Jumat, 15 Oktober 2010

Wisata Nasib

Datangnya dari penjual kopi yang selalu tersenyum lugu pada siapapun yang tengah ia temani bicara dan layani. Juga seruak speaker yang menjanjikan harapan pada manusia yang datang di tengah malam untuk berhibur diri. Bahkan makin menguat ketika tragedi yang menimpa keluarga pendatang di kerumunan alun-alun kota Bojonegoro dengan pakaian necis dan bantuan tangan trampil anaknya mengenyam penghidupan barunya.

Seorang penjual kopi yang berusia 24 tahun bangkit dengan segenap biaya yang terkumpul sedikit demi sedikit untuk membangun ‘istana’ kulakan kopi ‘indahnya’ di gigir Alun-alun Bojonegoro yang terkadang senyap dan terkadang riuh oleh gemar berkumpulnya masyarakat pada luangnya waktu. Ia menanggalkan tamparan nasib kelamnya juga bekas di pipinya yang menyajikan dendam untuk bergiat dengan berikhtiar pada nasib hidup barunya. “Alhamdulillah kulo sampun mampu tuku sepeda saiki,” cetusnya sambil mengumbar tawanya. Sedikitnya, guratan ingatan kelamnya menyeruak pada pandanganku menembus remang lampu sentir warung kopinya. Tidak ada yang istimewa terlihat namun menakjubkan pada alasannya.

“Kulo dulu dianggap bukan siapa-siapa! Taunya Kulo orang yang diam kalau diapa-apakan. Malah waktu Kulo dapet rezeki mulai bekerja di CafĂ©, Kulo disemena-menakan oleh majikan. Pokoknya diperlakukan layaknya bukan manusia deh,” ujarnya terbata campur aduk berdualisme bahasa. “Dari bekerja di sana juga, Kulo mengambil hikmah dan bersyukur akhirnya bisa punya sepeda ini,” sergahnya.

Sepeda yang sederhana dengan fungsi yang tidak sederhana. Digunakan bolak-balik mengantarkan peruntungannya di ujung Alun-alun Bojonegoro lewat kulakan kopinya. Nyatanya transportasi bersejarah tua ini meringankan langkahnya menjawab sebagian dirinya kini.

Berbeda dengan Tukang Es Buah di perempatan jalan dekat Sekolah Polisi Bojonegoro yang juga berada di lingkungan sekitar Alun-Alun. Pakaian necis di usia paruh bayanya membuatku takjub dengan profesi yang sering identik ditampilkan sangat bersahaja. Pembeli yang datang silih berganti membuatnya bersibuk dengan racikan menunya untuk disodorkan pada mereka penikmat kesegaran es di malam hari Bojonegoro. Anak perempuannya yang meremaja tak kalah sigap membantu ayahnya tersebut dengan ketrampilan mencuci dan mengolah menu. Klop rasanya mereka berduet.

Masa kejayaannya musnah dalam pertempuran antar etnis di belahan Kalimantan sana. Istri dan sanak familinya terpenggal kepalanya dan desanya terbumi hangus oleh penduduk asli yang terusik oleh sikap kaum pendatang. Mayat-mayat dari perang antar etnis tersebut membuatnya hengkang dengan perasaan remuk redam beserta jatuhnya kejayaannya sebagai pengusaha kecil-kecilan di Kalimantan. Maka sekarang ia memilih Bojonegoro sebagai tempat hidup barunya bersama anak perempuannya bernaung rumah kontrakan dan berdagang es buah. Namun kecintaannya akan tanah rantauannya rupanya masih belum musnah oleh dendam atau hanya mengenang keberadaannya di sana. Ia menamai dagangannya: Es Buah Khas Kalimantan.

