Senin, 22 November 2010

Serial: Budi Sejati (Bag. 2)

Pertahanan yang terbaik adalah menyerang
Serangan yang terbaik adalah membongkar pertahanan lawan


Gan, anak bertubuh besar yang kebetulan sekelas denganku. Ia teman yang kuajak menguli. Antar kota kerap kami sambangi. Ada lagi satu bernama Ton. Ia berpostur sama denganku. Gerak-geriknya lincah bak Kancil. Bertiga, kami adalah teman sepermainan yang solid di atas kereta. Kemurungan kami sehari-hari lantas lenyap seketika. Ton asal Bantul. Ayahnya seorang petani dengan lahan beberapa petak saja.

Ayah Gan menyukai sekali gerakan menari dalam memperagakan ilmunya. Semula aku berpikir itu gerakan banci, sangat gemulai.

            Dalam pembagian tugas, kami melakukannya seadil mungkin. Gan yang bertubuh besar rela porsi angkutnya berupa barang-barang berat. Sedangkan kami barang-barang ringan. Satu komisi kami bagi bertiga. Meski kecil, ada kepuasan tersendiri bisa bersama menikmati. Gan sangat gemar bercerita soal peliharaan seekor Kambing ayahnya yang ia beri nama Klenting. Ayahnya seorang guru silat kampung dan lumayan berwibawa di mata masyarakat kampungnya.

            Lewat ayahnya, aku mendalami keilmuan bela diri silat dasar. Ayah Gan menyukai sekali gerakan menari dalam memperagakan ilmunya. Semula aku berpikir itu gerakan banci, sangat gemulai. Namun ketika dihadapkan pada tiga orang yang mengeroyoknya pada suatu demonstrasi, gerakan gemulainya ternyata mengandung maut. Sikutannya mampu mengoyak kerongkongan. Kepalannya mampu meringsekkan wajah. Lututnya mampu membenamkan ulu hati. Tumitnya mampu membelah kepala. Bagaimana mungkin gerakan selembut itu mampu mengganjar lawan sebegitu mautnya.

            Gan tak pernah diajari langsung oleh ayahnya. Jika ia mau mendalami, ia harus berada diantara murid-muridnya. Karena murid-muridnya sudah besar-besar, Gan mengajak kami bergabung membentuk kelompok latihan sendiri. Meski hanya bertiga, ayahnya tak membedakan porsi latihannya, baik berjumlah banyak maupun sedikit. Konsistensinya sebagai pelatih silat ia jalani sebaik mungkin.

David dan Goliath. Begitu kira-kira pertarungan kami. Pukulan Gan seperti sapuan angin ditelingaku. Bahkan anginnya saja sudah membuat bulu kudukku bergoyang.

            Ton memiliki ketangkasan memukau, buah dari bakatnya yang memang ditimpali tubuh lincahnya. Gerakannya laksana kera bermain di pepohonan. Lompat sini lompat sana. Ayah Gan sangat menyukai kelincahan Ton, namun tak melebihkan dirinya diantara kami. Apa yang diberi Ton, sama dengan kami. Ton lebih cepat cekatan ketimbang kami yang masih memiliki keraguan berkembang. Gan dengan tubuh besarnya hanya mampu menakuti lawan lewat posturnya, namun minim teknik dalam perkelahian. Itu terjadi ketika aku diadu olehnya.

            Ayah Gan tak memberi kesempatan kami bermain-main jika tengah latihan. Kami yang memang sudah menjadikan keseharian menjadi keriangan bersama, sempat menganggap arena latihan sama halnya dengan ruang bermain kami. Terjadinya pun saat aku dihadapkan pada Gan di ujian kenaikan tingkat. Gan meledek aku dengan menakut-nakuti lewat posturnya dan bertingkah-tingkah seolah ia adalah gorila. Aku membalasnya dengan berlarian mengelilinginya seolah-olah itu permainan gobak sodor. Ayahnya marah besar dan menendang kami berdua hingga terjungkal. Fantasi ayahnya yang coba disuntikkan kepada kami adalah bagaimana jika itu pertarungan sebenarnya. Tindakanku dan tindakan Gan tak ada artinya lagi kelak.

