Minggu, 31 Oktober 2010

Rakyat Gesit Tunjukkan empati Ketimbang Birokrat

KOMPAS.com - Rakyat gesit bergerak menunjukkan empati mereka kepada korban bencana yang beruntun menimpa negeri ini. Mereka memberi tanpa pidato-pidatoan, tanpa pretensi politis. Dari rakyat untuk rakyat.

Gitaris Dewa Budjana di Jakarta berkirim pesan kepada rekannya, gitaris Eross Candra, di Yogyakarta lewat BlackBerry Messenger. Berikut ringkasan ”bocorannya”:
Budjana: ”Rosss... piye Sleman?”

Eross: ”Smalem debu tipiiisss sempet nyampe ke rumah. Ini buanyak bgt pengungsinya... seminggu ke depan bantuan masih dibutuhkan... sekarang yang paling mendesak MCK... akeh balita2...”.

Komunikasi itu berlangsung pada Rabu 27 Oktober mulai pukul 11.55 atau sehari setelah Gunung Merapi meletus.

Dialog tanpa suara itu menemukan wujud konkret. Hari Rabu itu juga para gitaris, seperti Budjana, Piyu, Baron, dan gitaris lain yang tergabung dalam BlackBerry Group, mentransfer uang bantuan lewat rekening Eross, gitaris band Sheila on 7 itu.

Lewat peranti komunikasi tersebut, para gitaris biasa saling berbagi cerita seputar musik dan bercanda ngalor ngidul. Namun, kali ini mereka serius. Mereka berempati kepada korban bencana. Eross yang berada di Yogyakarta menjadi kepanjangan tangan rekan-rekannya itu. ”Malam itu juga banyak BBM (BlackBerry Messenger) yang masuk. Teman-teman mentransfer uang dan dalam sehari terkumpul Rp 6 juta,” kata Eross.

Dari uang bantuan itu, Rabu siang Eross berbelanja selimut, sarung, handuk, dan peralatan mandi. Sore harinya ia telah menyerahkan hasil belanjaan itu kepada para pengungsi Merapi di posko Umbulharjo. Bukan itu saja, para gitaris tersebut juga akan menggelar konser amal pada Jumat, 5 November sore, di Bentara Budaya Jakarta (BBJ).
 
Cepat, tanpa suara
Para gitaris tadi hanyalah bagian dari rakyat yang berempati kepada rakyat yang terkena musibah. Mereka bergerak spontan, cepat, diam-diam tanpa berkoar-koar pidato kepada khalayak.

Empati serupa juga ditunjukkan Fahira Idris (42), seorang pengusaha yang, antara lain, berbisnis bunga. Begitu terjadi gempa dan tsunami di Mentawai, Fahira secara spontan membuka posko bencana yang ia umumkan lewat akun Twitter dan Facebook. Ia memakai rumahnya di Jalan Haji Sa’abun, Jatipadang, Jakarta Selatan, sebagai posko, yang diberi nama Rumah Damai. Peran Rumah Damai bertambah ketika Gunung Merapi meletus.

Posko Rumah Damai menerima donasi berupa pakaian layak pakai, selimut, sarung, tenda, pakaian dalam, obat-obatan, makanan kaleng, biskuit, mi instan, dan air mineral. ”Kalau ada penyumbang yang tidak bisa membawa barang ke posko, akan kami jemput,” ujar Fahira, Jumat (29/10/2010).

Dia bergerak cepat lewat komunitas yang terbentuk di jejaring sosial Twitter dan Facebook. Belakangan mereka juga saling berkomunikasi melalui layanan BBM. Di BBM mereka membentuk grup yang tercatat anggotanya 1.200 orang.

Posko Rumah Damai lebih banyak mengambil peran membantu logistik korban bencana. Mereka menyerahkan bantuan langsung kepada korban, tidak melalui posko-posko yang dibangun pemerintah. Bukan tidak percaya kepada institusi pemerintah, tetapi korban perlu ditolong segera.
”Keburu kelaparan, tuh, korban,” ucap Fahira.
 
Mobilisasi empati
Rakyat rupanya tak mempunyai ”birokrasi” yang ribet, tetapi praktis. Mereka lincah bergerak ke segala medan, tanpa mengenal batas geografis. Ketika terjadi bencana Merapi dan Mentawai, Wendy Haryoso (48) menggerakkan teman-temannya di komunitas Greenheart Centre untuk menggalang dana bantuan. Greenheart adalah komunitas yang terbentuk dari para pembaca buku.

Gerakan mereka semula lebih fokus pada pelestarian lingkungan.
Ketika terjadi bencana di Wasior, Mentawai, dan Merapi, Wendy dan seorang temannya segera memprakarsai pendirian posko bantuan. Mereka mengirim pesan penggalangan dana melalui Twitter, Facebook, maupun BBM

Hanya dalam sehari setelah dikirim, pesan tersebar luas dan posko Greenheart kebanjiran bantuan. Dalam satu hari sudah ada lebih dari 50 kardus besar berisi bantuan dikirimkan ke posko. Hingga Jumat, ada lebih dari 200 kardus memenuhi kantor Greenheart di Cipete, Jakarta Selatan.

Lain lagi dengan Inggita Notosusanto, yang memobilisasi donasi lewat perusahaan tempatnya bekerja, yaitu GE International. Lewat perusahaan itu ia mengetuk sekitar 300.000 karyawannya di seluruh dunia untuk menyumbang.

Begitu juga presenter televisi Becky Tumewu yang dengan cepat mengetuk hati teman-teman dan followers-nya di Twitter maupun BBM. ”Banyak yang ingin menyumbang. Namun, karena persiapan singkat, saya berikan opsi kepada mereka untuk mengalihkan bantuannya kepada Palang Merah Indonesia, Masyarakat Cinta Damai, dan organisasi lain yang punya kredibilitas dan infrastruktur,” ujarnya.

Prinsip Becky dalam memberikan sumbangan adalah tidak ingin merepotkan orang lain. ”Jangan sampai di lokasi bencana orang malah ngurusin kita,” kata Becky yang berangkat hanya bertiga dengan kawannya—bukan membawa rombongan ”sirkus”.

Pengamat komunikasi massa Idy Subandi mencatat, dalam setiap bencana besar, masyarakat jaringan atau warga dunia maya dengan cepat bereaksi memobilisasi solidaritas dan empati. Setelah kejadian berlalu, biasanya, solidaritas sosial mereka mereda.

”Masyarakat kita di dunia nyata, kan, reaksioner dan emosional. Mudah ingat, mudah lupa. Mudah berempati, lantas reda sendiri,” kata Idy.

Idy melihat, teknologi media sosial sebagai sekadar alat yang memfasilitasi masyarakat. Jejaring sosial di dunia maya bisa digunakan untuk menghimpun kekuatan, menggalang dukungan, atau memobilisasi empati.
Begitulah rakyat berkomunikasi dalam diam untuk berbuat nyata. Bukan sebaliknya.