Rabu, 06 Februari 2013

EMPATI TIKUS

(Foto: Istimewa)
Saya tidak bercita-cita menjadi pemburu. Bermula dari rasa kesal banyak dagangan ibu disabot Tikus, maka saya menabung dan patungan dengan adik membeli senapan angin. Karena Tikus memiliki insting yang luar biasa terhadap ancaman. Ia selalu menerjunkan satu ekor advance sebelum keseluruhan anggotanya keluar dari lubangnya. Dan diberi durasi. Jika ia tidak kembali ke lubang dalam kurun waktu tertentu yang ditetapkan, maka seluruh anggotanya harus mengurungkan niatnya keluar lubang. Maka saya akan memburunya dengan tetap menjaga jarak yang ia rasa aman. Dan saya leluasa mengancam.

Sebelum memiliki senapan angin, pernah berjam-jam saya duduk diam sambil membawa tombak buatan sendiri yang ujungnya diberi paku besar diikat di bekas gagang sapu patah. Saya dan Tikus beradu insting. Insting Tikus itu bersembunyi di balik kardus mie instant dagangan. Saya tahu itu. Mata saya dibuat harus mengurangi kedipan. Sebab saya mengincarnya, tak boleh luput dari pengawasan. Lampu sengaja dimatikan untuk menghilangkan keberadaan saya yang dapat diamati Tikus tersebut. Dalam pengamatan saya itu, Tikus bergeming dalam persembunyiannya. Hanya suara nafasnya saja yang masih bisa saya dengar. Untuk berbuat lebih dari itu semisal memporak-porandakan persembunyiannya, maka saya akan kalah cepat. Biar, saya dan Tikus itu harus adu kuat berdiam diri. Walaupun akhirnya Tikus itu luput dari sergapan saya sambil membawa luka tusukan tembus paku besar.

Di lain waktu setelah kejadian itu, saya mendengar ada sedikit kegaduhan khas yang dibuat Tikus. Serta merta saya melompat dari duduk dan menyerbunya. Lampu saya nyalakan. Tikus itu tengah berada di ember beras, terkaget dengan kehadiran saya. Saya mencari-cari senjata yang dapat membunuhnya, Tikus itu hendak melompat, lantas dengan cekatan saya mengambil kayu penakar literan beras kemudian memukulnya berkali-kali ke tubuh Tikus itu hingga kemampuannya melarikan diri melemah. Akhirnya mati.

Sejak itu saya memaklumatkan diri sebagai Mouse Hunt alias pemburu Tikus. 

(Foto: Istimewa)
Saya berlatih keras dengan kertas target. Hingga lebih dari 5 kotak mimis senapan angin habis sehari. Saat itu per kotak peluru senapan angin atau sering disebut mimis harganya antara Rp 750 - Rp 1000. Dari mimis yang berujung tajam hingga berujung dandang. Keduanya saya pelajari efektifitas membunuhnya. Mimis tajam membuat luka besar saat masuk ke tubuh Tikus lantas terpendam di dalam. Sedangkan mimis dandang atau berujung tumpul tidak merusak tubuh kala masuk, tetapi justru pada saat keluar. Mimis dandang cenderung tembus jika hanya mengenai bagian lunak tubuh. 

Kemudian saya pelajari titik-titik kematian paling efektif pada tubuh Tikus berikut jarak tembaknya. Pada jarak 20 meter ke atas, saya harus rela melihat penderitaan kematian Tikus yang cukup lama karena sasaran tembak dengan kemampuan tembak senapan angin saya tersebut, presisinya tak bisa dipertanggungjawabkan keakurasiannya. Saya membidik kepala, yang kena perut. Saya menembak perut, yang kena bokong. 

Dari sekitaran rumah hingga akhirnya sekitaran kampung. Dalam semalam saya menarget minimal 13 Tikus dengan asumsi bentuk kesialan Tikus yang bertemu saya. Target itu terpenuhi pada setiap perburuan. Tempat sampah umum selalu ada bangkai Tikus jadinya. Bahkan ketika menggenjot target maksimal, saya berhasil mencapai pembantaian 27 Tikus dalam kurun dua jam setengah saja. 

Tahun 2002, banjir lima tahunan terjadi. Isu pasca banjir tentang penyakit Leptospirosis yang berasal dari air seni Tikus mencemari kesehatan manusia merebak. Tikus disayembarakan untuk didapat bangkainya sebanyak-banyaknya. Sayembara itu menjanjikan per ekor Tikus dihargai antara 1000 - 3000 rupiah. Pemrakarsanya tak tanggung-tanggung. Kelurahan siap menampung bangkai Tikus dan membayarnya. 