            David dan Goliath. Begitu kira-kira pertarungan kami. Pukulan Gan seperti sapuan angin ditelingaku. Bahkan anginnya saja sudah membuat bulu kudukku bergoyang. Tendangannya laksana pohon besar ditebang, mantap jatuhnya. Aku yang bertubuh kecil hanya bisa mengelak ke kanan dan ke kiri. Gerakan mundur bagi ayah Gan adalah pantang. Untuk melaju merangsek lebih dekat ke tubuh Gan, cukup sulit. Gan memiliki pertahanan yang akurat. Tidak ada satupun bagian tubuhnya yang mampu kutembus. Ayah Gan memperingatiku beberapakali untuk melakukan tindakan penyerangan.

Jurus yang kami pelajari sebelumnya nyaris tanpa teridentifikasi di pertarungan kami itu. Yang ada hanyalah cara menyerang dan bertahan secara efektif.

            Ton paling antusias mendukungku. Kesamaan postur tubuh kami membuat ia membelaku. Teriakkannya kebanyakan ditujukan ke aku ketimbang Gan. Meski demikian, Ton kerap melirik ayah Gan, takut-takut dukungannya padaku akan melukai hati ayah Gan. Ia berpihak padaku kalau Gan pantas dilumpuhkan.

Pada suatu ketika aku tengah tersanjung dengan dukungannya, aku dibuat lengah. Lengan Gan mampir di leherku yang tak kuasa kutahan serbuannya. Aku terpelanting ke samping. Kala itu batas leher hingga pusar pada pertandingan silat belum popular. Segala daya bisa dilakukan untuk melumpuhkan lawan.

            Sambil memegangi leherku yang sakit, aku membuat pertahanan seadanya. Gan sudah akan melakukan serangan kembali. Kali ini dengan kakinya yang besar. Aku hendak mundur, tetapi teringat perintah ayah Gan untuk pantang mundur. Namun tidak ada kemungkinan lain saat itu selain mundur. Bergerak ke samping masih dihadapkan pada ancaman lengan Gan yang siap menyerbu. Sedetik, dua detik, Gan kian mendekat. Sampai akhirnya aku menemukan titik serangan.

            Saat menendangkan kaki kanannya, Gan terlampau tinggi menjungkit. Lantas kujatuhkan badanku hingga terduduk dan kemudian melakukan gerak berputar menyapu kaki kiri Gan yang tengah mengungkit. Kaki kanan Gan tepat berada di atasku. Sapuan kerasku membuat Gan limbung di udara, dan buru-buru aku bergulir ke samping sambil tanganku mendorong ke atas kaki kiri Gan yang tengah limbung untuk kembali membuatnya tak mampu menguasai kondisinya. Gan jatuh berdebam dengan bokongnya terlebih dahulu menampar lantai. Nyaris pula tengkuknya menghantam lantai karena tak bisa menguasai diri.

            Gan pingsan!

            Ayah Gan dan Ton buru-buru menghampiri Gan. Aku masih terduduk diam, terpana menyaksikan tubuh besar Gan tak bergerak. Ingatanku kembali mengungkap peristiwa seorang teman perempuanku di sekolah yang diusili teman laki-laki. Ketika ia hendak duduk, bangku yang hendak diduduki tiba-tiba ditarik dan teman perempuanku terjatuh dengan bokong sebagai tumpuannya. Ia pingsan.

            Ketika dibawa ke ruang perawatan sekolah, baru aku tahu ada banyak ribuan syaraf yang bermukim di bokong. Aku lantas mengkaitkan dengan aksi dokter menyuntik pantat. Padahal sakitnya bukan di tempat situ, melainkan di bagian lain tubuh. Reaksinya, sakit itu pun bisa sembuh. Pertanyaan bodohku akhirnya terjawab.

Dan tetap, hingga saat ini belum menyelesaikan masalahku dengan takutnya terhadap jarum suntik.

            Ton lawan tangguhku. Tekniknya jauh lebih unggul dariku. Gerakannya tak mudah ditebak seperti Gan. Aku saja nyaris mengalah dijadikan santapan tangan dan kakinya. Memukul, menendang, lantas menjaga jarak. Aku hanya mampu bertahan semaksimal mungkin. Tanganku dibuat memar oleh Ton menahan pukulan dan tendangannya. Pada satu serangan tak terduga, tangannya nyaris membungkam mulutku hingga berdarah. Untungnya aku secepatnya menarik kepalaku ke samping hingga luput serangan itu.

