Selasa, 09 November 2010

Menggapai Pekerjaan Di Masa Depan

KOMPAS.com — Pentingnya pendidikan memang tidak perlu diperdebatkan. Kita tahu bahwa hampir semua orangtua berusaha untuk mencari sekolah terbaik bagi anak-anaknya. Kita berharap sekolah akan membantu memberi arah agar individu bisa lebih siap memasuki dunia kerja.
Namun, kita sadar betapa dunia kerja semakin lama semakin kompleks, semakin bervariasi. Seorang kepala sekolah sebuah sekolah di Jakarta mengatakan bahwa manajemen sekolah perlu menegakkan disiplin keras, tidak hanya disiplin waktu tetapi sampai ke cara berpakaian siswa. Setiap anak harus menjaga agar baju atasan selalu rapi dan dimasukkan. Apa hubungannya disiplin sekolah dengan mempersiapkan siswa untuk pekerjaan di masa depan?

Sang kepala sekolah mengatakan, ”Kami menjaga komunikasi intensif, memperkuat dan mengembangkan cara pandang global, nilai, karakter, keyakinan, dan cara menilai dari anak didik kita. Ini semua demi persiapan mereka menghadapi masa depan, karena kita para pendidik dan orangtua tidak pernah bisa tahu apa bentuknya masa depan.”

Ya, dua puluh tahun lalu kita tidak pernah berpikir akan ada pekerjaan seperti computer programmer, network engineer, wedding organizer, atau financial consultant. Nandan M Nilekani, Managing Director Infosys Technologies, bahkan memperkirakan akan terciptanya 20.000 jabatan baru di tahun 2015! Bagaimana kita yang sudah ”nyemplung” di dunia kerja mempersiapkan hal ini? Sekolah seperti apa yang perlu kita cari? Training apa yang perlu kita ikuti? Bagaimana sekolah mempersiapkan lulusan ”siap pakai”, sementara jenis pekerjaan di masa depan belum jelas bentuk dan variasinya?

Kalau sebelum ini kita mengkhawatirkan bahwa dengan globalisasi, tenaga asing akan menguasai pekerjaan-pekerjaan yang sebetulnya bisa dikerjakan orang lokal, sekarang kita perlu melihat ancaman dalam pekerjaannya sendiri. Apakah dalam model bisnis di masa depan pekerjaan saya masih perlu dikerjakan secara manual? Inovasi perbankan telah menciptakan ATM sehingga orang tidak perlu lagi repot antre di bank untuk menarik, mentransfer, bahkan menyetor uang. Bagaimana kalau kita bekerja di bidang seperti ”investment banking" yang tiba-tiba punah dalam setahun? Apa yang akan terjadi apabila mahasiswa memilih bidang yang populer dan tiba-tiba terjadi surplus pada tenaga kerja karena pekerjaannya menyusut? Kita juga perlu mempertanyakan apakah industri tempat kita bekerja masih diperlukan masyarakat? Apakah kehadiran saya di kantor memang memberikan konstribusi yang signifikan?

Siaga dalam bekerja
Kita memang tidak hidup di generasi orangtua kita di mana pendidikan dan pekerjaan seperti garis linear, bisa diprediksikan dan mantap. Bukankah kita sadar bahwa pendidikan pertanian di negara kita menghasilkan sarjana ahli pertanian dan perikanan yang andal tetapi kemudian bekerja sebagai bankir, analis finance, atau pekerjaan yang sama sekali bertolak belakang dengan pendidikannya, misalnya manajer marketing susu formula? Terlepas dari tanggung jawab berprofesinya dan tidak tersedianya lapangan pekerjaan yang menjanjikan, dari sini sebetulnya kita bisa memahami bahwa kemampuan belajar dan beradaptasi adalah kunci keberhasilan di masa depan.

Seorang jagoan IT direkrut sebagai manajer di sebuah perusahaan besar. Bawahan yang trampil dan akuntabel membuat manajer ini bisa sedikit bersantai dan tinggal me-manage anak buah saja. Tanpa disadari, dalam perkembangannya, manajemen merasa bahwa manajer ini sudah tidak mampu membuat terobosan-terobosan baru dalam knowledge management dan teknologi informasi sehingga terpaksa menggantikannya dengan seseorang yang dianggap lebih ahli dan kreatif. Kemampuan teknis yang kita rasakan cukup dalam waktu singkat bisa tidak memadai lagi. Manajer ini lupa bahwa kita tidak bisa puas dengan apa yang sudah kita miliki. Banyak hal baru yang perlu dipelajari. Bukan hanya paham, tetapi juga harus mendalam. Bukan hanya terkait keahlian teknis, tetapi juga kreativitas, wawasan, dan interpersonal. Ini tentu membangkitkan kewaspadaan kita agar selalu bisa cair beradaptasi, fleksibel, dan siap menerima perubahan dengan cepat. ”Careers will come and go, as do businesses and industries. View a job as a temporary gig and learn how to springboard to the next emerging opportunities and needs,” demikian ungkap seorang futuris.

Ubah paradigma terhadap pekerjaan
Dulu kita sering terpukau dengan titel pekerjaan, seperti dokter, insinyur, bankir, manager, bahkan direktur. Namun, dalam dunia kerja yang kompleks ini kita tahu titel pekerjaan menjadi tidak terlalu berarti lagi. Kita perlu melihat pekerjaan sebagai ”set of skills” yang diaplikasikan dengan kombinasi yang berbeda-beda terhadap situasi kerja yang berbeda. Seorang dokter perlu memilih apakah ia akan menjadi ahli jamur, parasit, ataupun hal yang lebih spesifik lagi. Seorang insinyur juga perlu memilih bidang otomotif, mekatronik, atau bidang spesifik lainnya. Apabila kita bekerja di sebuah perusahaan besar, kita lebih baik mulai melihat tugas kita sebagai proyek-proyek atau kontrak-kontrak yang harus tuntas dan bernilai tambah.

Tidak peduli pada bagian lain, alias "cilo"-ing, sebenarnya adalah sikap bunuh diri yang sudah tidak bisa diterapkan lagi. Dengan melakukan networking secara kontinu, di dalam ataupun di luar perusahaan, kita justru mendapat kesempatan untuk membuka wawasan dan melihat kesempatan untuk perbaikan.
Kita juga perlu berhati-hati agar tidak terjebak semata menjalankan tugas sesuai job description karena pedoman kerja itu juga bisa menjebak kita memandang pekerjaannya sebagai tugas dan bukan ajang ”value creating” yang fresh, unik, dan bisa berkembang sesuai dengan tantangan dan tuntutan pasar.
Gejala mengejar jabatan dan merasa lega ketika mencapainya justru sekarang sudah dianggap sebagai  paradigma kuno, bahkan merupakan awal dari stagnasi karier. Jabatan perlu disikapi secara entrepreneurial untuk menciptakan kesempatan lebih lanjut.