Jumat, 19 November 2010

Bende Sunan Bonang Berbunyi Lagi

REMBANG, KOMPAS.com--Bende Becak, sebuah gong kecil yang konon merupakan jelmaan seorang utusan Brawijaya V atau becak, pada Rabu 10 Dzulhijah kembali bersuara.

Gemanya bisa terdengar tidak hanya oleh warga Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, tetapi sampai di Banyuwangi Jawa Timur.

Bukan karena bunyi suaranya yang bertalu-talu, melainkan semangat Sunan Bonang dalam menyiarkan Islam pada abad ke-15 melalui gong kecil, ternyata mampu menghadirkan ratusan warga untuk datang menghadiri ritual penjamasan Bende Becak yang digelar setahun sekali, yakni setiap 10 Dzulhijah.

Pada sekitar tahun 1510 Masehi, Sunan Bonang pernah mengirim surat kepada Raja Majapahit Brawijaya V. Sunan Bonang adalah salah satu tokoh Wali Songo, termasuk ayahnya, Sunan Ampel. Nama aslinya, Raden Maulana Malik Ibrahim yang lahir 1465 M.

Sunan Bonang meminta Brawijaya V, sang penguasa Nusantara, memeluk Islam. Namun, Brawijaya menolak dan mengirim seorang utusan bernama Becak untuk menyampaikan surat penolakan itu kepada Sunan Bonang.

Sang utusan Majapahit itu pun tiba di kediaman Sunan Bonang, di Hutan Kemuning, sekarang Desa Bonang, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, menjelang maghrib sebelum hari raya Idul Adha.

Setelah menyerahkan surat itu, Becak beristirahat dan menembang lagu-lagu Jawa. Alunan tembang itu mengganggu Sunan Bonang yang sedang mengaji bersama sejumlah muridnya.

Sunan Bonang menanyakan suara yang mengganggunya tersebut kepada santrinya. Si santri menjawab, suara itu adalah suara Becak (utusan Raja Majapahit) yang sedang `nembang` (bernyanyi).

Sunan Bonang mengatakan, suara itu bukan suara Becak, tetapi bende atau gong kecil. Setelah santri itu mengecek ke asal suara, si Becak sudah tidak ada lagi dan berubah wujud menjadi bende.

"Sunan Bonang memakai bende itu untuk mengumpulkan masyarakat mendengar syiar Islam, menjalin kerukunan, dan peringatan tanda bahaya," kata juru kunci Benda Becak Sunan Bonang sekaligus tokoh masyarakat Desa Bonang, Abdul Wahid, Rabu (17/11).

Hingga kini, Bende Becak itu masih ada dan tersimpan di rumah juru kunci tersebut. Setiap 10 Dzulhijah, saat hari raya Idul Adha, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan juru kunci menjamas Bende Becak tersebut.

Dalam upacara itu, juru kunci menyediakan air bunga jamasan di lima tempat, ketan kuning dengan unti atau parutan kelapa bercampur gula jawa. Juru kunci menaruh ketan kuning itu di atas rakitan potongan bambu.

Setelah tokoh agama dan masyarakat menjamas Bende Becak serta batu penabuhnya, ketan kuning plus unti, wadah ketan kuning, dan air bekas jamasan, dibagikan ke masyarakat. Mereka datang dari berbagai kota, antara lain Rembang, Demak, Pati, dan Banyuwangi.

Wadrun (45), pengunjung asal Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur, mengatakan, ketiga uborampe tersebut adalah berkah dari Sunan Bonang. Warga pun kemudian meyakini air bekas jamasan Bende Becak dan ketan kuning itu dapat menyembuhkan sakit.

"Saya memperoleh rakitan bambu wadah ketan kuning, saya akan memasangnya di rumah untuk keselamatan," katanya.

KH Abdur Rahim, ulama setempat mengatakan, penjamasan Bende Becak merupakan pengingat bagi warga atas semangat syiar Islam Sunan Bonang di pesisir Rembang. Penjamasan itu bertujuan mengingatkan pemeluk Islam agar mau memperjuangkan dan menghidupkan Islam sebagaimana dicontohkan Sunan Bonang.

"Peristiwa tersebut mengingatkan pemeluk Islam untuk hidup rukun dan bersaudara. Tidak boleh bertentangan dan saling memerhatikan," katanya.