Minggu, 21 November 2010

Serial Budi Sejati


"Kita sering tak paham apa yang dimau orang lain, tetapi bodoh jika tak paham yang dimaui diri sendiri"
            Ruslan semalam babak-belur dikeroyok bocah-bocah kampung tetangga. Urusan bola saat itu kerap membawa wabah perkelahian berlarut-larut. Semula hanya insiden di lapangan yang ‘tak disengaja’ oleh Ruslan. Menghindari bola bergulir ke gawang kami, Ruslan melakukan aksi menggunting jalur lawan. Sekali, lolos. Dua kali, lolos. Tiga kali, lolos pula. Ruslan kehabisan akal hingga akhirnya ia menjatuhkan diri tepat di depan lawan yang tengah dihadangnya. Lawannya tersebut terpelanting dan salto sekali di udara. Insiden itu membuat heboh para penonton yang menyatakan insiden tersebut membahayakan keselamatan pemain tersebut.

            Ruslan berpura-pura kesakitan menghindari ancaman peringatan pelanggaran. Lawan yang diganjal tidak sedang berpura-pura. Ia benar-benar kesakitan sambil memegangi tulang keringnya. Biasanya, tim medis akan berusaha memastikan korban tersebut terluka atau tidak. Tetapi saat ini adalah zaman 50-an dan pertandingan yang digelar antar kampung tersebut nyaris tanpa menyertakan peraturan baku seperti sepakbola nasional maupun internasional. Yah, namanya juga tarkam (antar kampung).

            Sekerumunan penonton dari pihak lawan langsung berhamburan masuk ke lapangan. Bukan untuk menolong jika dilihat dari wajah-wajah beringasnya. Arahnya dipastikan tertuju ke arah Ruslan. Seorang temanku yang kapten tim berteriak pada kami untuk membantu Ruslan.

            Mirip strategi kelompok pengelana koboi yang diserang suku Indian, kami membuat lingkaran mengelilingi Ruslan. Mata kami sudah diambang kepanikan jika mereka benar-benar sampai di sini. Aku malah jadi teringat kisah cerita kematian Abimanyu yang masuk ke dalam formasi pusaran Kaurawa. Meski kami bersebelas, tidak seperti Abimanyu yang seorangan, menghadapi banyak lawan bukan perkara mudah. Kami bukan orang sakti yang mampu menghasilkan bidikan satu anak panah menjadi ratusan anak panah untuk menghujam tubuh mereka. Atau putaran gada yang menghantam ratusan prajurit. Sebab kami bermain bola, bukan sedang berperang. Tepatnya, orang biasa yang sedang bertanding bola.

            Dan mirip gelombang pusaran, para penonton pendukung lawan memang telah melingkari kami. Wasit dan hakim garis pun tak kuasa menengahi. Bahkan diantaranya malah ada yang mencemooh kami. Seolah kami pantas diperlakukan demikian. Kakiku menyepak Ruslan untuk lekas berdiri. Ruslan paham itu. Kapten tim kami memberi aba-aba untuk mundur sambil tetap melingkari Ruslan. Pendukung lawan sudah diambang kami. Teriakan-teriakannya histeria. Membuat kami bergidik.

            Perlahan kami mundur bertahap. Kemudian mempercepatnya. Ada yang terjatuh diantara kami lantas lekas berdiri. Pada saat-saat menentukan, Ruslan tiba-tiba merangsek kepungan kami dan berlari sekencang-kencangnya meninggalkan kami. Kami yang melihatnya, langsung bertambah panik. Berencana melindungi malah jadinya mengumpan. “Ruslan sialaaan!” Umpatku dalam hati. Maka buyarlah formasi kami dan tunggang-langgang ke arah yang berbeda.

            Untung, luput tak satu pun dari kami terkena amuk penonton.

*-*

            Kejadian Ruslan dikeroyok kampung tetangga, buah dari perbuatannya di lapangan bola tempo lalu. Upaya pengeroyokan itu tak lantas terjadi seperti bertemu di tengah jalan dan kemudian dikeroyok. Ada upaya-upaya khusus untuk menarik Ruslan ke daerah mereka.

            Aku jadi teringat kisah Ki Juru Mertani yang sering diceritakan guru sejarahku. Panembahan Senopati adalah raja diraja Jawa Mataram. Meski demikian untuk turun unjuk kesaktiannya bukan zamannya lagi. Apalagi penantangnya datang dari rakyatnya yang notabene adalah orang yang dipimpinnya. Ki Ageng Mangir adalah rakyat Mataram pimpinan Panembahan Senopati. Ki Ageng Mangir adalah salah satu rakyat Mataram yang kerap berseberangan paham dengan Panembahan Senopati.

            Panembahan Senopati terancam dengan ulah yang dianggapnya hasutan Ki Ageng Mangir. Dan ia pun salut dengan ilmu Ki Ageng Mangir yang cukup tinggi. Sekali lagi, untuk menjajal keilmuannya tersebut, Panembahan Senopati bukan zamannya. Maka Ki Juru Mertani yang memahami ancama laten dari rakyatnya Panembahan senopati itu, membuat strategi menaklukkan Ki Ageng Mangir.

            Dikirimlah putri Panembahan Senopati yang menyamar sebagai penghibur jalanan. Ki Ageng Mangir terpikat oleh keelokan putri Panembahan Senopati tersebut. Maka dipinanglah putri tersebut oleh Ki Ageng Mangir.

            Setelah tahu bahwa putri yang dinikahi tersebut adalah anak Panembahan Senopati, maka Ki Ageng Mangir sadar bahwa mertuanya adalah lawan politiknya dan harus bertandang untuk menyatakan pingitannya terhadap putrinya tersebut.

            Ki Juru Mertani mengatur haturan tersebut menjadi jebakan. Tombak Baru Klinting yang terkenal mandraguna tersebut berusaha diredam keampuhannya. Dan berhasil. Ki Ageng Mangir tewas di tangan mertuanya sendiri. Kisah kematiannya masih tertinggal kini lewat situs Batu Gilang di daerah Kota Gede Yogyakarta.

            Nyaris semirip dengan kisah Ruslan.

            Ruslan terkenal mata keranjang. Biar umurnya masih kecil sama dengan kami, sifatnya sudah sok dewasa. Bahkan perempuan satu kampung kami pun tahu Ruslan usil dengan mereka. Hingga untuk bertemu dengannya, adalah momok menyebalkan.

            Oleh pendukung tim sepakbola yang salah satu pemainnya dilukai Ruslan, mereka telah mendapatkan ‘data intelejen’ untuk menjebak Ruslan. Kebiasaannya itu menjadi bumerangnya. Ruslan ditarik ke wilayah mereka dengan mengumpan perempuan yang dikuntitnya hingga masuk ke wilayah jebakan. Alhasil, Ruslan berhasil dibuat babak belur.

            Meski kami sebal dengan ulah Ruslan yang tempo lalu melarikan diri saat kami lindungi, tetap saja ia teman sepermainan kami. Kondisinya yang babak belur membuat kami geram. Kami pun merancang tindakan balasan.