga. Sebab tak mungkin kalimat itu ditujukan bagi orang-orang di dalam gerobaknya. Karena penggunaan kata 'KAMI' sudah menjelaskan bahwa mereka lah pemiliknya. Sekali lagi saya tidak menghentikan kendaraan untuk sekedar bertanya.

Ketika saya hendak membeli tiket kereta api untuk kepulangan keluarga saya ke kampung halaman, di Stasiun Jatinegara tempat saya membeli tiket terpampang papan bertuliskan nama loket tersebut. Tulisannya membuat saya tersenyum-senyum. Menyebut kata EXECUTIVE atau dalam bahasa serapan ke Indonesia menjadi 'EKSEKUTIF', di papan tersebut bertuliskan kata tersebut menjadi 'EXEKUTIF'. Entahlah, mungkin salah dalam pencetakan sablonnya atau memang sudah terlanjur dibuat maka dipergunakan.
Tulisan yang salah atau tak diketahui artinya bagi saya sangat mengganjal. Itu akan mengolah seluruh kemampuan otak saya untuk menafsirkan yang tersurat maupun yang tersirat. Mudah sebenarnya dengan hanya tinggal mengabaikannya saja, namun saya selalu tergelitik untuk memikirkannya. Kelas BUMN saja bisa salah mengintepretasikan intelektualitas berbahasanya ke masyarakat pengguna jasanya.

Setelahnya melihat tulisan itu saya melaju ke tujuan lain. Cuaca panas dan saya butuh air minum segar. Maka menepilah di sebuah rombong pinggir jalan. Selain berjualan berbagai jenis rokok dan makanan ringan, rombong tersebut pula berjualan pulsa handphone. Kembali saya dibuat tergelitik dengan tulisan "JUAL PULSA ELEXTRIK." Kali ini saya tidak perlu menjabarkan kesalahannya karena saya yakin Anda telah tahu salahnya apa...

Bagi sebagian orang, kesalahan tulis bukan hal yang mencemaskan untuk dipublikasikan. Bagi saya itu sudah menjadi bentuk kesalahan yang membuat masygul karenanya. Pada tulisan saya sebelumnya di blog ini, saya membiarkan kesalahan itu terjadi. Di artikel saya berjudul SENDAL JEPIT DI BATAS SUCI saya menyebut SANDAL dan juga SENDAL. Juga SUBUH dan SHUBUH. Tujuan artinya tetap sama namun penulisannya yang berbeda. Padahal berbeda sedikit saja penulisannya maka bisa jadi akan berbeda arti. Tetapi saya telusuri tidak ada yang berbeda, maka saya gunakan saja. Karena sudah terlalu banyak distorsi pada penulisan kata-kata tersebut, maka saya membuatkan saja pilihan untuk dimaklumi. Semoga mahfum.

Juga judul artikel NARKOBA DAN NARSIS, saya menyebut nama tempat KARANGHANTU dan juga KARANGANTU. Dua tulisan itu saya buat untuk menerjemahkan mana yang bisa dipergunakan berdasarkan ejaan yang saya baca dan juga pengucapan yang saya dengar dari masyarakat sekitar.

Jakarta surganya berbagai pesan dalam bentuk tulisan. Otak kanan dan otak kiri terlatih jadinya melihat tulisan-tulisan tersebut. Dari tulisan di billboard, poster, leaflet, hingga produk-produk dari aksi vandal. Buat saya yang tukang keliling, tulisan-tulisan tersebut merupakan hiburan sepanjang jalan. Maka saya disadarkan tentang masa sejarah dan masa pra sejarah. Masa yang ditandai dengan sebelum dan mengenal tulisan. Sebab sejarah  valid terdeteksi oleh peninggalan tulisan. Sebuah tulisan Hieroglyph tak pernah salah tulis dan akhirnya dipecahkan artinya oleh para arkeolog. Atau malah tulisan berhuruf Pallawa, dapat dibaca tanpa harus menerka tulisan huruf yang salah.

