Sabtu, 06 November 2010

Profil Surono: Bapak Kegunungapian Indonesia

KOMPAS.com - Rambut lebat beruban itu mencolok di tengah kerumunan wajah-wajah tegang yang mengamati pergerakan jarum seismograf di ruang pemantauan aktivitas Gunung Merapi di kantor Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, Rabu (3/11/2010). Makin kencang jarum bergerak naik-turun, makin dalam isapan rokok kreteknya.

Sorot matanya terpaku pada jarum-jarum seismograf (alat pencatat kegempaan) dan layar monitor CCTV pemantau puncak Merapi. Sesekali dia menggeleng-gelengkan kepala, mengisyaratkan tanda tak percaya.

Seperti itulah keseharian Surono, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, belakangan ini. Lelaki yang cukup sering ditampilkan berbagai media elektronik ini merupakan ”komandan” pemantauan aktivitas Merapi, sejak letusan eksplosif terjadi 26 Oktober lalu.

"Kita hanya bisa menangkap pesan-pesan yang disampaikan Merapi, tetapi tak bisa memprediksi maunya apa. Skenario letusan hanya Merapi sendiri yang tahu,"

Letusan Merapi Rabu pekan ini, 3 November 2010, awalnya diperkirakan sebagai letusan terdahsyat sepanjang krisis 2010. Sempat mereda dua jam, aktivitas Merapi berlanjut meningkat hingga kemarin.

Kegawatan itu sontak menghapus senyum dan keceriaan Surono. Ketegangan dan kecemasan yang menggelora di dalam dirinya menambah kusut wajahnya. Waktu tidurnya pun semakin pendek.

Sebagaimana diberitakan, gelombang awan panas Merapi pada 3 November berdurasi hingga dua jam dengan jarak luncur terjauh mencapai 11,5 kilometer. Ini jauh lebih dahsyat dari kejadian 26 Oktober yang durasi maksimalnya 33 menit dengan jarak luncur 7 km.

Dua hari belakangan ini, tanggal 4-5 November 2010, gelombang erupsi dan luncuran awan panas lagi-lagi mengejutkan. Muntahan Merapi meluluhlantakkan segala yang dilintasi dan menciptakan rekor baru jarak luncur, hingga 14 km, yang berakhir di wilayah Kecamatan Cangkringan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tak heran jika babak krisis Merapi sepanjang 3-5 November membuat ilmuwan, pengamat, dan pejabat vulkanologi berpengalaman seperti Surono hanya bisa geleng-geleng kepala. Letusan yang membuat pria yang akrab dipanggil Mbah Rono—karena dianggap sebagai ”juru kunci” versi ilmiah untuk 129 gunung berapi di Indonesia—ini takjub sekaligus takut.

"Kita hanya bisa menangkap pesan-pesan yang disampaikan Merapi, tetapi tak bisa memprediksi maunya apa. Skenario letusan hanya Merapi sendiri yang tahu," ujar Surono, yang sejak awal sudah menduga letusan tahun ini berenergi tiga kali lebih besar ketimbang tahun 1997, 2001, dan 2006.

Ilmu baru

Kepala BPPTK Subandriyo mengatakan, berbagai babak fase letusan Merapi 2010 dari kaca mata ilmiah menjadi sangat menarik. Pertama, letusan tahun ini di luar tabiat Merapi yang selama beberapa dekade terakhir tidak pernah meledak-ledak (eksplosif).

"Belum pernah kita jumpai letusan Merapi sedahsyat ini dalam seabad terakhir," katanya. Ditambahkan, letusan tahun ini hampir menyamai letusan dahsyat Merapi pada 1872. Kala itu, Merapi meletus dengan skala eksplosivitas 4 dari skala 8, atau yang tertinggi untuk ukuran Merapi.

Saat itu, suara letusannya dikabarkan terdengar hingga Pulau Madura di Jawa Timur dan Karawang di Jawa Barat. Volume material yang dilontarkan hampir mencapai 100 juta meter kubik dengan dampak hujan abu, awan panas, dan banjir lahar mencapai radius 20 km.

