Selasa, 29 Januari 2013

SUGAR EXPERIENCES

Ketika pulang mudik ke kampung halaman di Sukoharjo – Jawa Tengah, keinginan saya terusik untuk singgah di Pabrik Gula Tasikmadu Karanganyar Jawa Tengah atau lebih dikenal dengan Sandokoro. Ini berawal dari cerita ipar yang pernah tandang ke situ dan mendapatkan foto-foto eksotis tentang obyek-obyek yang ada di situ.

Di era 80-90-an, khayalan saya selalu terusik jika melihat cerobong tua menjulang tinggi sebuah bangunan pabrik yang saya lintasi dalam perjalanan luar kota. Ada eksotika tersendiri serta kearifan tentang menjaga lingkungan sekitarnya serta sejarah masa lalunya. Sayang, cerobong-cerobong tersebut sudah tak ada lagi kini. Namun di Sandokoro, kembali saya melihat keberadaan cerobong menjulang tersebut.  

Pertamakali membayangkan bagaimana mungkin dibuat cerobong setinggi demikian yang rata-rata berkisar antara 50 – 100 meter hanya untuk membuang asap pembakaran? Seperti pabrik kapur saat ini yang rata-rata cerobongnya hanya berketinggian maksimum sepuluh meter saja yang kerap saya temui di daerah Tegal, polusinya mencemari daerah sekitarnya. Sepengetahuan saya, cerobong asap adalah struktur bangunan yang digunakan untuk ventilasi panas dari gas buang dalam bentuk asap dari boiler atau tungku atau perapian. Dibuat secara vertikal agar aliran gas buang lancar, serta menarik udara ke dalam ruang pembakaran atau pula disebut sebagai efek stack.

Secara tradisional, cerobong asap dibangun dengan menggunakan material sederhana yakni batu bata. Kemudian seiring perkembangan teknologi dan zaman, cerobong lantas dibuat dalam berbagai material seperti besi dan logam lainnya. Penggunaan cerobong pada awalnya diduga muncul di Roma dalam bentuk tabung di dalam tembok untuk menarik asap keluar dari toko roti. Di abad ke-12, Eropa Utara sudah secara nyata menggunakan cerobong dalam bentuk vertikal. Kemudian di era industri yang mulai muncul di abad 18, penggunaan cerobong vertical makin marak. Dan image industri atau pabrik hingga kini lekat dengan ikon cerobong sebagai simbol superioritas industri.

Saya memandang cerobong asap PG. Tasikmadu di gerbong lori wisatanya. Melintasi beberapa bangunan tua yang seolah bicara dengan sejarahnya serta peralatan-peralatan pabrik yang sebagian besarnya teronggok menjadi besi bekas di luarnya, rangkaian-rangkaian gerbong lori pengangkut hasil panen Tebu, serta bangunan khas Belanda, membuat suasana masa lalu kental hadir kembali. Berada di gerbong lokomotif uap lori wisata, serta suasana pabrik yang lampau membuat saya merasakan eksotisme masa silam. Lori wisata pernah saya rasakan pula di Pabrik Gula Gondang Klaten Jawa Tengah.

Buat saya, pabrik gula yang ada di pulau Jawa terutama adalah heritages. Sisa dari kejayaan industri kapital masa silam yang masih hidup hingga saat ini. Dengan konsep heritages sudah dipastikan pabrik gula memiliki nilai historis yang empiris dan perlu diketahui oleh berbagai kalangan pecinta sejarah. Dua pabrik gula,  PG Tasikmadu dan PG Gondang sudah membuat saya yakin bahwa di sebagian besar pabrik gula yang ada di pulau Jawa memiliki kekhasan dari industri masa lalu yang masih bertahan hingga sekarang. Juga mesin-mesin pembuat gula berteknologi metalurgi tinggi sayang untuk diremajakan mengingat usianya yang longlife dan masih sangat berfungsi hingga saat ini. Dari khazanah heritages, pabrik gula berpotensi menjadi obyek wisata heritages ketimbang memperkenalkan teknologi pengolahan gula terkini. Cantelan tematiknya adalah The story of sugar company in Indies. Hal yang sudah berjalan strateginya di PG Tangka Tegal Jawa Tengah.

Usia bangunan serta teknologi permesinannya yang rata-rata berusia tua, berpotensi pula diperkenalkan sebagai wisata ilustrasi masa lalu yang secara tematik adalah The Past to the Future. Untuk saat ini saya jarang melihat pabrik gula dijadikan lokasi syuting untuk sinetron maupun film. Padahal tiap sudut dari areal pabrik gula berpotensi menghadirkan gambar-gambar dramatis tentang kehidupan masa lalu atau malah eksotika masa lalu di masa kini banyak didapat. Mungkin saya orang melankolis, tetapi mendapati masa lalu masih bertahan hingga sekarang itu merupakan keajaiban, karena setiap generasi berhak tahu tentang masa lalunya. Bukan untuk sekedar tahu sejarah tetapi juga kesejatiannya.

