Rabu, 06 Februari 2013

INTEPRETASI MIMPI

Foto: Istimewa
Saya sering menghindari keriuhan. Buat saya keriuhan menempatkan saya pada kesunyian. Kesunyian tak berpengetahuan apa-apa tentang bagaimana keriuhan itu bisa diciptakan dan tercipta bagai magnet yang menyedot sekitaran. Seperti kala di kota Kediri tahun 2001 ketika saya membawa calon artis untuk dipentaskan di sana. Di lobby hotel, seorang lelaki berpenampilan agak kemayu hilir-mudik ke meja receptionist. Rupanya tengah menanyakan nomor kamar model yang saya bawa. Itu terjadi di siang hari.

Malamnya, kamar kami diketuk. Saya membukanya. Melihat lelaki berpenampilan kemayu itu menyergah jabatan tangan saya lalu melintas masuk dengan pura-pura menyapa model-model saya begitu akrabnya. Saya tanyakan tegas ke para model dan mereka berbisik tak kenal. Saya mulai melakukan tindakan protektif. Membatasi waktunya berlama-lama di kamar kami. Ia pun undur diri dan esok janji akan memberikan sesuatu yang mengejutkan.

Keesokannya, plaza penuh sesak dengan kerumunan. Terutama di wilayah atriumnya. Panggung dengan lighting tak semewah venue-venue pertunjukan di Jakarta cukup membuat debaran dada para penontonnya berdegub kencang. Mereka tidak peduli dengan tata panggung. Mereka peduli dengan pengisi acara panggung, yakni model-model saya.

Saya membiarkan hingar-bingar terjadi sambil mengabadikan gambar-gambar peristiwa tersebut. Beberapa penonton histeria hendak naik panggung namun ditangkal oleh satpam plaza tersebut. Saya menyaksikan betapa panggung adalah dunia mimpi dan dunia fantasi para penonton. Terlebih ketika pengisi acaranya dielu-elukan oleh mereka. Dunia prestisius yang tak hanya digemari calon artis dan artis sudah jadi. Dan panggung politik pun ikut siap saji. 

***

Sutan Sjahrir (Foto: Istimewa)
Presiden PKS Muhammad Anis Matta akan melakukan perjalanan keliling setelah menggantikan posisi yang sebelumnya diduduki oleh Luthfi Hasan Ishaaq yang diduga tersangkut kasus korupsi impor daging Sapi oleh KPK. Saya tidak ingin membahas kasus ini. Tetapi malah teringat akan buku bacaan saya yang mengungkap sedikit tentang 'coup diam-diam' Sutan Sjahrir setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. 

Presiden Soekarno yang tengah melakukan perjalanan keliling dipanggil oleh Wakil Presiden Hatta untuk membahas masalah Dwi-tunggal mereka yang seolah-olah tengah pecah karena ada kubu selain mereka yang saat itu muncul yakni kubu Sutan Sjahrir-Amir Sjarifoeddin.  Hatta konon memanggil kabinet di bawah pimpinan Sjahrir dan dirinya bersama Soekarno menyatakan bahwa kabinet Sjahrir-Amir adalah kabinet yang sah.  

Sjahrir dan Hatta memiliki kesamaan latar-belakang yang sama-sama didikan dunia barat. Ketika KNIP dibentuk Sjahrir untuk 'tandingan' jalan Pegangsaan (tempat Soekarno-Hatta berada), ia mendapat restu dari Hatta untuk menjadikan KNIP berstatus sama dengan MPR. Soekarno tidak mengiyakan pula tak menolak hal itu. Namun ketika Soekarno tengah keluar kota, Hatta menandatanginya secara sepihak tanpa menunggu persetujuan Soekarno. 

Sjahrir menjadi perdana menteri dan Soekarno tetap menjadi presiden. Pemerintahan ditangani perdana menteri dan negara dipimpin presiden. Karena pemerintahan telah ditangani Sjahrir maka Soekarno memfokuskan diri pada kepemimpinannya dalam revolusi.  

Empat hari setelah Sjahrir menjadi perdana menteri, ia mengeluarkan tulisannya yang berdasarkan keterangannya adalah maklumat pemerintahannya. "Pada waktu negara Indonesia yang merdeka didirikan, pimpinan hampir seluruhnya dipegang oleh mantan pembantu dan pejabat zaman Jepang. Hal ini menjadi kendala untuk membersihkan masyarakat dari penyakit Jepang, yang menjadi bahaya maut bagi kaum pemuda." Begitu salah-satu petikan tulisannya.

Maklumat itu menyakitkan perasaan. Sebab Soekarno mengusahakan kemerdekaan sebelum proklamasi, bekerjasama dengan Jepang sesuai dengan janji Jepang pada waktu itu.   Hingga pada akhirnya proklamasi pun diusahakan sendiri oleh bangsa Indonesia. Meski demikian Soekarno memiliki pendapat apa yang dilakukan Sjahrir sama halnya dengan dirinya, yakni tujuan Indonesia untuk mencapai pengakuan internasional. Soekarno sadar Sjahrir dianggap lebih mampu menjalankan perundingan dengan pihak Belanda dan Inggris. Peristiwa Surabaya 1945 yang menurut Inggris gagal diredam oleh Soekarno, membuahkan hilangnya kepercayaan Inggris terhadapnya. Inggris mencari figur lain yang memiliki pengaruh di rakyat Indonesia. Sjahrir lah orangnya.