Itu kusaksikan pada malam Sabtu. Di Minggu malam, hal yang sama remang-remang datang dari sudut kota yang meminggir dari pusat keramaian Alun-alun. Dua warung dengan botol-botol minuman beralkohol mencari simpati menyedot tamunya masing-masing lewat wanita dan nanggep musik tradisional. Satunya mendapat tamunya yang terus menerus berjoged dalam pengaruh alkohol masyuk mengikuti dendang irama vokal karaoke dan instrumen tradisional Gong dan gamelan. Ia tak bergeming dengan anggapan tidak singkronnya goyangannya dengan musiknya. Kenikmatannya tak kunjung lelah dengan meminta musik berbunyi terus di kala penghabisan lagu dengan menyodorkan dua ribu rupiah untuk lagu selanjutnya dan selanjutnya.

Berbeda pula dengan warung satunya yang menghentikan musik karena tamunya kelelahan dan pulang. Setidaknya dua sumber suara berkurang satu dan menambah kelelapan penidur yang menggelosor di depan toko-toko. Malam yang terlalu malas dilewati waktunya oleh meleknya mata menjemput pagi.

Tukang becakku sudah nampak terkantuk-kantuk dalam kayuhannya. Rokok Dji Sam Soe yang dihisapnya tak mampu menormalisasi kesadarannya yang menurun. Padahal ketika mendengar imbalan yang kuberikan, ia sempat bersemangat dan menghantarkanku ke seluruh ujung kota. Nafas tuanya terdengar bernafsu menggenjot becaknya menelusuri rongga kota Bojonegoro Minggu malam yang senyap.

Entah karena sindiran tukang kopi wanita yang menegur keras karena bisikannya kepadaku tentang warung kopinya yang kecil, ia seperti ditumbuhi rasa bersalah atau merasa dipermalukan oleh penjual kopi wanita itu dengan kata-kata nyelekit. “Sing tekan ning rene dudu orang sembarangan. Akeh cah anom’e. Tukang becak mawon ra’ wani mlebu rene…,” begitu kudengar kata-kata penjual kopi wanita terhadapnya. “…kok sampeyan grumung…,” tambah penjual kopi bernada kesal.

Kuputuskan kalimat kekesalannya yang ditujukan pada tukang becakku dengan mengalihkan pembicaraan lainnya. Bapak tua itu sedikit mengerti tentang situasi yang tak nyaman baginya dengan menanggapi lontaran kisah hidupnya sepanjang mungkin kepadaku. Tak lama aku dengan bapak tua penarik becak carteranku berkeliling lagi.

Nampaknya ia shock yang mengendurkan semangatnya mengantarku keliling kota Bojonegoro. Sesekali matanya melirik arlojinya, lalu ditimpali kantuk ditengah hembusan asap rokoknya. Aku memutuskan pulang ke hotel dan mengakhiri perjalanan keliling kota Minggu malam.

Aku menamai perjalanan tersebut sebagai wisata nasib. Pemandangan tentang semangat penjual kopi berusia 24 tahun dengan pengharapan ikhtiar nasib barunya, seorang ayah dengan anak perempuannya yang menghempaskan diri di Bojonegoro menata kehidupan barunya dari kepahitan hidup akibat pertempuran suku, wanita malam penyemarak kesenyapan malam di kota kecil, tunawisma yang terlelap beristirahat menunggu pagi buta, Ketersinggungan si wanita pemilik warung kopi kecil disentil perkataan kaum kecil si tukang becak yang tengah berbangga suaranya didengar, juga keterasingannya diantara semarak suara pencitraan pribadi presiden.

Dominasi kata nasib yang mereka tuturkan berserabutan keluar menjadi kesimpulan termudah dari perjalanan hidupnya masing-masing. Sedangkan aku masih setengah mencari logika keberadaan mereka kini dikarenakan nasib. Nasib yang selalu dipertanyakan, dipersalahkan, dinantikan bahkan dibanggakan pada masing-masing versinya.

Bisa jadi, aku melihat semua ini memang karena nasib yang menuntunku dan akhirnya kutulis di sini.