"Untuk letusan kali ini, kami belum bisa memastikan skalanya karena harus diteliti setelah semua fase erupsi selesai. Namun, diperkirakan sudah kisaran skala 3," kata Subandriyo.

Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Sukhyar sependapat dengan Subandriyo. "Jika dibandingkan letusan Gunung Galunggung tahun 1982, saya nilai ini (letusan Merapi kali ini) lebih dahsyat," katanya.

Waktu itu, kata Sukhyar, Galunggung memiliki energi erupsi yang kira-kira sama dengan energi Merapi saat ini. "Bedanya, Galunggung mencicil pengeluaran energi erupsi itu selama sepuluh bulan, sedangkan Merapi hanya dalam waktu dua minggu," katanya.

Soal banyaknya peningkatan aktivitas gunung-gunung berapi di Indonesia selain Merapi, Sukhyar mengatakan, hal itu tidak saling terkait.

Surono “Juru Kunci Merapi” Dengan Teknologi Modern

"Ketika saya tanda tangan, itu berarti artinya ribuan orang akan diungsikan."

Belum memilih juru kunci Gunung Merapi pengganti Mbah Maridjan yang meninggal dunia akibat awan panas 'wedhus gembel' pada 26 Oktober lalu. Kini, ada satu nama yang disebut-sebut sebagai 'juru kunci' Merapi, yakni Doktor Surono.

Pria beruban dan berkacamata kelahiran 8 Juli 1955 itu kini setiap hari muncul di layar kaca, media online, radio, hingga media cetak. Setiap pernyataannya selalu menjadi rujukan dan acuan bagi perkembangan detik demi detik perkembangan gunung di perbatasan Jawa Tengah-Yogyakarta yang kini masih berstatus Awas itu.

Sekali waktu, Surono menyampaikan kepada VIVAnews.com betapa bimbangnya saat setiap kali membubuhkan tanda tangan penetapan status Awas bagi gunung api. Seperti halnya saat menaikkan status Gunung Merapi. "Ketika saya tanda tangan, itu berarti artinya ribuan orang akan diungsikan," kata Surono saat dihubungi lewat telepon Selasa 2 November lalu.


"Untungnya informasi status Awas itu disampaikan pemerintah daerah. Coba wartawan lebih awal mengetahui dari saya, bisa kacau nantinya."


Gunung Merapi ditingkatkan statusnya dari Siaga menjadi Awas terhitung Senin 25 Oktober 2010 pukul 06.00 WIB. Ini adalah level tertinggi. Wakil Bupati Sleman, Yuni Satia Rahayu menerima surat pemberitahuan dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta kepada Pemerintah Kabupaten Sleman. Surat pemberitahuan status merapi dinaikkan dari siaga ke awas tertanda Nomor 2044/45/BGL.V/2010.

"Untungnya informasi status Awas itu disampaikan pemerintah daerah. Coba wartawan lebih awal mengetahui dari saya, bisa kacau nantinya," kata Surono sambil bercanda. Sudah sepekan Surono menjadi narasumber yang sangat penting bagi media dan masyarakat di Tanah Air. Peringatan demi peringatan yang disampaikan Surono menjadi rujukan bagi segala kegiatan di Merapi. Terutama untuk penanganan evakuasi pengungsi. Bahkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) 'tunduk' atas rekomendasi dan imbauan yang dikeluarkan Surono.