Namun Sjahrir membuat blunder terhadap kaum militer dengan menyudutkan peran militer Indonesia yang dianggapnya sebagai fasis dan militeris. Kerjasama perjuangan diplomasi dan militer menjadi berjarak karenanya. Dan itu faktor penentu cikal-bakal kejatuhan Sjahrir di kemudian hari dan diselamatkan ia oleh Soekarno.


Pada pertanggungjawaban keputusan Hatta menandatangani sendiri KNIP sebagai kabinet sah yang terkenal dengan Keputusan Presiden X, Hatta mengungkapkan bahwa keputusannya menjadi keputusan yang lainnya. Sebagaimana prinsip dari dwi-tunggal yang waktu itu disepakati. 



***

Tan Malaka (Foto: Istimewa)
Sjahrir tidak berniat merebut jabatan presiden dari tangan Soekarno. Tetapi Tan Malaka mencobanya. Ia mengaku menyesal tidak ikut serta dalam mengurus proklamasi kemerdekaan RI. Sesudah Jepang kalah, Tan Malaka meninggalkan persembunyiannya di Banten menuju Jakarta. Tan Malaka yang waktu itu memakai nama samaran Abdulradjak bertemu dengan Soekarno atas bantuan Soebardjo dan membuka samarannya. 

Soekarno terpesona dengan senioritas Tan Malaka yang telah ia kenal sejak masih duduk di bangku sekolah. Kedatangan Tan Malaka mendengungkan tentang revolusioner internasional dan membuat Soekarno terkesima dengan pemikirannya. Maka tercetus kata-kata Soekarno kepada Tan Malaka. "Andaikata saya tidak lagi bebas bertindak, maka kepemimpinan revolusi ini saya serahkan kepada Anda." 


Soebardjo, ayah angkat Tan Malaka dan calon menteri luar negeri kabinet presidensiil itu membisiki Tan Malaka untuk membuat tawaran Soekarno tersebut hitam di atas putih. Soekarno membuatkannya namun tidak disepakati Hatta. Surat wasiat politik itu sulit untuk ditarik mandatnya karena merasa berjanji dengan 'seniornya' itu. Hatta membuat jalan keluar untuk menulis empat orang ahli waris, termasuk di dalamnya Tan Malaka, Sutan Sjahrir, Iwa Koesoemasoemantri,  dan Wongsonegoro.


Surat wasiat itu menjadi perangsang Tan Malaka untuk mencari jalan sendiri. Sjahrir diajak berkonspirasi dengannya untuk mengambilalih kekuasaan Soekarno. Tan Malaka akan menjadi presiden dan Sjahrir tetap menjadi perdana menteri. Sjahrir menolak halus dengan menantang Tan Malaka mendapatkan popularitas 10% Soekarno. Jika ia mendapatkannya maka Sjahrir akan bergabung. Tan gagal mendapatkannya karena ia begitu lama hidup dalam penyamaran.  Perjalanan kelilingnya tersebut sambil membawa surat wasiat dari Soekarno yang ketiga nama selain dia telah dihapus. Serta memberi kesan seolah-olah Soekarno dan Hatta telah menjadi tawanan Inggris di Jakarta dan tak bebas bertindak.


Kesan yang dilahirkan Tan Malaka itu dijawab Soekarno dengan melakukan perjalanan keliling meski kondisi negara tengah rawan pada akhir 1945. Soekarno membuktikan masih bebas bergerak dan tetap diminati dan dielu-elukan.



***


Foto: Istimewa
Kebebasan saya sebagai peliput terusik ketika beberapa orang menghampiri dan mengelu-elukan secara histeris saya. Rupanya mereka salah orang. Dipikirnya saya seorang artis juga yang tengah berada di backstage. Meski demikian saya tidak bangga atau antusias membiarkan mereka salah terka tentang diri saya. 

Kembali saya teringat buku bacaan favorit saya, The Intepretation of Dream karangan Sigmund Freud tentang hal tersebut. Buku itu pula membuat asistennya Carl Gustav Jung mengundurkan diri. Sebuah mimpi bukan bentukan dan manusia bukan mesin. Jung berkilah tentang pendapat Freud. Dan nahas Freudian telah menjadi dogma di masyarakat. Hingga pada akhirnya ideologi bukan melulu soal ketulusan, tetapi kebutuhan yang harus diasup terus-menerus. Semoga tak bermimpi karena diminta, tetapi bermimpilah dengan segala ketidaksadaran. Itu yang hakiki dan mewujudkannya adalah hakekat.  


Supported By