Sejak itu tiap berburu Tikus saya menjadi tak sendiri lagi karena keikutsertaan peserta sayembara tersebut. Saya dan Tikus naik daun. 
    
***

Bung Tomo (Foto: Istimewa)
Pergolakan Surabaya tahun 1945 menjadi mencekam. Pasukan Inggris yang mendaratkan tentara Gurkha berjumlah 4000 orang bertugas mengkapitulasi dan melucuti persenjataan Jepang yang kalah perang di Indonesia. Padahal dua puluh ribu lebih pucuk senjata api dan lebih dari seribu senapan mesin Jepang berhasil dirampas oleh para pemuda. Bahkan dua ribu kendaraan, beratus-ratus senjata mortir, artileri, tank dan senjata anti tank Jepang berhasil direbut pula. Komandan Angkatan Laut Shibata menurut keterangannya sendiri tidak memiliki pilihan lain  menyerahkan peralatan tempurnya itu karena jika tidak menyerahkannya maka penduduk sipil Jepang dan Belanda di Surabaya akan dihabisi.

Para pemuda mawas diri dengan kehadiran NICA yang sudah bersiap-siap di Australia untuk turut kembali ke Indonesia. Pasukan Inggris tersebut dipimpin oleh Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby. Ia harus berhadapan dengan gerombolan pemuda marah akan kedatangannya yang dikira turut di dalamnya NICA  Belanda. Gerombolan pemuda marah yang melebihi jumlah pasukan Mallaby dipimpin oleh Moestopo, seorang dokter gigi yang mengangkat dirinya sendiri sebagai komandan tentara Republik Indonesia di Surabaya.

Pendaratan Inggris tersebut sukses tanpa perlawanan, oleh karena pihak pemerintah RI di Jakarta menginstruksikan larangan penyerangan. Namun ditanggal 27 Oktober 1945 pesawat terbang Inggris di atas langit Surabaya menghujani selebaran dan pamflet berisi anjuran menyerahkan senjata. Raungan mesin pesawat Inggris di udara Surabaya tidak kalah sengit dengan ucapan Bung Tomo yang berapi-api membuka kedok Inggris sebagai kaki tangan NICA. Bung Tomo menyerukan untuk melawan Inggris.

(Foto: Istimewa)
Tidak mudah bagi saya menggambarkan situasinya waktu itu. Namun ketika menyimak perlawanan rakyat Somalia terhadap raid ranger Amerika Serikat di film Black Hawk Down, begitulah kiranya perlawanan yang dapat saya pikirkan tentang masa yang digambarkan Lambert Giebel di bukunya: Soekarno, Biografi 1901-1950. Mallaby dalam tugasnya itu memerintahkan pasukannya bertindak polisionil bukan militer. Kesatuannya dipecah-pecah menjadi peleton. Tentara Inggris - India dibuat tunggang-langgang dengan kondisi perlawanan rakyat yang mencapai jumlah ratusan ribu orang. Sebagiannya bersenjatakan rampasan Jepang, sebagiannya bersenjatakan pisau, tombak, kapak, dan bambu runcing. 

Tentara Inggris yang berhasil lolos dari serbuan massa yang mengamuk, bertahan dalam lima gedung yang tersebar di pusat kota. Di sana mereka berusaha menangkis serbuan ribuan massa Surabaya. Mallaby khawatir pasukannya akan dihabisi, maka ia menelepon Christison di Jakarta untuk membantu meredam pergolakan tersebut. Christison meminta Presiden Soekarno menenangkan rakyat Surabaya. Bersama Wakil Presiden M. Hatta dan Amir Sjarifoedin, Presiden Soekarno menyambangi rakyat Surabaya yang tengah bertempur. Ketika roda pesawat masih menggelinding di landasan, riuh terdengar hujan peluru yang disasarkan ke pesawat. Setelah pesawat berhenti, Presiden Soekarno keluar lebih dulu sambil melambaikan bendera putih atas desakan Hatta dan Amir. Lantas disambut para penembaknya dengan teriakan-teriakan merdeka atau mati. Pertemuan ini dari pihak Inggris diwakili oleh Hawthron. Efek proklamasi kemerdekaan dan semangat merdeka terasa menderu sanubari pemuda Indonesia di Surabaya  1945 kala itu.