"Saya tidak baca koran, nonton berita, atau yang lainnya. Karena itu akan mempengaruhi emosi saya. Makanya, saya lebih suka nonton pertandingan bola. Wartawan itu, dijawab salah, tidak dijawab juga salah,"

"Soal gunung, saya pun sebagai presiden, tetap tunduk pada Pak Rono. karena dia yang mengetahui geologinya," kata SBY di pos utama Merapi di Pakem, Yogyakarta, Rabu 3 November 2010. '
Tingkah polah' gunung api di seluruh Indonesia dapat diketahui dari satu pintu, Surono. SBY pun mengakui itu. "Waktu Kelud (pasca meletus), pengungsi bertanya, apakah kami boleh pulang, saya jawab yang memberikan pernyataan Pak Rono karena Badan Geologi yang mengetahui kondisi aman tidaknya. Mari kita tunggu pernyataan Pak Rono," kata SBY di pos utama Merapi di Pakem, Yogyakarta, Rabu 3 November 2010. Demikian juga dengan di Sinabung. Saat itu, warga yang merasa kondisi sudah aman minta izin untuk pulang. Jawaban SBY tetap sama: "Tunggu, karena yang memberi keputusan Pak Rono."

Kutipan Surono menjadi informasi yang penting bagi masyarakat, terutama pengungsi. Tetapi, Surono rupanya tidak pernah membaca, melihat, atau mendengarkan lagi setiap pernyataan yang sudah diberikan kepada media. Alasannya sederhana. Dalam ritme kerja yang tinggi ini, Surono tidak ingin terganggu dengan segala hal pemberitaan dan interpretasi media.

"Saya tidak baca koran, nonton berita, atau yang lainnya. Karena itu akan mempengaruhi emosi saya. Makanya, saya lebih suka nonton pertandingan bola. Wartawan itu, dijawab salah, tidak dijawab juga salah," ujar Surono yang suaranya terdengar semakin parau. Dia mengakui, kondisi kesehatannya terus menurun seiring kondisi Merapi yang belum mereda. Bahkan, "Pita suara saya semakin gawat. Banyak merokok, kurang tidur."


Pilihan Dari Istana Presiden
Siapa Surono? Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) itu lulus sarjana jurusan Fisika di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1982. Lima tahun kemudian, pria yang tinggal di Parongpong, Bandung, ini terbang ke Prancis untuk melanjutkan studi.

Pada 1989, 'sesepuh' gunung berapi ini mendapat gelar DEA Mechanique Mileux Geophysique et Environment dari Grenoble University di Grenoble, Prancis. Seperti tidak ada jeda, pada tahun yang sama ayah dua putri ini kembali melanjutkan pendidikan. Gelar doktor geofisika sukses diraih dari Savoei University, Chambery, Prancis, pada 1993.

Sebelum mencapai posisi puncak di dunia Vulkanologi. Surono sudah merintis karis di PVMBG. Surono mulai menjadi staf Divisi Pengamatan Gunung Api di PVMBG sejak 1982 hingga akhirnya dipercaya menjadi Kepala PVMBG mulai 2005.

Berbagai keahlian tentang kegunungapian didapat Surono dari berbagai lembaga dunia. Seperti dari Unesco (Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa) dan USGS (lembaga Survei Geologi AS). Puluhan publikasi tentang kegunungapian dari Surono sudah terbit. Mbah Maridjan memang juru kunci pilihan Keraton, tetapi bukan tidak mungkin Surono 'Juru Kunci' Merapi dari Istana Presiden.

Presiden: Soal Gunung, Saya Patuh pada Pak Surono 

“Kalau saya ditanya, kapan masyarakat bisa pulang, saya bilang kalau yang menentukan adalah Pak Surono (Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana),”
Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono

 Metrotvnews.com, Yogyakarta: Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono meminta warga di kawasan rawan bencana tiga Merapi yang masih tinggal di barak-barak pengungsian untuk bersabar. Lantaran sampai saat ini kondisi Merapi masih labil.

“Kalau saya ditanya, kapan masyarakat bisa pulang, saya bilang kalau yang menentukan adalah Pak Surono (Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana),” kata Presiden di posko utama Pakem usai menerima paparan dari Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Hamengku Buwono X dan Surono, Rabu (3/11).




