Sabtu, 13 November 2010

Kisah Unik Seputaran Dunia Kesehatan

VIVAnews – Peristiwa yang terjadi di Bristol, Inggris, ini benar-benar mengejutkan. Curtis Francis, bocah berusia 12 tahun, menelan sebuah gunting hingga menyangkut di kerongkongan. Beruntung, dia selamat dengan hanya mengalami cedera ringan, seperti dikutip dari The Sun.

Tanpa sepengetahun Karon Edwards, sang ibu, Curtis tanpa sadar memasukkan gunting yang sedang dipegangnya ke dalam mulutnya. Ketika Karon melihat anaknya batuk darah, ia baru menyadari ada sesuatu yang salah dialami Curtis.

"Aku hanya berpikir dia menelan tutup pena. Tapi, ya Tuhan, ternyata yang ia telan adalah sebuah gunting," ujar Karon.

Melihat ujung bagian gunting yang masih 'menyembul' di ujung kerongkongan anaknya, Karon panik. Ia langsung memanggil paramedis. Bocah malang ini selanjutnya dilarikan dengan ambulans ke Bristol Royal Infirmary. Di rumah sakit inilah dokter berhasil mengeluarkan gunting itu.

“Pada saat ambulan tiba, aku dan Curtis menangis. Ketika kami sampai rumah sakit dan diberitahu ada gunting di kerongkongannya, aku sangat khawatir,” kata Karon.

Curtis sangat beruntung. Dia tidak mengalami kerusakan fisik secara permanen. Saat ini, Curtis sedang menjalani pemulihan dari luka akibat bagian ujung gunting yang tajam.

Ternyata, kejadian menakutkan ini bukan baru sekali dialami Curtis. Sebelumnya, tutup pena juga pernah ditelannya. "Waktu itu, tutup penanya berhasil dikeluarkan, karena ukurannya tidak terlalu besar," ucap Karon dengan wajah menunjukkan rasa cemas.

Berbeda dari anak sebayanya, Curtis memang tergolong anak berkebutuhan khusus. Ia tidak peka terhadap bahaya. "Saya memang harus mengawasinya sepanjang waktu. Tapi, aku lengah saat dia menelan gunting tersebut," kata Karon yang menceritakan kejadian pada 11 Agustus 2010. "Itu adalah hari terburuk dalam hidupku. Sungguh mimpi buruk. Sekarang, saya harus lebih berhati-hati menjaganya.”

Selama 3 Tahun Cegukan Tiap 2 Detik
VIVAnews - Bagi kebanyakan orang, cegukan, yang seringkali mengganggu, hanya berlangsung beberapa menit. Namun, bagi Christopher Sands, cegukan telah membuat hidupnya sengsara selama tiga tahun.

Cegukan atau kontraksi otot diafragma yang muncul dengan interval cukup teratur ini dialami pria yang akrab disapa Chris ini tiap dua detik sekali. "Seringkali cegukan yang saya alami cukup parah, sehingga saya tak bisa bernapas. Bahkan saya sering pingsan, karena kondisi ini," katanya seperti dikutip dari laman The Sun.

Parahnya, cegukan yang dialami Chris juga muncul saat ia tidur. "Ketika saya terbangun, tubuh terasa sakit sekali."

Akibat cegukan yang tidak mau berhenti itu, tidak hanya sulit tidur, Chris juga menjadi sulit bicara dan makan. Penderitaan aneh ini telah dirasakan sejak September 2006 hingga Agustus 2009. Jika diakumulasi, Chris cegukan sebanyak 20 juta kali dalam tiga tahun.

Ketika merasa bingung dengan apa yang dialaminya, Chris sempat melakukan serangkaian tes dan scan reguler. Tapi, tidak kunjung menemukan penyebabnya. Saat berat badannya turun secara drastis, Chris sempat akan menjalani pembedahan perut untuk mencari tahu apa yang salah. Namun, tidak juga dapat jawaban.

Hingga akhirnya pada Agustus 2009, Chris pergi ke Tokyo, Jepang, dan melakukan pemeriksaan scan MRI. Ternyata ditemukan pertumbuhan tumor sebesar 1,2 cm di batang otaknya. Dokter mendiagnosis tekanan dari tumor yang tumbuh tersebut bisa memengaruhi sistem saraf sehingga memicu Chris tidak berhenti cegukan.

