Minggu, 17 Oktober 2010

Monopoli

Pikirannya justru tidak dari seorang penguasa pemerintahan atau penguasa dagang. Pikirannya tercetus dari seorang buruh yang berharap besar pada keuntungan besar sang majikan. Tampaknya ia loyal atau tak sabaran menangguk usaha yang dirintis perlahan, namun dampak yang dihasilkan dari ide pemikirannya bukan lagi hal aneh pada zamannya. Materiil yang mengusung keberjayaan hedonisme!

“Kalau saja kita bisa ‘membunuh’ semua pesaing kita, maka harga bisa kita tentukan sendiri,” ujarnya. Obsesi itu hadir ketika standarisasi nilai tukar barangnya masih relatif murah dan belum menampakkan kejayaan peruntungan dalam waktu cepat. Mendapati saingannya mati dalam kancah pasar adalah keinginannya!

Datang dari kota kecil yang meninabobokan masa kanak-kanaknya hingga remaja. Berpeluang datang ke kota metropolitan dengan segenap rasa ragu pada awalnya, perlahan jati dirinya terbangun lewat kesilapan sebuah kota besar yang banyak memberikan banyak pengharapan. Nun pola pikirnya pun bertambah!

Entah dia berujar pada masa depan dan strategi usaha majikannya yang menyandang bisnis murah namun tak mudah. Mengangankan sebuah perusahaan tunggal tanpa kompetitor, menyelinap diam-diam sambil membakar majikan-majikan lainnya untuk urung berusaha pada pengelolaan bisnis yang sama. Nyatanya pikirannya sudah tak mudah lagi sebagai orang dari desa kecil tanpa embel-embel predikat pendidikan.

Dan itu sudah dilakukan oleh orang-orang yang memanfaatkan peluangnya dengan menangguk peruntungan. Bahkan seorang pengojek motor bisa sangat sombong membuat harga di tengah malam sepi diantara mencekamnya kriminalitas dan suasana yang (bahkan) tidak menjanjikan kenyamanan. Ia akan bermonopoli jika sangat dibutuhkan. Atau juga supir taksi menarifkan harga borongan non argo bagi penumpang yang membutuhkan jasanya, tidak ada kompromi. Standarisasi harga sudah menjadi tidak mutlak!

Lantas jika masih mempertanyakan hak konsumen terhadap hal demikian, jangan pertanyakan apa pasalnya, sebab sudah jelas jadinya sebuah rekayasa monopoli sudah tercipta dengan ruang dan waktu yang melingkupinya. Dan berabad-abad lampau sang monopoli sudah berkedudukan rapi menjemputi korban-korban yang mau tak mau membutuhkannya.