Rabu, 20 Oktober 2010

Mitsaqon Ghalizon

Ketika kulihat keanggunan Gunung Lamongan dan keresahan Semeru dengan hujan debu di pagi hari, aku menyaksikan akan kebesaran yang ditunjukan oleh Sang penciptanya.

Saat gemulai angin dingin menampar keheningan malam di Randu Agung, aku sadar akan keberadaan hasrat sebuah keinginan.

Tampak halnya kebesaran Sang Pencipta dengan menjadikan manusia saling berpasang-pasangan, dan penemuan hasrat manusiawi akan pertautan halal, aku diajak untuk menyaksikan hal diantara hal lainnya yang lebih besar sebagai Maha Karya-Nya. Aku mengenalnya sebagai Mitsaqon Gholizhon!

Sewaktu hasrat mencederai kekalutan, kesadaran makin bertambah besar dengan besarnya sebuah tanggungjawab terhadap-Nya. Tanpa berpikir tentang kebaikan hari, bulan, tahun, serta dimensi tempat, seutuhnya kebaikan itu tersaji sebagaimana kebaikan-kebaikan lain Sang Pencipta.

Berbelas pada rengkuhan waktu yang sadar atau tak sadar mencomot usia, paradigma, lajang akan berubah menjadi kehakikian hidup berpasangan. Sekarang, aku hadir sebagai pengamatan refleksi hidupku nanti. Dan aku melihat sebagaimana aku melihatnya dengan kesucian Mitsaqon Ghalizhon-ku kelak.

Relativitas hidup yang mendebarkan kehakikian, sebagian besar bermuara pada fase ini sebelumnya mengarunginya di lautan lepas, sampai kehakikian harus teruji pada kupasan tanggung jawab.

Toh, bilamana aku hanya melihatnya kali ini, aku akan lebih mengakrabi dan mengintimi siapapun pilihanku atau yang berhenti pada lintasan pilihanku. Tentunya melalui Mitsaqon Ghalizhon terlebih dahulu.