Walaupun dokter telah memberikan peringatan, tumor yang ada di kepalanya tidak dapat dioperasi, namun Chris bersikeras menjalani operasi otak. Akhirnya, sebulan setelah didiagnosis, Chris jalani operasi itu di Royal Hallamshire Hospital di Sheffield, Yorks, Inggris.

Operasi yang dilakukan berhasil mengangkat 60 persen dari tumor, dan membuat cegukannya berkurang secara signifikan.
Sayangnya, operasi itu memiliki efek samping yang menyerang tubuhnya. Setelah sadar dari operasi, Chris menderita mati rasa pada bagian kiri tubuhnya dan mengalami kesulitan dalam koordinasi. Dokter mengungkapkan dibutuhkan waktu sekitar 3 tahun agar bisa kembali normal.

Meskipun mengalami mati rasa dan kesulitan koordinasi, tapi perkembangan Chris justru lebih baik dari pada yang dibayangkan oleh dokter sebelumnya. Chris tetap berharap di masa depan akan ada bantuan besar yang bisa membantunya untuk bisa hidup normal kembali.

Kesimpulannya, jangan sepelekan cegukan yang terjadi dalam waktu lama dan berlangsung terus menerus, atau bahkan permanen. Kondisi itu bisa menjadi gejala dari penyakit. Gejala ini biasanya berhubungan dengan adanya masalah di otak, seperti tumor otak, stroke, atau adanya infeksi di susunan saraf otak.

Kematian Mengancam Di Saat Tertawa
VIVAnews - Setiap ibu pasti menginginkan anaknya bisa selalu menunjukkan emosi baik tertawa ataupun menangis. Tetapi, tidak bagi Tina Cleveland. Ibu berusia 42 itu harus menjaga anak balitanya, Holly, agar tidak terlalu emosi dan di luar kontrol karena bisa membuat jantungnya berhenti.

Holly, yang berusia dua tahun mengalami kondisi yang disebut "Reflex Anoxic Seizures" (RAS). Hal ini disebabkan oleh kondisi kurangnya darah dari jantung ke otak. Kesal, nyeri, kelelahan atau kegembiraan dapat memicu serangan jantung dan menewaskan Holly, ia akan berhenti bernapas selama 20 detik. Sebelum terdiagnosis terkena RAS, Tina memberitahu Holly agar tidak nakal dan menahan napasnya saat sedang tantrum (mengamuk).

"Seringkali orang berpikir dia menahan napas karena marah, tetapi itu terjadi karena kondisi jantungnya," kata Tina, seperti dikutip dari The Sun.

Belum adanya perawatan khusus dan obat untuk Holly. Tina dan suaminya Ray hanya bisa mencegah agar Holly tidak terlalu lelah secara fisik maupun emosi. Karena, jika Holly terlalu sedih atau terlalu senang jantungnya bisa berhenti tiba-tiba.

"Saat dokter mengatakan aku harus membuat Holly tidak terlalu senang dan sedih, aku merasa terkejut. Karena hanya itulah yang dilakukan balita," kata Tina menambahkan.

Pada Oktober tahun lalu, ketika usia Holly 20 bulan, Tina dan Ray meminta adiknya, Nicola, untuk menjaga Holly dan anak laki-laki mereka Ryan. Tapi, ketika Tina dan Ray kembali ke rumah mereka ada pesan dari anak tiri Nicola, Alex yang mengatakan sesuatu yang buruk telah terjadi.

Ray menjelaskan,  Holly pingsan dan berhenti bernapas. Ketika di rumah sakit, suster menjelaskan, Holly sempat tidak bernapas selama beberapa waktu. Gadis kecil ini langsung dimonitor untuk mengetahui kondisinya lebih detail.

"Holly dikeliling mesin bantu napas. Sangat menyedihkan, aku takut terjadi sesuatu pada putri kecilku," kata Tina.

Dokter mengatakan pernah ada kondisi seperti yang dialami Holly. Hari berikutnya Holly didiagnosis dengan RAS dan Tina terkejut karena dokter mengatakan bahwa dia tidak menahan napas karena marah dan menderita kejang karena kekurangan suplai darah ke otak. Gejala kejang dan henti napas yang terjadi pada Holly rata-rata satu hingga tiga kali dalam seminggu.