“Selama ini Merapi tidak pernah meminta, tapi memberi terus. Jadi, saya tunggu Merapi yang meminta, maka status awas akan saya turunkan,”

SBY mengaku, sikap serupa juga disampaikan ketika mengunjungi para pengungsi di Sinabung dan Kelud. Soal bahaya dan tidaknya, ia menyerahkan sepenuhnya kepada Badan Geologi. “Saya pun patuh dan tunduk pada Pak Surono,” kata SBY.

Karenanya, Presiden meminta sekali lagi masyarakat sabar selama tinggal di barak-barak pengungsian. Meski pun, kondisinya saja berbeda. Yang terpenting para pengungsi mendapatkan makan, pelayanan kesehatan, juga bisa beraktivitas. “Namanya juga tempat penampungan, sehingga kondisinya darurat. Jadi tolong bersabar,” kata SBY.

Menanggapi pernyataan Presiden, Surono menyatakan tidak bisa memprediksi kapan Gunung Merapi akan aman. “Selama ini Merapi tidak pernah meminta, tapi memberi terus. Jadi, saya tunggu Merapi yang meminta, maka status awas akan saya turunkan,” kata Surono.

"Masyarakat Kita Kaget Dengan Gunungnya Sendiri"

Oleh: Doty Damayanti & Mohamad Final Daeng

Wajah lelah kurang tidur dari pria berkumis dan berkacamata dengan rambut agak kribo itu akrab bagi pemirsa televisi. Kalimat yang dia ucapkan tidak pernah bombastis meski itu menyangkut bencana letusan Gunung Merapi—gunung teraktif di Indonesia—yang sejak 26 Oktober lalu letusannya kian mengancam jiwa mereka yang berdiam di sekitar Merapi.

Bergulat dengan perilaku gunung api sejak tahun 1982, tugas yang diemban Surono meliputi tiga aras: riset pengetahuan, publikasi, dan keselamatan warga. Tiga kepentingan yang sering kali memunculkan dilema.

Lulusan jurusan Fisika ini terpanggil menekuni kegunungapian setelah pengalamannya membawa seorang periset Amerika Serikat ke Gunung Galunggung, Provinsi Jawa Barat, tahun 1982, sementara Gunung Kelud memberikan pelajaran baru tentang berubahnya perilaku sebuah gunung api. Kelud yang dikenal ledakannya yang eksplosif (meletus dengan kekuatan besar) menjadi efusif (materi piroklastik tidak dilontarkan ke udara, tetapi meleleh, mengalir di punggung gunung).

Tugasnya mengawal Gunung Merapi kali ini entah kapan berakhir. Tak seorang pun tahu. Namun, Surono pasti akan tetap setia untuk menerapkan prinsipnya: toleransi nol demi keselamatan jiwa manusia (zero tolerance for a safe life).

Di bawah merupakan rangkuman wawancara Kompas di berbagai kesempatan, termasuk di sela-sela kesibukannya melihat pemasangan alat seismik di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Sabtu (6/11/2010).

Ambil alih komando 
Sejak Merapi berstatus Awas pada 25 Oktober lalu, Surono, sebagai Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, mengambil alih komando pemantauan dan mitigasi bencana yang sebelumnya dipegang Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian Yogyakarta.

Sejak saat itu seluruh data pemantauan instrumental dan visual Merapi diolah, diserap, dan dianalisisnya untuk mengambil keputusan-keputusan penting, khususnya terkait dengan keamanan warga di sekitar Merapi—ini terkait dengan penentuan radius bahaya primer Merapi.

Tugas yang diembannya amat berat mengingat faktor-faktor: tingkat kesulitan yang tinggi dalam memprediksi perilaku suatu gunung api, keselamatan jiwa warga yang dipertaruhkan, serta dampak-dampak sosial, ekonomi, dan psikologis dari sebuah keputusan. Di ranah itulah posisi Surono berada. Selalu menghadapi dilema dari waktu ke waktu. Hasil analisis dan keputusannya diteruskan sebagai rekomendasi kepada pemerintah daerah sekeliling Merapi dan pihak-pihak terkait lainnya.