Indonesia memasuki babak zaman kapitalisme ketika kolonialisme dan perdagangan antar negara terjalin. Seperti Pabrik Gula Kebon Agung yang dibangun oleh Tan Tjwan Bie tahun 1905 serta Pabrik Gula Krebet yang dibangun oleh pemerintahan Belanda. Dua pabrik gula tersebut murni kepemilikan asing yang ada di Indonesia. Berbeda dengan Pabrik Gula Madukismo yang diusulkan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX, dibangun untuk menampung rakyatnya yang diharapkan menjadi tenaga kerja di tempat tersebut. Pabrik Gula Madukismo berdiri di atas lahan bekas Pabrik Gula Padokan dimana dulunya menampung ratusan karyawan dan kemudian mandeg karena perang kemerdekaan setelah dibumihanguskan.   

Gula sebagai bahan pokok masyarakat kini harus bersaing dengan gula-gula impor. Salah satu strategi dari promosi suatu produk adalah proximity atau kedekatan. Pengetahuan tentang industri gula lokal masih belum teredukasi dengan baik sehingga banyak masyarakat masa bodo apakah gula yang dikonsumsinya impor atau buatan lokal. Pengembangan konsep agrowisata gula merupakan salah-satu jalan untuk mendekatkan  konsumen dengan produk gula lokal. Pengetahuan yang akan didapat oleh wisatawan agrowisata gula akan menerjemahkan keunggulan-keunggulan produksi gula lokal berikut manfaat yang didapatnya. Audensi terbaik dalam hal ini adalah dari kalangan pelajar dan mahasiswa, kemudian dirujuk pada kalangan umum.

Proximity lainnya adalah melalui pendekatan komunitas. Kini terdapat bermacam-macam komunitas yang dekat dengan media massa untuk menjadikan aksi mereka dilihat dan dicermati sebagai upaya kegiatan positif. Contohnya adalah komunitas pecinta kereta api yang berhasil digandeng PT. KAI untuk melakukan gerakan pelestarian stasiun-stasiun tua, komunitas pecinta bangunan kuno yang memiliki program-program terpadu mengunjungi bangunan-bangunan kuno bersejarah untuk dibersihkan atau sekedar dikunjungi sebagai wisata. Ada juga komunitas sepeda onthel yang berpotensi membangun dinamika romansa kehidupan berlatar-belakang masa lalu.

Pabrik Gula sebagai heritages sangat digemari oleh komunitas-komunitas tersebut. Dan masih banyak komunitas lain yang dapat digandeng. Untuk mendapatkan perhatian mereka, Pabrik Gula yang berada di bawah PTPN X harus merangsang melalui program-program wisata yang dibuat semisal: The story of sugar company in Indies, The Past to the Future, Sugar Zending, Agrowisata Gula atau Agrowisata Tebu, dan sederet sub program-sub program wisata lainnya yang dikreasikan secara kreatif lainnya.

Saya kembali teringat ketika tandang pada Rally Asia Pacific di Takalar, November 2005. Areal perkebunan tebu Pabrik Gula Takalar yang dibawah pengelolaan PTPN XIV, dijadikan ajang kejuaraan berkelas Asia Pasifik, bertempat di ruas-ruas jalan perkebunan dimana biasanya digunakan untuk kendaraan operasional pabrik. Ruas-ruas jalan perkebunan tersebut ideal untuk digunakan sebagai ajang rally karena memiliki keunikan khas track rally.

Untuk promosi wisata sejarah pabrik gula yang mungkin akan menjadi penghambat pengembangan program wisatanya karena diprediksi berbiaya mahal, saya hanya teringat dengan teori Daniel Bernoulli, seorang ahli Matematika asal Swiss yang melatari pengetahuan saya di kemudian hari tentang sistem kerja cerobong asap. Melalui teori Bernoulli didapat cerobong asap dapat melakukan demikian karena adanya hukum gaya dan tekanan. Sebuah tekanan yang besar akan selalu mengisi tekanan yang kecil. Udara bergerak dari tempat yang bertekanan tinggi ke tempat udara yang bertekanan rendah. Asap bertekanan tinggi yang dihasilkan di bagian bawah cerobong akan memiliki gaya tarik ke atas untuk memenuhi tekanan yang lebih rendah di atas cerobong sehingga asap senantiasa terhisap menuju ke ruang bertekanan rendah tersebut.