Sehari Bisa Tertidur 100 Kali
VIVAnews - Claire Allen, seorang wanita usia 35 tahun, menderita serangan 'cataplexy' yang merupakan gejala langka narcolepsy (kelainan tidur kronis). Dengan dipicu oleh emosi kuat, seperti rasa takut, terkejut atau tertawa, Claire bisa kehilangan kendali atas tubuhnya dan langsung tertidur secara mendalam meskipun ia sadar apa yang terjadi.

Setiap serangan berlangsung antara 30 detik sampai lima menit, serangan yang terburuk bisa mencapai 100 kali per hari. Sebuah 'kejutan' ringan atau lelucon yang membuatnya tertawa dapat memicu serangan sehingga membuat dirinya tak berdaya tertidur, bahkan bisa sampai terjatuh di lantai.

Untuk mengatasi serangan ini Claire mengonsumsi obat bernama Xyrem, yang baru dikembangkan untuk membantu para penderita narcolepsy. Claire menggambarkan bagaimana ia kehilangan pertama kemampuan bicara dan penglihatannya sebelum mengonsumsi obat tersebut.

"Serangan disebabkan emosi berlebihan. Tetapi, tertawa adalah pemicu utamanya. Gejala pertama, kepala terasa lemas, dan tak bisa ditahan seperti anak kecil mengantuk yang mencoba untuk tetap terjaga. Setelah enam bulan, terjadi serangan cukup hebat dan tubuh terasa lunglai," kata Claire, seperti dikutip dari Telegraph.co.uk.

"Beberapa tahun lalu, aku berhenti mengonsumsi segala macam opbat. Aku mulai meneliti gejala yang ada, serangan mencapai seratus kali per hari. Aku menemukan serangan terjadi setelah berinteraksi dengan orang lain. Tidak ada rasa sakit tetapi aku tidak bisa bicara dan berkomunikasi tentang apa yang terjadi. Setelah itu dikuti kehilangan penglihatan kemudian tubuh lunglai," ujarnya menambahkan.

Narkolepsi menyebabkan gangguan parah pada pola tidur dan Claire, yang bekerja sebagai seorang peneliti di British Antarctic Survey, terjaga sekitar 20 sampai 30 kali setiap malam. Dengan mengonsumsi Xyrem, Claire dapat tidur panjang selama sekitar tiga setengah jam. Ia pun harus mengonsumsi kembali obat tersebut pada tengah malam untuk bisa cukup tidur.

"Selama lima tahun aku tidur tidak lebih dari satu jam. Jadi, ketika aku tidur lebih dari tiga jam itu merupakan keajaiban. Banyak orang yang mengalami hal ini dan tidak terdiagnosis gangguannya. Dengan mengungkapkan pada publik gejala yang aku alami, semoga bisa membantu," kata Claire.

Peneliti menemukan bahwa narcolepsy dapat menyebabkan ketidakteraturan sel otak yang mengontrol hormon tidur, hypocretin. Diperkirakan 25.000 orang Inggris mengalami narcolepsy dan tidak terdiagnosa.

"Gangguan narcolepsy tidak bisa menunggu lebih dari satu dekade untuk didiagnosis. Kualitas hidup penderitanya bisa sangat terpengaruh jika tidak segera diobati.  Mereka menghindari mengemudi. Mereka takut untuk merawat anak mereka sendiri bahkan untuk mandi," kata Dr John Shneerson, dari Papworth Hospital's Sleep Centre dari Cambridge, seperti dikutip dari Telegraph.co.uk.

Claire juga mengatakan ia berhenti mengemudi mobil selama lima setengah tahun setelah terdiagnosis narcolepsy. Pengobatan yang saat ini dijalaninya juga membuatnya bisa tidur lebih normal yang berdampak positif pada pertumbuh rambut dan kukunya.

"Dokter mengatakan narcolepsy dapat menurunkan pertumbuhan kuku dan rambut karena keduanya tumbuh saat kita tidur. Aku selama bertahun-tahun tidak tidur dengan normal. Aku tetap berharap hidupku kembali normal," kata Claire.