Selasa, 26 Oktober 2010

Perang Tanam Zaitun Di Tepi Barat

VIVAnews - Penduduk Palestina dan para pemukim Israel di Tepi Barat berlomba-lomba menanam pohon zaitun. Soalnya pohon itu dapat digunakan mengklaim wilayah mereka.

Itulah sebabnya, persaingan menanam pohon zaitun antara warga Palestina dan Israel sarat dengan aksi kekerasan. Perampokan, pembakaran, dan perusakan sering melanda perkebunan zaitun.

Pohon zaitun banyak terdapat di daerah perbukitan Burqa, Tepi Barat. Bagi Palestina, kawasan itu sejak lama menjadi penanda wilayah mereka. Pohon ini dianggap telah banyak membantu klaim pendudukan. Kepemilikan tanah di daerah itu tidak selalu dibuktikan lewat dokumen resmi, namun melalui siapa yang menggarap pepohonan zaitun.

“Kami menanamnya agar mereka [pemukim Yahudi] tidak datang dan merebutnya,” ujar seorang petani Palestina, Ghassan Seif, 48, seperti dikutip kantor berita Associated Press.

Seif dan keluarganya secara turun-temurun menanami tanah di daerah Burqa dengan pohon zaitun. Pada Oktober ini adalah waktu panen bagi dia dan keluarganya. Sementara itu, sekitar 16 kilometer dari perkebunannya, terdapat perkebunan zaitun milik warga pemukim Israel, Erez Ben-Saadon yang mengatakan bahwa Yahudi lebih dulu menanam zaitun di wilayah itu.

“Sebelum bangsa Arab mengambil alih tanah ini, kami telah menanamnya,” ujar Saadon.

Kompetisi menanam zaitun ini kini menjadi perjuangan kedua belah pihak dalam mengklaim Tepi Barat sebagai wilayah mereka. Warga Palestina takut wilayah yang tidak berzaitun akan direbut oleh pihak Israel, karena tentara Israel akan menyita tanah yang terbengkalai selama lebih dari tiga sampai 10 tahun.
Menurut organisasi Peace Now, Israel telah menyita lebih dari 9700 hektar sehak tahun 1980. Kebanyakan tanah ini digunakan untuk pemukiman Yahudi.

Zaitun dipilih oleh warga Palestina karena pohon ini mudah tumbuh dan tidak membutuhkan banyak perawatan. Pohon ini juga kuat dalam suhu pada musim dingin. Minyak zaitun dijual seharga US$7 per liter atau sekitar US$25 per galon. Bagi 70.000 keluarga miskin Palestina yang menananm lebih dari 10.000 pohon zaitun, uang ini sangat membantu menghidupi mereka.

Namun, perkebunan mereka mendapat ancaman dari pemukim Yahudi. Peace Now mencatat lebih dari 40 serangan terhadap perkebunan zaitun milik warga Palestina. Termasuk diantaranya 20 penebangan pohon yang dilakukan Sabtu, 23 Oktober lalu, di perkebunan dekat pemukiman Yahudi.
Tapi peristiwa itu tak membuat Majdi Suliman, 27, yang telah kehilangan 50 pohonnya, jera. Dia berjanji akan menanam kembali pohonnya setelah musim dingin. “Kami tidak mencari uang di sini. Kami sedang melakukan pembuktian: bahwa ini adalah tanah kami,” ujar Suliman.

Klaim warga Palestina juga ternyata mendapat dukungan dari para pemuka agama Yahudi dari organisasi Rabbi for Human Rights. Suliman mengatakan bahwa Ben-Saadon dan beberapa pemukim lainnya telah menggunakan tanah milik warga Palestina.

Menurut Saadon tanah pertaniannya diberikan oleh tentara Israel. Dia mengatakan tidak punya dokumen kepemilikan dalam bentuk apapun. “Kepemilikan lahan kami telah tertulis di kitab suci,” ujar Ben-Saadon. (np)

English Version

VIVAnews - Palestinian residents and Israeli settlers in the West Bank are competing to plant olive trees. Because the tree can be used to claim their territory.

That is why the competition to plant olive trees between Palestinians and Israelis filled with violence. Robbery, arson, and vandalism often occurs in olive plantations.


There are many olive trees in the hills Burqa, West Bank. For Palestinians, the region has long been a marker of their territory. This tree is considered to have a lot to help claim the occupation. Ownership of land in that area are not always proven through official documents, but through who's working on olive trees.


"We plant it for them [the settlers] do not come and take it," said a Palestinian farmer, Ghassan Seif, 48, as quoted by the Associated Press.


Seif and his family for generations in the area of land planted with olive trees Burqa. In October this is harvest time for him and his family. Meanwhile, about 16 miles from the plantation, there are olive plantations owned by Israeli settlers, Erez Ben-Saadon who said that the first Jews to plant olives in the region.


"Before the Arabs take over this land, we've planted," said Saadon.


Competition olive plant is now a struggle for both sides in the West Bank claiming as their territory. Palestinians fear that is not berzaitun territory shall be taken by the Israeli side, because the Israeli army will confiscate the land abandoned for more than three to 10 years.


According to the organization Peace Now, Israel has confiscated more than 9700 hectares sehak 1980. Most land is used for Jewish settlement.


Olive chosen by the Palestinians because the tree is easily grown and do not require much care. This tree is also strong in the temperature in the winter. Olive oil sold for U.S. $ 7 per liter, or about U.S. $ 25 per gallon. For the 70,000 families poor Palestinians who planted more than 10,000 olive trees, this money helps support them.


However, the plantation they received threats from Jewish settlers. Peace Now recorded more than 40 attacks on Palestinian-owned olive plantation. 20 including the cutting of trees by Saturday, October 23 and then, on the farm near the Jewish settlement.


But the incident did not make Majdi Suliman, 27, who has lost 50 trees, the deterrent. He promised to replant trees after the winter. "We're not looking for money here. We are conducting proof: that this is our land, "said Suliman.


Palestinians claim also has received support from the Jewish religious leaders of the organization Rabbis for Human Rights. Suliman says that Ben-Saadon and several other settlers have been using the land owned by Palestinians.


According to his farm Saadon given by the Israeli army. He said it had no ownership documents of any kind. "Our tenure has been written in holy books," says Ben-Saadon. (Np)