Rekomendasi itu menjadi patokan bertindak, khususnya dalam upaya mitigasi dengan mengevakuasi warga. Maka, Surono pun sering dipanggil dengan sebutan Mbah Rono, mengacu pada panggilan kuncen gunung—yang perannya dekat dengan warga.

Salah satu saat paling krusial adalah saat dia menaikkan status Merapi dari Siaga (level III) menjadi Awas (level tertinggi), pada 25 Oktober. Status Awas mengandung konsekuensi: pemerintah harus mengungsikan puluhan ribu penduduk dari ”zona merah”—saat itu radiusnya 10 kilometer dari puncak.


"Saya Merasa gagal karena ternyata tidak bisa dipercaya oleh mereka yang masih bertahan di zona bahaya."

”Jika jarak waktu antara status Awas dan letusan terlalu pendek, pemerintah daerah tidak akan punya cukup waktu mengevakuasi warga. Namun, jika jaraknya terlalu lama, akan menimbulkan masalah sosial besar karena warga akan terlalu lama di pengungsian,” ujarnya suatu waktu.

Dengan segala pengalaman, pengetahuan, dan teknologi terbatas untuk memahami gunung berapi, Surono harus mengambil keputusan dalam kondisi genting. Benar saja, 35 jam setelah ditetapkan berstatus Awas, Merapi meletus pertama kali pada 26 Oktober pukul 17.02.

Meski puluhan ribu jiwa terselamatkan, Surono tetap merasa gagal karena masih terdapat 32 korban jiwa, termasuk juru kunci Merapi, Mbah Maridjan. ”Saya merasa gagal karena ternyata tidak bisa dipercaya oleh mereka yang masih bertahan di zona bahaya,” ujar Surono.

Bahkan sempat keputusan memperluas radius berbahaya menjadi berbeda dengan pemerintah setempat. Radius bahaya terus meluas dari 10 km menjadi15 km (3 November) dan menjadi 20 km pada 5 November. Tugas Surono masih panjang karena tidak ada yang tahu kapan gejolak Merapi akan berhenti. Tak ada yang bisa menjamin klimaks letusan telah tercapai.

Tugas Surono semakin berat dan memusingkan karena kali ini Merapi keluar dari tabiat khasnya yang ”kalem” dan tidak meledak-ledak. Meski sudah ada persiapan sejak tahun 2007, setelah Merapi meletus 2006, tak seorang pun mengira letusan kali ini bakal sedemikian besar.

”Tadinya kami mengira masyarakat kita sudah cukup terdidik untuk menghadapi bahaya letusan Merapi. Masyarakat masih terus mengacu pada pengalaman letusan-letusan sebelumnya. Padahal, generasi yang mengalami letusan tahun 1930 tinggal sedikit, sementara letusan tahun 1994 dan 2006 sifatnya hanya sektoral dan kecil. Kita perlu belajar bahwa ternyata Merapi berubah,” tutur Surono.

Ingatan empiris 
Dia menjelaskan, karena acuan yang ada hanya ingatan empiris, pada waktu Awas masyarakat tidak melihat api diam, juga tidak terbiasa dengan status Awas yang demikian pendek. Rupanya kekagetan melihat perilaku Merapi yang berubah juga dialami ilmuwannya. Sejak tanggal 23 Oktober, energi Merapi meningkat langsung menjadi tiga kali lipat daripada letusan 1997, 2001, ataupun 2006.

”Sewaktu kita mau menaikkan ke status Awas, proses pengambilan keputusannya jadi krusial karena hanya sejam,” katanya.

”Tidak ada pengetahuan yang bisa mengontrol kemauan alam, termasuk mengatur Merapi. Yang tahu maunya Merapi, ya cuma Merapi sendiri. Saya hanya membaca dan menyampaikan pesan-pesannya,” ujarnya.

Dia kini sering menambahkan, ”Mari kita berdoa, berharap yang terbaik yang terjadi, semoga kondisi tidak semakin parah.”