Moestopo (Foto: Istimewa)
Ketika kesepakatan gencatan senjata disepakati dengan Gubernur Jawa Timur Soerio yang republik fanatis, Amir memanggil beberapa pemimpin pemuda untuk menghadiri perundingan keesokan harinya dengan Mallaby dan Hawthron. Moestopo yang dijuluki 'komandan kota' pula hadir dengan baju serba hitam hingga wajahnya pun ditutupi syal warna hitam. Hatta meminta keterangan dan pertanggungjawaban tindakan lelaki berselubung hitam tersebut tentang aksinya melawan Inggris di Surabaya. Moestopo membalikkan kata-kata yang pernah diucapkan Hatta dan berbicara lantang bahwa setiap orang harus lebih suka mati berdiri daripada membiarkan diri dijajah lagi.

Hatta putus asa mendengar jawabannya tersebut, khawatir perundingan gencatan senjata tak akan sukses. Secara politik, perundingan merupakan senjata perjuangan. Bagi kaum militan, mengangkat senjata dan bertempur lah merupakan perjuangan. Kemudian Hatta bertanya pada Soekarno apa yang harus dilakukan terhadap Moestopo itu. Karena perjuangan kemerdekaan Indonesia dilakukan dengan dua cara: perundingan dan angkat senjata. 

Soekarno memutuskan mengangkat Moestopo menjadi jenderal lantas serta merta pula menyuruhnya pensiun saat itu juga.

***

Saya jadi teringat dengan kisah dongeng The Pied Piper of Hamelyn. Tentang seorang pemuda peniup seruling penghalau Tikus di desa Hamelyn. Meski bukan cerita favorit saya, tetapi ada yang membuat saya selalu bertanya-tanya tentang suara yang dihasilkan Tikus sekarat karena keberhasilan bidikan saya mengenai lehernya. Pada saat meregang nyawa, Tikus itu mengeluarkan semacam bunyi yang panjang tanpa henti. Saya menyimaknya dan untung saat itu sepi. Suara itu seperti peluit Anjing yang ditiup panjang-panjang.

Setelahnya, wilayah tersebut sepi Tikus. Berkali-kali saya mondar-mandir dari lubang satu ke lubang lainnya yang biasa saya sambangi, tak ada penampakan. Keesokan harinya pun demikian. Tikus-Tikus tak keluar sarang. Di hari keempat barulah saya menemukan aktivitas Tikus mencari makan lagi.

Mendapat pengalaman itu saya tertarik mempelajari tentang perilaku Tikus. Pastinya secara permukaan untuk sekedar tahu. Sebab saya tidak bercita-cita menjadi Profesor Tikus yang sebenarnya menjanjikan sebagai profesi di masa depan seiring ledakan penduduk serta pola hidup tak sehat manusia. Tikus ternyata memiliki meta kognisi yang tak dimiliki oleh binatang lain. Tikus mampu mengungkapkan perasaan empatik (berusaha memahami perasaan yang dirasakan lainnya) dan altruistik (mementingkan kepentingan bersama ketimbang kepentingan sendiri).

Dari perilaku Tikus tersebut, maka saya membeberkan sekelumit kisah dr. Moestopo mendaulat dirinya sebagai komandan. Ia bertindak demikian bukan karena ingin mencari popularitas atau berambisi menjadi pemimpin, tetapi lebih karena ia ingin menjadi seorang advance atau pelopor dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia kala itu khususnya di Surabaya. Dengan kata lain dr. Moestopo berinisiatif membangun kekuatan yang memotivasi siapapun untuk turut bersama mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamirkan.

Presiden Soekarno melakukan hal demikian semirip dengan perlakuan Ratu Wilhelmina terhadap Van Mook yang tidak gegabah begitu saja menghentikan seseorang yang tengah memegang kendali kekuasaan di tanah Hindia Belanda. Mengangkat dr. Moestopo menjadi jenderal lantas memensiunkannya merupakan tindakan empati Presiden Soekarno tetapi win-win solution. 

Manusia dan Tikus akan terus berdampingan sampai kapanpun. Dimana ada manusia, di situ ada Tikus. Bahkan Tikus menurut Profesor Neurolobiologi Peggy Mason PhD, ditemukan  pola emosi dari empati, dan memiliki perilaku menolong sangat aktif, ekspresif dan jauh lebih kompleks dari empati. Sifat tersebut pula notabene dimiliki manusia. "Ketika kita bertindak tanpa empati, maka kita bertindak melawan warisan biologis kita," ujar Peggy Mason PhD.       

Melihat lima Tikus bergelimpangan di depan lubang mereka, membuat saya menghentikan perburuan terhadap mereka untuk selama-lamanya. Sebab Tikus kedua hingga kelima merupakan korban bidikan senapan angin saya ketika mereka tengah mengitari dan mengendus kebingungan Tikus pertama yang telah mati. Saya menghabisi mereka sekaligus ketika mereka berupaya memberi bantuan terhadap rekannya yang ditembak saya lebih dulu.




Supported By