Senin, 01 November 2010

Merapi Belum Reda Dari Batuk

REPUBLIKA.CO.ID,YOGYAKARTA--Gunung Merapi itu mempunyai heterogenitas yang sangat tinggi, ada energi dari gempanya, ada energi deformasinya, ada energi dari panasnya. ''Heterogenitas itu yang menyebabkan kita tidak bisa memprediksi kapan terjadi letusan dengan tepat, dalam arti jam berapa letusan itu terjadi,''  kata  Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Surono pada wartawan di  di kantor BPPTK (Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian) Yogyakarta, Ahad (31/10) malam.

Ilmuwan yang ada hanya bisa menerangkan suatu proses yang sedang terjadi, tetapi untuk menyebutkan kapan terjadi itu tidak bisa. keilmuwan hanya bisa meyakinkan bahwa sesuatu bakal terjadi. ''Kita bisa mengetahui energi Merapi kali ini tiga kali lebih besar dari tiga letusan yang terjadi pada tahun 1997, 2001 dan 2006. Karena itu dia mengimbau kepada para pengungsi tetap berada di pengungsian .

Lebih lanjut, dia mengatakan, daerah yang harus dikosongkan dan tidak ada aktivitas masih dalam jarak 10 kilometer dari puncak Merapi. Maksudnya supaya aman. Tetapi masih ada juga warga yang tidak mau turun.

Menurut Surono letusan yang terjadi pada hari Sabtu dini hari sebetulnya tidak besar cuma masyarakat panik karena abunya sampai Yogyakarta dan sekitarnya. ''Waktu hari Sabtu (30/10) dini hari lama letusannya hanya 21 menit, sedangkan pada  waktu hari Selasa (26/10) petang  yang sampai menewaskan Mbah Marijan lamanya letusan sampai 33 menit,''jelas dia.

English Version

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA - Merapi volcano that has a very high heterogeneity, there is energy from the earthquake, there is deformation energy, no energy from the heat. Heterogeneity''is a cause we can not predict exactly when an eruption occurs, in the sense of what time of the eruption,''said Chief of Volcanology and Disaster Mitigation, Geological Agency, Ministry of Energy and Mineral Resources Surono on reporters in the office BPPTK (Center of Investigation and Technology Development Kegunungapian) Yogyakarta, on Sunday (31/10) night.

Scientists are only able to explain a process that is happening, but to say when occurs it can not. scholarly can only convince that something would happen. ''We can find the energy Merapi this time three times larger than the three eruptions that occurred in 1997, 2001 and 2006. He therefore appealed to the refugees remain in camps.
 

Further, he said, the area that must be emptied and no activity is still in the range of 10 kilometers from the peak of Merapi. The point to be safe. But there are also people who do not want to go down.
According to Surono eruption that occurred on Saturday morning was not really big just because of his ashes to panic people of Yogyakarta and its surroundings. ''Time on Saturday (30/10) early morning eruption is only 21 minutes long, while during the day Tuesday (26/10) evening to killing Mbah Marijan an eruption duration to 33 minutes,''he explained.