”Orang luar mencoba alat, lalu kalau bagus dijual ke kita. Ketika Badan Geologi AS (USGS) menawari Indonesia masuk dalam pemantauan 1.000 gunung api, saya tanya ke staf saya, ’Bisa tidak kamu belajar di sana lalu kamu curi ilmunya’.”

Sebagai upaya mitigasi, tidak perlu semua gunung api ditambah alat pemantau. ”Selektif saja, di daerah bahaya yang dekat dengan tempat wisata. City volcano, seperti Merapi ini, perlu ditambah peralatan pemantaunya, makanya kita datangkan dari Sinabung. Dari empat stasiun pemantau di Merapi, tinggal Plawangan yang menyala, tiga yang lain mati, tidak kuat terkena erupsi. Sekarang sedang kita tambah dengan memasang alat pemantau di UGM, Museum Merapi, dan Imogiri,” tuturnya.

Dia menegaskan, data dari pos-pos gunung api adalah lini pertahanan terdepan, lini kedua ada di kantor pusat vulkanologi di Bandung. ”Sistem peringatan dini yang kita pasang harus disertai riset tentang karakter setiap gunung api,” lanjutnya.

Sebagai negeri di daerah cincin api dengan 129 gunung api, negeri ini kaya akan ilmuwan. ”Ahli kita banyak sebenarnya, banyak yang dilamar oleh lembaga riset luar negeri. Riset itu penting, tetapi tetap harus berguna, harus bisa dipakai untuk mitigasi, what next, jangan sampai riset itu kesimpulannya masih kurang data dan perlu riset lanjutan,” tegasnya.

Teknologi yang dimiliki Indonesia sebenarnya telah mencukupi. Dia tak rela jika Indonesia menjadi laboratorium dunia. ”Orang luar mencoba alat, lalu kalau bagus dijual ke kita. Ketika Badan Geologi AS (USGS) menawari Indonesia masuk dalam pemantauan 1.000 gunung api, saya tanya ke staf saya, ’Bisa tidak kamu belajar di sana lalu kamu curi ilmunya’.”

”Target kita, tahun 2011 sudah harus mandiri dalam teknologi. Tahun ini peta kawasan rawan bencana gunung api tipe A sudah harus selesai agar pemerintah daerah bisa segera menyesuaikan dengan penyusunan tata ruang,” ungkapnya.

English Version

KOMPAS.com - bushy gray hair was conspicuous in the crowd of faces that looked tense seismograph needle movement in the room monitoring the activities of Mount Merapi in Central office Kegunungapian Investigation and Technology Development (BPPTK) Yogyakarta on Wednesday (11/03/2010). The more tightly the needle moves up and down, getting in puff cigarettes kreteknya.

His eyes were fixed on the seismograph needles (seismic recording devices) and the monitor screen CCTV monitors the peak of Merapi. Occasionally he shook his head, indicating a sign of disbelief.

Such was the daily Surono, head of Volcanology and Geological Hazard Mitigation (PVMBG) Geological Agency, lately. Men who are quite often displayed a variety of electronic media is a "commander" monitoring Merapi activity, since the explosive eruption occurred Oct. 26.


"We can only catch the messages being delivered Merapi, but can not predict what wants. Scenario Merapi eruption itself only knows,"

Merapi eruption this Wednesday, 3 November 2010, initially estimated as the eruption terdahsyat throughout the crisis of 2010. Had time to subside two hours, the activity of Merapi continued to increase until yesterday.

Gravity was suddenly wiped the smile and joy Surono. The tension and anxiety that surge within him to add his face wrinkled. Sleep time was shorter.

As reported, a wave of hot clouds of Merapi on November 3, a duration of up to two hours with sliding distance farthest reaches 11.5 kilometers. This is much more powerful than events October 26 that the maximum duration of 33 minutes with 7 km sliding distance.

Two days later, on 4 to 5 November 2010, a wave of pyroclastic eruptions and glide again surprising. Merapi vomit devastated everything crossed and sliding distance creates a new record, up to 14 km, which ended in Cangkringan subdistrict, Sleman, Yogyakarta.

