Rabu, 24 November 2010

Korut vs Korsel

VIVAnews - Sejumlah pasar saham global bertumbangan pada perdagangan Selasa 23 November 2010 menyusul kecemasan investor atas krisis utang di Irlandia yang dikhawatirkan menyebar ke negara-negara Eropa.

Di Asia, indeks saham juga terpuruk seiring serangan Korea Utara yang menembakkan peluru artileri ke wilayah Korea Selatan.

Dalam perdagangan awal di bursa Eropa, indeks FTSE 100 di Inggris turun 0,9 persen menjadi 5.680,83, dan DAX Jerman tergelincir 0,3 persen menjadi 6.822,05.
Sementara itu, di Prancis, indeks CAC-40 terkoreksi 0,4 persen menjadi 3.788,80. Kondisi serupa juga terjadi di bursa Wall Street setelah indeks Dow futures rontok 89 poin, atau 0,8 persen di level 11.076,00.

Keterpurukan di pasar saham Eropa juga terjadi di Asia. Serangan Korea Utara terhadap tetangganya, Korea Selatan, ikut merontokkan bursa saham di kawasan Asia. Pasar saham terguncang setelah pecahnya kembali ketegangan antara dua Korea yang sempat berperang selama 1950-1953 itu.

Puluhan peluru artileri yang ditembakkan ke sebuah pulau di Korea Selatan, dekat perbatasan Korea Utara itu memicu serangan balasan kubu Korsel. Sedikitnya satu tentara Korsel dilaporkan tewas, dan tiga lainnya luka-luka.

Pecahnya serangan dua Korea itu memicu indeks Hang Seng di bursa Hong Kong jatuh 2,7 persen menjadi 22.896,14 dan India Sensex turun 2,1 persen menjadi 19.548,51.
Di kawasan Asia Tenggara, indeks Straits Times di bursa Singapura juga kehilangan 1,6 persen menjadi 19.548,51.

Namun, pasar saham di bursa Korea Selatan sudah menutup transaksinya ketika mulai terjadi serangan oleh Korea Utara. Meski demikian, indeks Kospi di bursa Korsel itu juga  terkoreksi 0,8 persen menjadi 1.928,94. Sedangkan pasar saham Jepang tutup terkait libur nasional.

Penurunan indeks saham juga terjadi pada China Shanghai Composite Index yang terkoreksi 1,9 persen menjadi 2.828,28. Namun, penurunan indeks di bursa Shanghai cenderung terimbas oleh sentimen negatif yang dikhawatirkan dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi.


Diduga Dimulai Korut
Serangan artileri dari Korea Utara (Korut) ke Korea Selatan (Korsel) di Pulau Yeonpyeong berlanjut dengan aksi saling tembak, Selasa 23 November 2010. Insiden itu membuat pemerintah Korsel langsung menggelar pertemuan darurat.

Menurut stasiun televisi CNN, Presiden Korsel, Lee Myung-bak, memerintahkan Kementerian Pertahanan untuk bertindak sesuai yang diperlukan dalam menghadapi ketegangan yang meningkat. Militer Korsel langsung siaga penuh.

Serangan dari Korut ini muncul saat militer Korsel melakukan latihan rutin di perairan dekat pulau Yeonpyeong. Perairan yang terletak sekitar 10 kilometer dari perbatasan Korut ini memang masih disengketakan oleh kedua negara.

“Angkatan Laut Korsel sedang latihan di perairan dekat perbatasan hari ini. Korut sebelumnya memang telah mengirimkan surat protes mengenai latihan itu. Saat ini kami sedang memeriksa keterkaitan antara protes tersebut dengan serangan yang terjadi,” ujar seorang juru bicara presiden yang tidak disebutkan namanya seperti dilansir kantor berita Korsel, Yonhap.

Yeonpyeong adalah pulau kecil yang terletak 80 kilometer dari sebelah barat pelabuhan Inchon, Korsel. Lokasinya yang berdekatan dengan perbatasan Korut di Laut Kuning menjadikan pulau berpenduduk 1.300 orang ini rawan serangan dari Korut.

