Sabtu, 02 Februari 2013

NARKOBA DAN NARSIS

Kawasan permukiman Karangantu. Mirip kanal buatan Belanda di Jakarta (Foto: Istimewa)
Kampung Karanghantu atau juga disebut Karangantu di daerah Serang-Banten bukan daerah menarik buat saya untuk dikunjungi. Namun karena penasaran dengan nama tempatnya, tak ada salahnya pula berkunjung ke sana. Kebetulan ada teman dan kebetulan pula bersedia dikunjungi.

Stasiunnya pada waktu itu mirip Stasiun Citayam. Tapi masih lebih bagus Stasiun Citayam yang menyediakan atap menghindari hujan calon penumpangnya dan memiliki emplasemen yang sejajar dengan pintu masuk kereta. Tetapi itulah keunikan dari Stasiun Karangantu tersebut. Jarak tempuh dengan kereta api ekonomi jurusan Jakartakota (Beos)-Merak berkisar 5 jam. Beda sejam waktunya dengan kereta Odong-Odong jurusan Jakarta-Purwakarta yang 4,5 jam.

Karanghantu adalah areal permukiman para nelayan. Bentuk tata ruangnya mirip kanal, yang air laut menyerbu jauh ke dalam daratan dan di tepiannya masing-masing terdapat permukiman para nelayan. Masih lumayan rapi di bagian depannya dan lumayan berantakan di bagian dalam perkampungan. Jika musim tengah kemarau, aroma kotoran manusia kadangkala bercampur dengan aroma laut. Menurut keterangan teman saya di situ, tradisi buang hajat di sembarang tempat masih marak.

Ah, tiba-tiba saya teringat Desa Karangtengah di Kebumen Jawa Tengah sana. Desa terpencil yang pula punya tradisi buang hajat sembarangan. Terletak di daerah perbukitan bertanah coklat dengan dasar kapur di bagian dalamnya, jika turun hujan merupakan anugerah bagi warganya mengumpulkan air tampungan. Jika musim kemarau, maka kesulitan air bersih melanda. Kebiasaan buang hajat sembarangan masih belum dipahami benar dampak bahayanya bagi kesehatan.

Stasiun Karangantu (Foto: Istimewa)
Begitupula yang terjadi di Karanghantu waktu itu. Untunglah saya menginap di salah-satu rumah di tepian kanal yang memudahkan saya buang hajat pada tempatnya. Karena di rumah-rumah di tepian kanal sudah dilengkapi kakus cukup baik. Maklum, rata-rata yang memiliki lahan di tepian kanal merupakan bos kapal yang tersandar miliknya di depan rumah mereka. Perekonomiannya lumayan ajeg.

Kapal-kapal tersebut tidak hanya diperuntukkan untuk mencari ikan di laut saja, tetapi juga dapat berubah fungsi menjadi alat angkut hasil bumi dan hasil hutan. Mereka mengoperasikannya tergantung pesanan penyewa kapalnya. Jika tak ada sewa, maka pemiliknya mengajak urunan nelayan lainnya untuk berbagi hasil mencari ikan. Operasional kapal tinggi, sedangkan tak beroperasi lebih tinggi lagi. Rata-rata pemilik kapal membuat kapal dari dana pinjaman, baik rentenir maupun bank.

Di Karanghantu pula impian saya tercapai. Setelah sekian lama melihat bagan-bagan di laut yang saya sendiri dulunya sempat bergidik jika merasakan berada di tempat itu, pada suatu kesempatan di Karanghantu ditawari oleh seorang pemilik bagan untuk turut bermalam di sana. Adrenalin saya berdesir keras, antara ragu dan mau. Akhirnya saya penuhi dengan penuh semangat. Teman-teman saya setempat mendukungku untuk ikut tetapi mereka tidak dengan berbagai alasan. Sudahlah, saya ikut!

***

Jenis-Jenis Narkoba (Foto:; Istimewa)
Ada beberapa teman baik yang meninggal dunia karena overdosis. Rata-rata teman baik saya itu bersikap baik-baik saja di lingkungannya. Mereka melakukannya di luar lingkungan rumah dan sekitarnya. Dalam hal kenakalan, bisa saya sebut relatif. Relatif karena setiap orang memiliki kenakalan yang menyebalkan. Indikator kenakalan kelewat batas bagi saya adalah yang sudah menyebalkan. Indikator lainnya adalah sangat menyebalkan. Ini biasanya jika orang tersebut sudah mencemari hubungan kami dengan memaksakan kebiasaan buruknya. 

Banyak pula teman baik saya yang keluar dari jerat ketergantungan narkoba dan sama sekali membenci menggunakannya lagi. Entah ada efek jera atau karena hanya sekedar tahu saja menikmatinya. Setidaknya teman yang ini pula lebih menginginkan hidup lebih riil ketimbang berhalusinasi. 

