Selasa, 23 November 2010

Menguak Misteri Kali Opak

DEPOK, KOMPAS.com - Aliran Sungai Opak yang bermuara di Samudra Hindia, tepatnya di wilayah dekat dengan Pantai Parangtritis Yogyakarta, berbelok. Ini fenomena alam yang unik sebab umumnya sungai mengalir ke muara tanpa mengalami pembelokan arah arus.

Fenomena alam itu diteliti oleh dua orang remaja yang tergabung dalam Taman Pintar Science Club, sebuah kelompok sains yang dikelola Taman Pintar, salah satu taman bermain dan belajar yang ada di kota gudeg, Yogyakarta.

"Penelitian kami lakukan dengan observasi di lapangan dan studi pustaka untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi," ungkap Yan Restu Freski, salah satu anggota tim peneliti yang kini belajar di Fakultas Teknik Geologi, Universitas Gajah Mada (UGM), Senin (22/11/2010) di Depok. Ia meneliti bersama rekannya, Darmadi.

Di lapangan, ia mengumpulkan beberapa sampel batuan dan endapan sungai untuk melihat keterkaitannya dengan sebab-sebab pembelokan arah arus. Selain itu, ia juga melakukan studi pustaka, terutama terkait dengan arah angin di lokasi penelitiannya.

"Kami menemukan bahwa angin di wilayah Samudera Hindia di wilayah tersebut berasal dari arah tenggara menuju barat daya," ungkap Yan. Arah angin tersebut mempengaruhi arus laut yang membawa sedimen atau endapan ke daratan. Karena arah angin menuju barat daya, maka arus laut yang menuju ke bibir pantai pun menuju ke barat daya, membawa sedimen menuju ke arah yang sama.

I mengatakan aus laut itu sendiri bertemu dengan arus Sungai Opak. "Arus sungai Opak yang kuat membawa sedimen ke pantai sehingga selain ada sedimen dari laut, ada juga sedimen yang berasal dari darat yang dibawa oleh sungai," jelas Yan. Akhirnya, menurut Yan, arus sungai dan arus laut tersebut akan saling "bertempur" sehingga akan menentukan ada tidaknya pembelokan arah arus sungai di dekat muara.

Yan menerangkan, jika arah arus sungai Opak lebih kuat dari arus laut, maka arah arus sungai yang berdekatan dengan muara akan tetap lurus, tanpa membelok. Sementara, jika arus sungai tak cukup kuat, maka arah arus sungai akan membelok, seperti yang dialami oleh Sungai Opak. "Pertempuran" antara dua arus itulah yang menurut Yan menentukan ada atau tidaknya pembelokan arah arus di dekat muara sungai.

"Sepertinya di sini arus Sungai Opak yang kalah, jadi arus sungai membelok" simpul Yan.

Yan mengungkapkan, pembelokan arah arus sungai menjelang muara ini tak hanya terjadi di Sungai Opak saja. "Pembelokan terjadi mulai dari Sungai Opak hingga ke wilayah barat, sampai Cilacap, Jawa tengah," ungkap Yan. Jadi, ada beberapa sungai hingga wilayah Cilacap yang ikut berubah arah ketika hendak mendekati muara, beberapa diantaranya adalah Sungai Progo, sungai serayu dan Sungai Bogowonto.

Pembelokan arah yang hanya terjadi di wilayah sungai Opak hingga Cilacap itu terkait dengan sifat batuan yang ada di bibir pantai. "Kami membandingkan dengan Gunung Kidul. Di sana, batuan yang ada di bibir pantai adalah batu kapur yang besar, jadi arus sungai tak bisa bisa berbelok. Sementara, di kali Opak hingga Cilacap, daerah pantai terdiri atas batu-baru kecil dan pasir sehingga arus sungai mudah melawannya," jelas Yan.

Nah, sejak kapan aliran Sungai Opak itu berubah. Yan mengatakan, "Kami belum menelitinya." Mungkin perlu kajian lebih lanjut untuk mengkonfirmasi sebab-sebab perubahan tersebut, sekaligus berbagai proses alam yang mungkin mempengaruhinya.

Penelitian Yan dan darmadi menjadi salah satu finalis Lomba Karya Tulis Ilmiah Remaja ke 42 yang diadakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Keduanya mempresentasikan karyanya di Hotel Bumi Wiyata, Depok, Jawa Barat bersama 14 peserta lainnya, Senin hari ini.