Jumat, 12 November 2010

3 Vulkanolog Bantuan Asal Jepang Puji PVMBG Indonesia

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Tiga ahli vulkanologi dari Jepang akan membantu meneliti letusan Gunung Merapi di perbatasan wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Menurut Direktur Penerangan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Jepang di Indonesia, Masaki Tani, di Yogyakarta, Kamis (11/11/2010), ketiga vulkanolog Jepang itu  akan membantu survei tentang bencana letusan Merapi. Mereka adalah Kenji Nogami, Masuto Iguchi, dan Takayuki Kaneko.

Selain itu, kata Masaki Tani, ada seorang ahli di bidang penyakit saluran pernapasan, Satoru Ishii yang ikut dalam tim tersebut. "Mereka kini telah berada di kawasan bencana letusan Gunung Merapi di Yogyakarta. Mereka merupakan tenaga ahli bantuan darurat internasional," katanya.

Ia mengatakan, Kenji Nogami merupakan pakar dari Institut Teknologi Tokyo Jepang, Masuto Iguchi (Universitas Kyoto Jepang), dan Takayuki Kaneko (Universitas Tokyo Jepang). Mereka berada di Yogyakarta untuk meneliti bencana letusan Gunung Merapi, dan direncanakan cukup lama.

Sebelumnya, Masato Iguchi mengatakan, letusan Merapi yang  beruntun sulit diprediksi, sehingga langkah yang perlu dilakukan saat ini adalah memperkirakan bagaimana kondisi magma yang masih terkandung dalam perut gunung itu.

"Persoalan seperti ini sering ditemui di berbagai letusan gunung berapi lain, bukan hanya di Gunung Merapi," kata Iguchi di kantor Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, Rabu.

Meski demikian, ia memuji langkah yang diambil Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral.

Pasalnya, mereka mampu meramalkan cukup tepat sebelum terjadinya letusan pada 26 Oktober 2010 karena sehari sebelumnya instansi tersebut memutuskan untuk menaikkan status Gunung Merapi dari "siaga" ke "awas".

"Merupakan langkah tepat jika PVMBG menaikkan status menjadi awas," katanya. Sejumlah ahli vulkanologi dari dalam dan luar negeri seperti Jepang, AS, Prancis, dan Indonesia akan membantu pemantauan Gunung Merapi, karena gunung tersebut adalah laboratorium alam yang terbuka bagi siapa pun.

Sementara itu, BPPTK Yogyakarta akan memasang tiga alat pendeteksi aliran lahar dingin yang disebut "Acoustic Flow Measurement" di Kali Gendol dan Kali Boyong yang berhulu di Gunung Merapi.
"Alat itu untuk deteksi dini aliran lahar dingin yang merupakan ancaman sekunder dari letusan Gunung Merapi," kata Kepala BPPTK Yogyakarta Subandrio, di Yogyakarta, Kamis.

Menurut dia, alat tersebut akan mengirimkan sinyal jika ada lahar dingin yang mengalir melebihi batas standar tertentu yang sudah ditetapkan sebelumnya.

Pemasangan alat deteksi dini lahar dingin tersebut terkait dengan  endapan material vulkanik hasil letusan Gunung Merapi yang  memenuhi 11 sungai yang berhulu di Gunung Merapi yaitu Kali Gendol, Kali Boyong, Kali Bedog, Kali Krasak, Kali Bebeng, Kali Sat, Kali Lamat, Kali Senowo, Kali Trising dan Kali Apu.

English Version

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Three volcanology experts from Japan will help to examine the eruption of Mount Merapi in the border area of Yogyakarta Special Region and Central Java.

According to the Director of Information and Culture of the Japanese Embassy in Indonesia, Masaki Tani, in Yogyakarta, on Thursday (11/11/2010), the third Japanese volcano that will help survey about the eruption of Merapi. They are Kenji Nogami, Masuto Iguchi, and Takayuki Kaneko.

In addition, said Masaki Tani, there is an expert in respiratory diseases, Satoru Ishii who took part in the team. "They are now located in the area of the eruption of Mount Merapi in Yogyakarta. They are experts of international emergency aid," he said.

He said, Kenji Nogami an expert from Japan's Tokyo Institute of Technology, Masuto Iguchi (Kyoto University of Japan), and Takayuki Kaneko (University of Tokyo, Japan). They are in Yogyakarta to study the eruption of Mount Merapi, and planned a long time.

Previously, Masato Iguchi said the eruption of Merapi unpredictable streak, so the steps that need to be done now is to predict how the magma is still contained in the belly of the mountain.

"Issues like this are often encountered in many other volcanic eruptions, not only at Mount Merapi," said Iguchi in the office of Investigation and Technology Development Center Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta on Wednesday.

Nevertheless, he praised the steps taken by the Central Geological Hazard Mitigation Volcanology Geological Agency Ministry of Energy and Mineral Resources.

The reason, they were able to predict quite precisely before the eruption on October 26, 2010 as the day before that agency decided to raise the status of Mount Merapi from "alert" to "alert".

"It is the right step if PVMBG raise the alert status," he said. A number of volcanology experts from within and outside the country such as Japan, USA, France, and Indonesia will help to monitor the Mount Merapi, because the mountain is a natural laboratory that is open to anyone.

Meanwhile, BPPTK Yogyakarta will install three detectors cold lava flow, called "Acoustic Flow Measurement" in Kali Kali Gendol and Boyong who tipped at Mount Merapi.