Halusinasi tetapi pula penting. Ketika saya membaca kisah Paratrooper Kompi E pada pertempuran Battle of Bulge di hutan Ardenes Belgia, saya terkesima dengan sosok Webster, seorang medis dari jajaran perawat Angkatan Darat Amerika Serikat yang berlari ke sana kemari tiapkali ada panggilan kesakitan prajurit. Meski perawat, bagi para prajurit yang bertempur kala itu ia lebih tepat dipanggil Doc, alias doctor. Kegiatannya tak lain adalah menyelamatkan prajurit yang terluka. Berbagai peralatan P3K siap di kantung dan tangannya. Salah satu obat alternatif yang terpaksa harus digunakan adalah morfin untuk menenangkan korban terluka ketika tengah dalam penanganannya. Dengan morfin, prajurit terluka dibuat kebas dan berhalusinasi seolah-olah ia dalam keadaan sehat wa'alfiat.

Bentuk Bagan Apung (Foto: Istimewa)
Meski saya anti menggunakan narkoba, tetapi tidak anti menguji adrenalin. Dan itu menjadi candu bagi saya. Ada semprotan deras dalam jantung saya ketika degupan dada makin keras. Pikiran saya pun dikuasai keberanian dan ketakutan dalam waktu bersamaan. Jika narkoba melahirkan perasaan ilusif, maka aksi menguji adrenalin melahirkan perasaan narsis. Bahwa diri saya mampu melawan apa yang dipikir tidak mampu. Bahwa saya pribadi mampu bersolek dengan keberanian dan menantang ketakutan.

Tetapi apakah keberanian itu sebenarnya? Buang hajat di sembarang tempat tanpa takut diintip orang lain atau diusir orang yang terusik baunya? Atau menggunakan narkoba dikala larangan dan sanksi keras menggunakannya siap menyergap? Yang saya tahu keduanya pasti tersedia adrenalin yang cukup untuk melakukannya. Dan ketika terbiasa, lama-kelamaan adrenalin tersebut hilang sensasinya dan berubah menjadi kebiasaan rutin.

Di salah satu rumah penduduk di desa Karangtengah, sebuah selebaran panggilan dan sanksi tertempel. Penghuninya dipanggil lurah setempat untuk dikenakan sanksi karena tertangkap basah buang hajat sembarangan. Tersangka dihukum menulis sebanyak tiga lembar kertas folio dengan kalimat yang sama: "Saya tidak akan mengulangi lagi buang hajat di sembarang tempat mulai saat ini." Mungkin bagi kita yang berpendidikan, jangankan untuk menuliskan kalimat sanksi tersebut berkali-kali sebanyak tiga folio, buang hajat di sembarang tempat pun sudah merupakan bentuk meremehkan diri kita sendiri. Namun bagi warga yang kena sanksi tersebut, merupakan efek jera paling menyebalkan seumur hidupnya. Usianya yang manula harus meminta bantuan anak sekolah dasar menunjukkan cara menulisnya sambil ditonton petugas kelurahan dan masyarakat yang menyaksikannya. Buta hurufnya dan tontonan masyarakat sangat tidak menyenangkan.

Di bagan apung, semula saya berpikir akan menghabiskan seluruh malam dengan memancing dan membantu pemiliknya menggulung jala. Sebuah pengalaman mengasyikkan memanen ikan di laut. Dan itu hanya beberapa jam saja. Setelah itu saya harus menerima nasib terhuyung-huyung dan muntah-muntah karena mabuk laut akibat ombak-ombak besar menampar kaki-kaki bagan apung. Sayur Labu dan telur dadar yang semula akan menjadi makan malam menyenangkan, tak kusentuh sedikit pun. Saya hanya tengkurap tak berdaya di gubuk bagan apung, berhalusinasi pagi tiba lebih awal dan berhalusinasi ada tukang ronde atau tukang bakso lewat untuk menyegarkan diri. 

Dan kejadian itu membuat saya sadar akan perasaan teman-teman yang berhasil melepaskan diri dari jeratan candu narkoba. Bahwa kesenangan yang diharapkan tak sama dengan apa yang dialaminya kelak. Ketika tahu rasanya, maka mereka berusaha kembali ke sediakala. Begitupula saya. Jika ditawari bermalam sekali lagi di bagan, saya akan pikir ulang berkali-kali untuk mengiyakan.

Sesampainya didarat, tetap saya tak ingin kehilangan muka ditanya kesan bermalam di bagan. Saya bilang everything it's okay! Biar, biar mereka tak tahu apa yang terjadi dengan saya kala malam itu di bagan. Saya narsis menunjukkan keberanian diri kepada mereka yang tengah mengelu-elukan kehebatanku berani bermalam di bagan apung di musim angin barat dimana ombak laut tengah besar-besarnya.  

Pantas saja mereka tak ikut. Rupanya mereka tahu tengah musim angin barat...    


Supported By