Senin, 04 Februari 2013

MATA IKAN DAN LAMPU PETROMAX

Foto: Istimewa
Pasar Kramat Jati memang unik di dini hari. Pedagang memenuhi badan jalan dan menyisakan rongga jalan untuk satu mobil saja pada masing-masing ruasnya. Karena beraksi di tengah malam hingga dini hari, kemacetan bukan masalah pelik. Paling-paling nestapa kala musim penghujan datang. Karena mereka hanya bertendakan terpal plastik agar memudahkan waktu membongkar kiosnya. Maklum, jam tayang jualan mereka hanya berbatas hingga pukul 4 subuh saja. Setelah itu mereka harus mengembalikan fungsi awal jalan raya.

Sebelum seperti saat ini dimana penerangan mereka menggunakan lampu neon listrik, lampu petromax menjadi andalan penerangannya. Seingat saya rata-rata tanki minyak tanahnya dicat minyak warna biru. Bukan menunjukkan keseragaman tetapi memang pemilik lampu petromax tersebut hanya segelintir saja. Bisnis lampu petromax menjanjikan kala itu di kalangan pedagang Pasar Kramat Jati dini hari dengan cara menyewanya. Pijaran lampunya yang jauh lebih baik dari lampu sentir membuat suasana Pasar Kramat Jati dini hari memiliki eksotika malam tersendiri. Sebuah peradaban pasar tradisional di kota besar. Kota Jakarta yang sejak dulu terkenal tak pernah tidur.

Foto: Istimewa
Di Desa Tanjungkerta Kuningan Jawa Barat, sebuah perkampungan yang berada di kaki gunung Ciremai, lampu petromax sudah menjadi tradisi penerangan malam hari. Listrik belum masuk desa tersebut. Kira-kira 22 tahun silam saya singgah di sana. Saya terbiasa butuh kegelapan untuk tidur. Karena dengan gelap, mata tak fokus mencari sasaran yang memfungsikan otak untuk bekerja lagi. Namun situasi kegelapan kampung tersebut rupanya mengubah kebiasaan  saya itu. Kegelapan menjadi menakutkan, dan lampu petromax seperti tak cukup untuk membenderangi kamar tempat saya menginap saat itu. Terutama ketika bunyi Tokek bersahut-sahutan dari rumah satu ke rumah lainnya di jam-jam tertentu. Saya berharap saat itu Tokek menjadi barang komoditas yang diburu orang hingga habitatnya punah.

Di salah satu desa di Banjarnegara Jawa Tengah, saya head to head dengan Tokek. Masih pula belum dimasuki listrik hingga lagi-lagi lampu petromax menjadi pencahayaan ruangnya. Tokek itu hanya beberapa centimeter dari wajah saya yang tidur terlentang di kursi panjang yang menempel dinding rumah. Antara mendiamkan atau meloncat menjadi keputusan saat itu. Sesaat melihat, Tokek tersebut mulutnya tengah ngganyem alias mengunyah. Setelahnya ia diam lagi. Kedua matanya yang tak sinkron itu seolah mencari-cari lagi. Rupanya nyamuk yang tak kugubris kehadirannya karena kelelahan, menjadi santapannya. Entah sudah nol koma sepersekian cc darahku dihisap oleh nyamuk-nyamuk santapannya. Sejak saat itu setidaknya saya sudah cukup mengenal baik tentang Tokek yang saya pikir sebelumnya binatang menyebalkan. Saya menarik harapan saya dulu terhadap Tokek dan berdoa agar Tokek tetap lestari.

***

Virus HPV (Foto: Istimewa)
Clavus, atau lebih dikenal mata ikan atau caplak merupakan penyakit kulit menyebalkan. Ia berasal dari virus HPV - Human Papilloma Virus yang kerap menyerang telapak kaki karena merupakan bagian tubuh paling sering berkoneksi dengan berbagai jenis material. Awalnya seperti bisul renik dengan bagian dalamnya terdapat bintik warna hitam. Mirip mata ikan. Lama kelamaan jika dibiarkan maka akan membesar dan berakar. Mata ikan yang saya miliki saat itu sudah membuat lubang di telapak kaki bagian ujung di bawah jari kaki. Di dalamnya terdapat akar-akarnya. Diameter lubangnya kira-kira 3-4 milimeter, sedangkan dalamnya berkisar 2-3 milimeter. Sangat mengganggu. Terutama kala kaki lembab. Gatal-gatal sering mendera. Upaya menggaruk tak cukup, kadang-kadang saya harus mengkeset-kesetkan bagian mata ikan itu pada lantai yang kasar. Agar cepat hilang rasa gatalnya.