No wonder if half the Merapi crisis during November 3 to 5 make scientists, observers, and officials such as volcanology experienced Surono could only shake his head. The eruption that makes the man nicknamed Mbah Rono-being perceived as "caretaker" scientific version for 129 volcanoes in Indonesia, is amazed and terrified.

"We can only catch the messages being delivered Merapi, but can not predict what wants. Scenario Merapi eruption itself only knows," said Surono, who early this year have suspected eruption-energy three times larger than in 1997, 2001, and 2006.

New Science
Head of BPPTK Subandriyo said various phases of the eruption of Merapi half of 2010 from a scientific eye glass becomes very interesting. First, the eruption of this year beyond the nature of Merapi over the last decade never explosive (explosive).

"Never had we encountered this sedahsyat Merapi eruption in the last century," he said. Added, the eruption of this year nearly matching the massive eruption of Merapi in 1872. At that time, Merapi erupted with scale scale eksplosivitas 4 of 8, or the highest for the size of Merapi.

At that time, the sound eruptions reportedly heard up Madura island in East Java and Karawang in West Java. The volume of material that was brought close to 100 million cubic meters by the impact of ash falls, pyroclastic and lava flooding reaches a radius of 20 km.

"For the eruption this time, we can not ensure that the scale should be investigated because after all phases of eruption is complete. However, the estimated range of the scale was 3," said Subandriyo.

Head of Geological Agency of the Ministry of Energy and Mineral Resources Sukhyar agree with Subandriyo. "When compared to the 1982 eruption of Mount Galunggung, I value this (Merapi eruption this time) more powerful," he said.

At that time, said Sukhyar, Galunggung have eruptions of energy which is roughly equal to the current energy Merapi. "The difference, Galunggung repay the eruption of energy expenditure during the ten months, while Merapi in just two weeks," he said.

Problem number increased activity of volcanoes in Indonesia, instead of Merapi, Sukhyar said this was not related to each other.

Surono "Interpreter Lock Merapi" With Modern Technology


"When I sign, it means it means thousands of people will be evacuated."

Not to choose a replacement caretaker of Mount Merapi, Mbah Maridjan who had died from heat clouds 'wedhus trash' on 26 October. Now, there is one name mentioned as a 'caretaker' Merapi, namely Doctor Surono.

Gray-haired and bespectacled man born July 8, 1955 it now appears every day on television, online media, radio, even print media. Each statement has always been a reference and guidance for the development of the seconds progress mountains on the border of Central Java, Yogyakarta, which is now still a Beware of that.

Once upon a time, Surono convey to VIVAnews.com how bimbangnya each time signature determination Beware status for the volcano. Just as when raising the status of Mount Merapi. "When I sign, it means it means thousands of people will be evacuated," said Surono when contacted by telephone Tuesday, November 2 last.



"Fortunately, the status information is conveyed Beware of local government. Let reporters know from my earlier, can be a mess later."


Mount Merapi upgraded its status from standby to Watch Monday, October 25, 2010 commencing at 06.00 pm. This is the highest level. Vice Regent of Sleman, Satia Yuni Rahayu received a notification letter from the Central Investigation and Technology Development Kegunungapian (BPPTK) to the Government of Yogyakarta Sleman district. The notification status of Merapi was raised from standby to alert marked No. 2044/45/BGL.V/2010.

"Fortunately, the status information is conveyed Beware of local government. Let reporters know from my earlier, can be a mess later on," said Surono said, joking. Already a week Surono become a very important resource for the media and society in the country. Warning after warning delivered Surono become a reference for all activities at Merapi. Especially for the handling of the evacuation of refugees. In fact, President Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) 'subject' on the recommendation and issued a plea Surono.