Sedikitnya satu tentara dari Angkatan Laut Korsel tewas dan 13 lainnya serta dua warga sipil cedera. Puluhan rumah juga terbakar, asap masih membumbung saat adu balas tembakan terjadi.

Korut sedikitnya melancarkan 200 kali tembakan artileri ke Pulau Yeonpyeong mulai pukul 14.30 waktu setempat. Korsel lalu membalas dengan melontarkan 80 kali tembakan artileri dan mengerahkan jet-jet tempur.

Penduduk diungsikan ke sekolah-sekolah dan bunker, bahkan diantara mereka ada yang meninggalkan pulau untuk menuju pulau utama yang berjarak 145 kilometer.
Kedua Korea sempat berperang selama 1950-1953. Kendati menerapkan gencatan senjata, kedua negara itu hingga kini belum membuat perjanjian damai sehingga masih berstatus siaga perang.

Saling Tuduh
Dua Korea kembali bergejolak, ditandai dengan serangan artileri Korea Utara (Korut) ke Pulau Yeonpyeong di Korea Selatan (Korsel), Selasa 23 November 2010. Korsel pun membalas dengan tembakan artileri dan serangan udara.

Kantor berita Associated Press mencatat, hingga Selasa malam, dua tentara Korsel tewas dan 16 lainnya terluka akibat baku tembak itu. Belum ada keterangan apakah ada korban jatuh dari pihak Korut.

Kedua Korea saling tuduh mengenai siapa penyulut gejolak kali ini. Korsel, seperti dikutip kantor berita Yonhap, menuding Korut sebagai pihak pertama pemantik konflik. Sebaliknya, kantor berita Korut KCNA, menyebutkan Korsel pertama kali melontarkan tembakan. Tampaknya tuduhan itu merujuk kepada latihan militer yang dilakukan Korsel di perairan dekat Yeonpyeong.

Bermula dari latihan militer
Ketegangan itu dimulai saat Korut memberi peringatan kepada Korsel agar tidak menggelar latihan militer di perairan dekat Pulau Yeonpyeong. Wilayah di Laut Kuning itu masih dalam sengketa antar kedua negara.
Sejak akhir Perang Korea 1950-1953, Korut tak mengakui batas maritim wilayah Barat, yang dianggap ditetapkan sepihak oleh Perserikatan Bangsa-bangsa, saat mengatur gencatan senjata kedua negara.

Peringatan Korut itu tak digubris oleh Korsel, yang merasa berhak menggunakan perairan itu untuk latihan perang. Maka, tak lama setelah latihan militer Korsel dimulai, terdengar gemuruh tembakan artileri dari Korut. Masalahnya, tembakan itu tak mengarah ke lokasi latihan militer, tapi ke Pulau Yeonpyeong, yang dihuni warga sipil dan militer.

“Kami sedang melakukan latihan angkatan laut, darat dan udara di wilayah ini. Mereka sepertinya keberatan,” ujar seorang tentara kepada stasiun berita YTN seperti dilansir dari laman Telegraph.

Serangan artileri Korut ke sasaran sipil Korsel, Selasa 23 November 2010, itu dinilai sebagai terparah dalam 20 tahun terakhir. Harian The Telegraph mengingatkan serangan Korut sebelumnya adalah pengeboman pesawat Korean Air pada 1987. Itu adalah serangan Korut pertama atas Korsel sejak akhir Perang Korea 1950-1953. Sekitar 104 penumpang, dan 11 awak pesawat itu tewas dalam aksi yang dilakukan agen intelijen Korut.

Suksesi di Korut?
Menurut kalangan pengamat, serangan di Yeonpyeong itu diduga sebagai upaya Korut mencari perhatian dunia atas rencana suksesi dari kepemimpinan Kim Jong-il kepada putranya, Kim Jong-un. Jong-un telah diperkenalkan kepada publik Korut dalam suatu parade militer Oktober lalu.