Ketika tak berulah, saya sering melakukan operasi kecil-kecilan pada mata ikan saya itu. Menggunakan pinset atau pencabut uban. Bahkan peniti hingga jarum. Ada rasa penasaran ada apa di balik akar tersebut. Namun seringnya berdarah dan saya biasanya akan menghentikan tindakan tersebut. 

Di Desa Tanjungkerta saya mendapatkan solusi dari membasmi Clavus tersebut. Sebenarnya idenya tidak spontan, tetapi berliteratur dari pengalaman film Rambo yang mengobati luka tembak di perutnya dengan menggunakan mesiu dan membakarnya untuk mematikan kuman setelah peluru berhasil diambil. Efek pengobatannya memang menyakitkan, namun setelahnya cukup memuaskan. 

Sewaktu kecil saya pernah terkena luka kecil habis bermain. Dan pula dulu saya sangat suka main bakar-bakaran dengan spirtus atau spiritus. Jika diguyur di kulit, maka dinginnya merambat. Namun spirtus adalah bahan bakar, yang antara lain terbuat dari fermentasi tetes tebu. Kerap dipakai untuk menyalakan lampu petromax. Ditaruhnya di cawan di bawah sarung lampunya. Digunakan untuk membakar, lantas apinya merambat ke sarung lampu tersebut. Masa pendudukan Jepang di Indonesia herannya tidak mengembangkan spirtus ini menjadi bahan bakar kebutuhannya, justru malah menggalakkan menanam pohon Jarak yang pada akhirnya tak sukses. Padahal sumberdaya penghasil bahan baku spirtus tersedia banyak dari pabrik gula-pabrik gula yang didirikan Belanda dan notabene sudah tersedia dan siap memproduksi saja. Mungkin gula masih jauh lebih menguntungkan ketimbang menggantinya dengan memproduksi spirtus. Toh, Balikpapan menjadi sasaran utama Jepang sebagai penyedia bahan bakar mesin perangnya di kawasan Asia Timur Raya. 

Saya meringis ketika luka kecil saya tersiram spirtus yang saya mainkan. Sejak itu luka saya langsung mengering dan hilang sama sekali. Karena keinginantahuan masa kecil saya besar, maka beberapa bulan kemudian saya mengguyur beberapa tetes spirtus ke tangan kiri saya lantas saya nyalakan api. Tentu terbakar tangan saya itu namun tidak membuat perih, tetapi meninggalkan bekas hingga saat ini. Eksperimen selesai. Sekedar tahu saja.

Tentang spirtus yang mampu menyembuhkan luka, maka saya melakukannya untuk Clavus yang saya idap. Sewaktu tengah menyalakan lampu petromax jelang Maghrib, saya mengguyurnya beberapa tetes spirtus ke Clavus saya itu dan menghasilkan kesakitan yang hebat beberapa menit. Setelahnya hilang kesakitan itu sama sekali. Beberapa hari kemudian Clavus saya mengering dan beberapa bulan kemudian hilang tak berbekas. Dan saya tidak sarankan ini dilakukan oleh Anda.

Clavus sama halnya dengan rangen atau kutu air. Sama-sama dituding penyakit kampungan. Dan saya hanya bersyukur pernah mengalami penyakit itu dan berhasil mengobatinya. Tidak lebih, tak mau lagi. Sebab seiring pengetahuan saya bertambah, HPV punya jenis beragam. HPV yang saya alami merupakan risiko rendah yang kurang membahayakan namun harus tetap ditangani. Sedangkan HPV risiko tinggi rupanya meningkat menjadi penyakit berbahaya yang rata-rata menyerang kelamin.

Biarlah saya pernah punya penyakit kampungan. Sebab punya penyakit kota jauh lebih berbahaya. Tetap sehat ya!




Supported By