"I do not read newspapers, watch news, or anything else. Because it will affect my emotions. So, I would rather watch a football game. The reporter, answered wrong, no answer is also wrong,"

"On the mountain, I was as president, remains subject to the Pak Rono. Because he who knows the geology," said Yudhoyono at the main post in Pakem Merapi, Yogyakarta, Wednesday, November 3, 2010. '
The doings of the 'mountain of fire in Indonesia can be known from a single door, Surono. Yudhoyono also admitted it. "When Kelud (post-eruption), refugees asked if we could go home, I replied that make a statement because of Geological Pak Rono who know the condition safe or not. Let us wait statement Pak Rono," said Yudhoyono at the main post in Pakem Merapi, Yogyakarta , Wednesday, November 3, 2010. Likewise, in Sinabung. At that time, citizens who feel conditions are safe to ask permission to go home. SBY answer remains the same: "Wait, because that gives decision-Pak Rono."

Quote Surono become an important information for the community, particularly refugees. But Surono apparently never read, view or listen again every statement that has been given to the media. The reason is simple. In this high work rhythm, Surono not want to bother with all this media coverage and interpretation.

"I do not read newspapers, watch news, or anything else. Because it will affect my emotions. So, I would rather watch a football game. The reporter, answered wrong, no answer is also wrong," said Surono whose voice sounded more hoarse. He admitted, his condition continued to decline as the condition of Merapi has not subsided. In fact, "I'm getting serious vocal cords. A lot of smoking, lack of sleep."
Choice Of Presidential PalaceWho Surono? The Center for Volcanology and Geological Hazard Mitigation (PVMBG) The Ministry of Energy and Mineral Resources (EMR) that graduate degree majoring in Physics at the Institut Teknologi Bandung (ITB) in 1982. Five years later, the man who lived in Parongpong, Bandung, is flying to France to continue her studies.

In 1989, the 'elders' of this volcano holds a DEA Mechanique et Geophysique Mileux Environment from Grenoble University in Grenoble, France. As there is no pause, the same year father of two daughters returned to continue their education. Geophysics doctoral degree of success achieved Savoei University, Chambery, France, in 1993.

Before reaching the top position in the world of Volcanology. Surono was pioneered in PVMBG Karis. Surono started to become staff of the Division of volcano observation in PVMBG since 1982 until the end believed to be a Head Start PVMBG 2005.
Various expertise about kegunungapian Surono obtained from various institutions of the world. As of Unesco (Organisation of Education, Science, and Culture of the United Nations) and the USGS (U.S. Geological Survey agency). Dozens of publications on kegunungapian from Surono been published. Mbah Maridjan indeed caretaker Palace option, but not impossible Surono 'Interpreter Lock' Merapi from the Presidential Palace.President: Questions Mount, I Bowing to Pak Surono

"If I was asked, when people can go home, I tell you that the decisive factor is Pak Surono (Head of Volcanology and Disaster Mitigation),"
President Susilo Bambang Yudhoyono

Metrotvnews.com, Yogyakarta: President Susilo Bambang Yudhoyono asked residents in areas prone to disaster three Merapi is still living in refugee camps to be patient. Because until now the condition of Merapi is still unstable.
"If I was asked, when people can go home, I tell you that the decisive factor is Pak Surono (Head of Volcanology and Disaster Mitigation)," the president said at the main post Pakem after receiving an explanation from the Governor of Yogyakarta Special Region Hamengkubuwono X and Surono, Wednesday ( 3 / 11).


"During this Merapi never asked, but giving continues. So, I wait Merapi ask, then I will lower the alert status, "

SBY claims, also delivered a similar attitude when visiting the refugees in Sinabung and Kelud. About the dangers and the very least, he handed over completely to the Geological Agency. "I was obedient and subject to the Pak Surono," said SBY.

Therefore, the President once again asks the people patiently while staying in refugee camps. Even though, conditions are just different. Most importantly the refugees receive food, health services, also could move. "His name is also a shelter, so that an emergency condition. So please be patient, "said SBY.

Responding to the statement of President, Surono stated it could not predict when Mount Merapi would be safe. "During this Merapi never asked, but giving continues. So, I wait Merapi ask, then I will lower the alert status, "said Surono.