Ketika Short Messages System (SMS) merebak dengan gaya penulisan disingkat-singkat, saya ditanya oleh owner perusahaan saya bekerja usai chat SMS dengannya. "Bahasa kamu gaul juga ya." Buat saya saat itu, ucapan atasan saya bukan hinaan, tetapi pujian. Sebab saya berhasil meyakinkannya kalau saya (dan tim saya) tepat mengelola tabloid remajanya dengan gaya bahasa khasnya. Di satu sisi, saya takut menjadi salah-satu perusak bahasa untuk generasi mendatang.

Bertemu dengan seorang teman asal Bima - Nusa Tenggara Barat, saya mendapatkan arti dari kata Piti yang berarti uang dan Pili berarti sakit. Entah Piti Pili yang dimaksud itu memang benar-benar berasal dari bahasa Bima atau bukan. Karena saya tidak pernah menggunakan jasa money changer tersebut dengan alasan kondisi keuangan saya sering sakit.

Sudahlah, ternyata tulisan-tulisan itu tidak hanya perkara makna, tetapi juga latar belakang penulisnya. Kita harus menerkanya sekaligus. Karena tulisan menunjukkan bahwa  kita adalah mahluk sejarah. Dan mahluk sejarah dewasa ini mudah dideteksi lewat kronologis akun jejaring sosialnya. Suatu fenomena yang mengingatkan saya dengan pendapat Theodore Adorno: "Sejarah ditulis oleh para pemenang..." Sebab status yang ditulis di akun jejaring sosial kerap tersembul perasaan ingin diperhatikan dan memenangkan perhatian lewat komentar atau sekedar mendapatkan LIKE. Sah-sah saja, sebab ada ruang eksistensi yang mengakomodirnya.

Uang sakit dan mahluk sejarah, sekali lagi saya dibuat berpikir. Apakah orang-orang yang 'sakit' karena uang dan dihebohkannya ia  pada situs-situs jejaring sosial serta-merta menjadi mahluk sejarah?  Sebab sepengetahuan saya dalam aksinya ia akan menghilangkan berbagai bukti tertulis untuk menghindari pelacakan. Cara paling jitu mengetahuinya adalah menangkap basah alias tertangkap tangan. Untuk kasus ini saya berpikir sedikit nakal memelesetkan pendapat Adorno dengan fenomena tulis-menulis dewasa ini: "Sejarah ditulis oleh para korban sejarah..." Saya rasa cukup relevan bagi pemilik akun facebook yang kritis melihat gejolak dan mengeksposenya.

Pada perjalanan keliling selanjutnya, saya melihat lagi tulisan-tulisan pada material promosi dan informasi yang saya tahu maksudnya namun ditulis berbeda: BENKLEDING; CERVICE HANDPHONE;  SANYANGI KESELAMATAN HINDARI KECELAKAAN; CETAK FOTO dari HP BLUTUT, CD-R, FLADIS, MMC, SKEN, POTO; HALTE PLY OFER; KUE FUKIS DAN PANCONG; TAKE THE BUS, NO IT'S WAY; SANKSI PIDANA PALING LAMA 6 (TIGA) BULAN -  UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NO.23 TAHUN 2007 TENTANG PERKERETAAPIAN; TATA TERTIP PENGUNJUNG; ISTIFAR; UNDER CONTRACTION; SIYOMAY; dan masih banyak lagi.  Lumayan buat tersenyum namun menohok persepsi saya. Sejarah dan tulisan saling terkait. Sejarah dan tulisan punya sifat yang sama. Mudah ditertawakan, diingat, diserap, dilupakan, disiniskan, dan dirindukan.

Itu pelajaran bagi saya sebagai penulis sekarang atau nanti. Huruf-huruf kapital yang dipergunakan dan salah tulis bagi saya adalah kelalaian intelektualitas menulis yang dibesar-besarkan. Sejarah tidak butuh itu.


Supported By