Kalangan pengamat menilai suksesi kepemimpinan akan ditandai oleh serangkaian upaya provokatif untuk menunjukkan kekuatan militer Korut. Selain itu, pada pekan ini juga, Korut mengungkapkan pengayaan uraniumnya yang ditakutkan akan digunakan untuk membuat senjata nuklir.

Profesor Chu Shulong, pengamat dari Universitas Tsinghua di Beijing, China, menilai Korut dari dulu selalu membuat gara-gara untuk mencari perhatian internasional. "Setelah mendapat perhatian, mereka akan memulai putaran perundingan dan mendapat bantuan dari negara-negara lain. Itulah yang mereka lakukan dalam 20 tahun terakhir," kata Chu seperti dikutip harian The Guardian.

Mantan menteri luar negeri Korsel, Han Seung-joo, menilai aksi Korut itu tampaknya cenderung sebagai pesan kepada publik domestik ketimbang pihak luar. Ini untuk menggalang solidaritas di dalam negeri, bahwa mereka masih bisa unjuk kekuatan kepada musuh-musuh kapitalis, yang diwakili oleh Korsel dan sekutunya, Amerika Serikat.

Siaga perang sejak 1953
Pada tahun ini, tercatat telah dua kali militer dua Korea terlibat kontak fisik dengan korban jiwa. Pada Maret lalu, satu kapal patroli Korsel ditorpedo oleh kapal selam Korut. Sekitar 46 pelaut Korsel tewas. Korsel sudah memperlihatkan bukti, namun Korut membantah penyerangan itu.

Kini muncul serangan artileri dari Korut ke Yeonpyeong, pulau milik Korsel yang letaknya sekitar 120 km dari sebelah barat Ibukota Seoul. Yeonpyeong hanya berjarak sekitar 80 km dari Kota Incheon, yang menjadi lokasi bandar udara internasional terbesar Korsel.
Serangan artileri ini, bila tetap terjadi, diperkirakan mengancam keselamatan penerbangan komersil. Bandara Incheon adalah salah satu pusat layanan penerbangan internasional di Asia. Serangan itu juga berpengaruh pada turunnya harga-harga saham di Korsel.   

Kedua Korea sebenarnya masih dalam keadaan siaga perang karena Perang 1950-1953 hanya diakhiri oleh gencatan senjata dan bukan oleh perjanjian damai. Itulah sebabnya kedua negara itu terus bersengketa secara fisik walau beberapa kali muncul upaya rekonsiliasi dalam kurun lebih dari 50 tahun terakhir.

Zona panas Yeonpyeong
Klaim batas maritim di bagian barat Semenanjung Korea adalah salah satu biang konflik Kedua Korea. Kebetulan, Pulau Yeonpyeong berada di tengah zona panas itu.
Berpenduduk sekitar 1.600 jiwa, Yeonpyong pada 1970an juga pernah diklaim Korut sebagai wilayahnya. Sebagian besar warga sipil di pulau itu adalah nelayan. Di Yeonpyeong juga didirikan markas militer, dan ditempati 1.000 tentara Korsel

Penduduk di pulau ini sudah terbiasa dengan agresi militer. Pada Juni lalu, Korut menembakkan 130 peluru artileri ke arah pulau Yeonpyeong sebagai bentuk protes atas latihan gabungan Korsel dan AS di Laut Kuning. Beruntung, hanya sekitar 10 peluru yang melewati perbatasan dan kesemuanya jatuh di laut.

Delapan tahun lalu, 13 tentara angkatan laut Korut dan empat angkatan laut Korsel terbunuh saat kedua tentara kedua pihak berbalas tembak di perbatasan Korut. Itu sebabnya, warga pulau itu selalu bersiap untuk keadaan perang.

Di Yeonpyeong, misalnya, terdapat 19 tempat penyimpanan bom. Setiap bulan penduduk setempat melakukan latihan antisipasi serangan udara dari Korut. Untuk persiapan, penduduk juga selalu menyimpan topeng gas di rumah.