Untuk bicara wisata, tidak dibutuhkan tekanan untuk datang ke suatu obyek tempat, wilayah atau daerah, karena sejatinya wisata adalah masalah experience. Dan experience manusia masih memiliki banyak ruang kosong terhadap hal-hal baru yang notabene butuh tekanan untuk menjadi pengetahuannya. Pabrik Gula yang dikelola wisatanya dengan baik akan mendatangkan experience bagi pengunjungnya. Dan sebuah wisata yang menarik adalah karena target yang disasarkan tepat. Pendekatan komunitas akan jauh lebih baik untuk mendapatkan dampak yang besar kelak pada tahap awal pengembangan wisata sejarah pabrik gula, khususnya yang akan dilakukan oleh PTPN X. Sugar experiences!

PLOT PLAN PENGEMBANGAN WISATA SEJARAH PABRIK GULA
Latar Belakang
  1. Menjadikan pabrik gula sebagai obyek wisata andalan.
  2. Menjadikan wisata sejarah pabrik gula bermanfaat bagi perekonomian masyarakat setempat.
  3. Memanfaatkan areal pabrik gula tidak saja untuk produksi tetapi juga produktif untuk dijadikan kawasan wisata.

Masterplan
Pengembangan areal pabrik gula sebagai kawasan pariwisata dengan menetapkan tema pengembangan produk wisata yang unik di setiap produk-produk wisatanya, serta memunculkan kekhasan wisatanya melalui budaya masyarakat setempat agar saling melengkapi dan meningkatkan daya tarik wisata.

Visi
Terwujudnya pabrik gula PTPN X sebagai destinasi pariwisata yang berdaya saing dan berwawasan lingkungan.

Strategi
  1. Core Strategy – Penyebarluasan konsentrasi pengembangan pariwisata pabrik gula.
  2. Consequency Strategy – Pengembangan produk pariwisata primer dengan produk pariwisata pendukung lainnya.
  3. Customer Strategy – Menciptakan ikllim yang kondusif bagi pelaku usaha pariwisata maupun wisatawan.
  4. Control Strategy – Membatasi pengembangan pariwisata untuk meningkatkan kualitas produk dan program pariwisata serta lingkungan setempat.
  5. Culture Strategy – Peningkatan kesadaran dan perilaku masyarakat terhadap pariwisata dan konservasi lingkungan

Kebijakan Pengembangan Pariwisata
Kebijakan pengembangan areal pariwisata (Areal Bangunan Pabrik dan Perkebunan Tebu).
Pengembangan Produk Pariwisata, Pasar, dan Pemasaran, Kelembagaan, Sumberdaya Manusia, dan Investasi.

PROGRAM-PROGRAM WISATA REKOMENDASI

  1. TEBU WALK - Mengadopsi dari tren Tea Walk, kegiatan ini bersifat tracking, melintasi perkebunan Tebu pada sore hari (tidak direkomendasikan pada pagi dan siang hari). Menggandeng jasa wisata outbound dengan sistem bipartite (PTPN X & EO).
  2. TEBU BIKE ADVENTURE - Menggandeng komunitas sepeda untuk menikmati suasana perkebunan tebu sambil bersepeda. Dilakukan dengan sistem bipartite (PTPN X & EO).
  3. TEBU ATV-CROSS ADVENTURE - Menikmati sensasi berpetualang di areal perkebunan tebu dengan kendaraan-kendaraan offroad semisal motor cross dan ATV. Dilakukan secara bipartite (Jasa Outbound & PTPN X).
  4. OPERATION PRODUCT - Game perang-perangan memperebutkan point-point strategis (pabrik tebu pada agresi militer Belanda dianggap sebagai obyek penting yang harus diperebutkan karena bernilai ekonomis tinggi. Operasi Product merupakan sandi invasi Belanda ke Indonesia pada masa perang kemerdekaan 1948-1949). Dilakukan secara bipartite (PTPN X & Jasa Outbound).
  5. LORI TIME - Mendayagunakan sarana transportasi khas PTPN X untuk mengangkut panen tebu dengan mengajak wisatawan turut dalam panen berkendaraan kereta lori.
  6. TEBU CARNAVAL - Kegiatan pameran tradisi dan budaya yang dilakukan secara parade, melibatkan pemerintah daerah setempat, masyarakat, dan event organizer. Kelak kegiatan ini menjadi acara rutin tahunan.     
  7. SUGAR FASHION WEEK - Sugar atau gula selalu menjadi simbol manisnya kehidupan. Sugar Fashion Week merupakan ajang peragaan busana dengan mengambil tema-tema tematik tentang ide atau gagasan busana yang diambil inspirasinya dari seputaran persepsi tentang gula sebagai hasil alam terbarukan.  


STRATEGI PROMOSI (Tahap Awal)

  1. Website & Social Media
  2. PRESS Visit
  3. Community Building.