Jumat, 15 Oktober 2010

Tembang

Batinku terhenyak dengan sampainya aku di rumah Tuhan. Bukan karena Tuhan yang kulihat atau Tuhan yang kurasakan keberadaan-Nya. Juga bukan karena aku memasuki rumah-Nya dan sekonyong-konyong bergidik dengan banyak dosa. Bukan pula karena sakralnya bangunan itu di mata orang. Aku terhenyak karena ada sesuatu yang membuatku takjub akan kekuatan bunyi.

Pelataran yang luas dan kosong, pepohonan yang rimbun, keberadaan yang tenang di sore hari penuh debu, bising yang meredup di kompleks perumahan Kostrad Jakarta Selatan, semula tak membuatku terpana di rumah Tuhan yang sering kukunjungi. Benar kata Jung, otak kananku saat itu bereaksi unik. Kutoleh asal suara dan kutemui seseorang asyik masyuk memainkan kecapi dengan tembang Jawa. Seorang lainnya duduk di depannya sambil diam menikmati. Di depannya, motor yang siap mengangkut penumpang, tersandar tak bergeming. Pengojek yang tengah menikmati permainan kecapi dari pengamen pelantun lagu Jawa tersebut.

Mendengarnya, aku jadi melanglangkan pandangan ke segenap penjuru. Ah, kerimbunan. Ah, pekarangan luas. Ah, keluhuran nada yang membumi. Tak heran Plato tertarik dengan harmonisasi. Sekali lagi benar, Jung menyebutkan musik bisa menggerakkan rasa tanpa proses disadari.

Aku teringat Jawa, aku teringat bau merang yang terbakar di tengah sawah, aku teringat pada pelataran kraton dan kebesaran masa silamnya. Semua gambaran tersebut datang menyerbu dan satu persatu membenahi tuturan bentuknya dalam kepalaku. Padahal aku hanya meresapi kehadiran singkatku di sana tanpa perlu berlama-lama. Bahkan untuk meminta gambaran masa lalu pelataran kraton pun, aku hanya mengenalnya lewat cerita buku dan sinetron. Dan sinetron penuh simulacra! Juga buku penuh imajinasi buatan. Namun semua jelas tergambar dan terurai. Dan semua itu muncul hanya lewat musik! Tak ada simulacra, tak ada uraian fakta sejarah!

Aku masih berdiri di beranda rumah Tuhan dan Ia seperti berkata lewat musik yang kudengarkan itu. Bahwa sejatinya kerinduan itu akan selalu datang di saat kapanpun. Pengojek yang tertegun tenang membayangkan dirinya berada di kampungnya yang jauh dari tempatnya kini, putaran waktu berhenti pada pola flasback yang diinginkan. Tak ada mesin waktu, yang ada hanya tembang jawa dan dirinya. Di angannya, ia serasa berada dekat pada kampung halamannya.

Maka tak berat ia mengeluarkan lembaran ribuan untuk pengamen tembang Jawa tersebut. Ungkapan terima kasih dirinya telah diingatkan tentang kerinduan. Ucapan kangen yang tertebus lewat naungan nada harmonis pembawa imajinasinya terbang melampau ratusan kilometer jauhnya antara kampung halamannya dengan dirinya. Di kenyataannya, ia tetap pengojek yang datang jauh ke Jakarta untuk mencari nafkah. Sebab kampung halamannya tak lagi menjanjikan untuk penghidupan yang diinginkannya. Dan kampung halamannya akan senantiasa mendengar suksesnya dari jauh tanpa sepengetahuan bahwa ia menjadi pengojek saja di Jakarta.

Jakarta yang fenomenal, metropolis yang memutarkan banyak kisah kehidupan sebenarnya sebuah kehidupan kota. Deru mobil dan hempasan debu, gedung-gedung pencakar langit, kehidupan yang diikat waktu, tak ada kompromi bagi yang malas, tak ada ampun bagi yang lengah, toh si pengamen tembang Jawa tetap dengan kejawiannya. Mungkin hanya itu modalnya dan musik Jawa yang dikuasainya beserta petikan kecapinya yang ampuh, membuat siapapun yang terkenang Jawa, akan mendaulatnya untuk memainkannya.

Tak jarang pula seperti pengamen serupa yang kulihat sebelumnya, bahkan loyalitasnya terhadap budaya bukan jaminan ia melulu disukai. Modernisasi dan westernisasi membuatnya terkadang asing bagi penganut gaya hidup demikian. Blangkon Jawa, sorjan, kebaya batik, dan sendal selop, membuatnya dianggap aneh. Bahkan alat musik kecapinya pun bukanlah sesuatu yang disukai pengagum modernisasi.

Persetan dengan pengagum modernisasi ataupun westernisasi! Sebab yang asing selalu dibuat lazim, yang lazim selalu dianggap asing. Lagipula tak selamanya modernisasi menghantam hingga lapuk gagasan budaya tradisional yang lebih membumi dan laten membenahi kepribadian luhur manusia. Dan asal muasal musik pun demikian. Semula banyak kepala berpikir tentang seni yang absurd. Berusaha dijabarkan dalam bentuk khas namun riil, pada akhirnya paduan tersebut menghasilkan sesuatu karya yang bernilai dari bobot intelektualitas manusia. Beethoven mampu menidurkan pendengarnya disapa musiknya. Dan masa kini pun, Beethoven tetap hidup dalam interpretasi otak kanan pendengarnya membaui segala hal yang menelingkung kekayaan bebunyian yang diciptakannya.

Terbebas dari masalah budaya, konsep musik, gaya hidup modernis, dan lain sebagainya, kekuatan musik yang baru-baru ini kupahami adalah tentang pembalikan memori dan kampung halaman. Bahwa sesuatu yang bergulir akan terasa berulang kembali oleh segala sifat dan tujuan. Bahwa sesuatu yang berasal, akan dikembalikan pada semula. Manusia yang menjadi kaya, manusia yang menjadi makin baik, manusia yang tiba-tiba menjadi zalim, dzat yang kalifah dan dicintai Khalik tercipta untuk bermula dan pada akhirnya berakhir. Pengamen tembang jawa memang telah membalikkanku pada ingatan kampung halaman. Tetapi tempatku berdiri di rumah Tuhan membuatku beringsut tentang sesuatu awal yang dibahagiakan dan akhir yang disedihkan!