            Ton bukan tipe lekas puas seperti Gan. Upaya-upaya serangannya lebih mirip membulan-bulankan aku yang tak punya kesempatan sekalipun untuk menyerang. Tinggal tunggu kelemahan Ton yang ternyata energinya seperti tak pernah habis. Kembangannya diiringi lompatan-lompatan ala Kancil. Diantara kembangan dan lompatannya, ia memukul dan menendang seolah tengah menjajal kelengahanku. Aku sadar berbuat demikian akan merugikan kesempatanku untuk menanggulangi serangan lanjutannya. Peringatan ayah Gan untuk membalas serangan Ton sudah berkali-kali diingatkan. Aku tak mau ceroboh seperti lengan Gan mengganjal leherku.

            Sesi latihan pertarungan baru kuketahui saat itu untuk mengolah mental dan akurasi. Jurus yang kami pelajari sebelumnya nyaris tanpa teridentifikasi di pertarungan kami itu. Yang ada hanyalah cara menyerang dan bertahan secara efektif. Banyak bertahan bukan karena lupa jurus, melainkan lebih banyak ditumbuhi keraguan. Ayah Gan makanya tak suka cara bertahanku. Ditambah Gan yang gemar menyemangati Ton untuk menjatuhkanku. Geram rupanya ia kukalahkan…

            Ton makin menjadi. Gerakan serangan sapuan, mendatar, hingga melayang, dilakukan intensif. Aku yang tak boleh bergerak mundur, hanya terus berputar menandingi serangan Ton. Mahluk hidup makan dan minum. Tujuannya untuk membangun energi dan vitalitas. Bahan bakar itu kulihat pada Ton sudah mulai kehabisan. Gerakan lincahnya makin memunah. Tak sadar sudah 15 menit pertarungan kami berlangsung berat sebelah. Saat itu, pertandingan tak dibatasi waktu. Siapa yang jatuh ia yang kalah. Siapa yang masih tetap berdiri, ia lah pemenangnya.

            Dalam kelelahannya, Ton mulai mengurai pertahanannya. Aku melihat hal itu dan lantas siap menghakiminya. Namun bertahan setadian juga butuh kurasan energi. Tanganku yang lebam-lebam karena menangkis pukulan dan tendangan Ton, tak ayal membatasi tenagaku. Aku berusaha dengan tenaga seadanya mampu menjatuhkan Ton.

            Ton tiba-tiba merunduk. Gerak-geriknya seperti hendak mengumpan aku. Dikiranya aku terpancing dengan ulahnya itu. Badannya mendatar hingga setinggi perutku. Kaki depannya menekuk dan kaki belakangnya memanjang. Kuda-kudanya tangguh untuk menahan pijakan sekalipun. Tangannya kirinya merentang ke depan, serta tangan kanannya mengepal di dada. Jika ia akan melakukan loncatan, kuda-kuda tersebut sudah memungkinkan. Dugaanku, ia berharap aku menyerang dari atas. Tetapi jika ia ingin melakukan sapuan bawah, dugaanku pula ia membuat aku berpikir lebih baik menyerang dari atas karena akan menyelamatkan diriku dari sapuannya. Tak ada kemungkinan mengganjalnya dari bawah dengan kuda-kuda seperti itu.

            Tapi, aku melihat ada gerak-gerik mencurigakan pada kaki depannya. Tumitnya sedikit mengangkat dan bergoyang seperti pegas. Ada kemungkinan baru ia akan membuka serangan. Aku bersiap-siap.

            Benar saja! Ton tak memilih menjungkit ke atas lalu melakukan serangan dengan tendangannya. Juga tak memutar badan ke bawah untuk menyapuku dengan kakinya. Ia sudah berniat menggunting kedua paha dan betisku hingga tertekuk dan jatuh terduduk. Aku segera melakukan antisipasi mengangkat kaki satu. Guntingannya mengenai kakiku yang berdiri untuk tumpuan. Saat hendak memutar badan untuk menggulingkanku, kakiku yang terangkat buru-buru kujejakkan ke perutnya. Serangannya lumpuh dan Ton menyeringai kesakitan kakiku terbenam di perutnya.

            Ton kalah olehku!