Minggu, 24 Oktober 2010

Kebakaran Jauhkan Jakarta Jadi Kota Modern / Due to Fires, Modern City girded Not Eligible

VIVAnews - Buruknya penataan ruang di Jakarta, yang menyebabkan kebakaran yang terjadi sulit diatasi, menghambat ibukota menjadi kota moderen.

Menurut pengamat tata kota Universitas Trisakti, Yayat Supriatna, buruknya penataan tata ruang itu menjadi salah satu sebab utama terjadinya kebakaran. Bila hal ini masih menjadi persoalan, maka Jakarta masih jauh untuk jadi modern

Ditambahkan Yayat, agar menjadi kota moderen, selain tata ruang tadi, Jakarta harus membangun infrastruktur yang bebas bencana, dan sarana transportasi yang nyaman dan lebih manusiawi.

Penataan daerah padat penduduk, kata Yayat, memang tidak mudah dilakukan, tapi pembinaan menjadi hal utama agar masyarakat sadar dengan bahaya kebakaran akibat penggunaan listrik yang tidak baik

"Harus melakukan pembinaan. Mereka (pemerintah daerah) kalau disudutkan baru bereaksi," ujar Yayat.

Solusi untuk menekan kebakaran saat ini adalah dengan penataan dan pembinaan. Karena program sejuta tower dianggap bukan solusi yang berpihak kepada rakyat kecil.

"Tidak mungkin dilakukan pembangunan sejuta tower, Jakarta bukan kota sosialis. Jadi hanya mimpi saja<' ujar Yayat.

Saat ini, selain kemacetan dan banjir, kebakaran juga menjadi ancaman warga Jakarta. Dalam setahun lebih dari 800 kali kejadian kebakaran. Zona merah kebarana berada di 53 kelurahan dan 97 pasar tradisional di Jakarta.

English Version

Poor spatial planning in Jakarta, which caused a fire that occurred difficult to overcome, inhibiting the capital into a modern city.
According to observers Trisakti University urban planning, Yayat Supriatna, poor spatial arrangement that became one of the main causes of fire. If this is still an issue, then Jakarta is still much to be modern
Added Yayat, in order to become a modern city, in addition to spatial earlier, Jakarta must build the infrastructure that is free of disasters, and convenient transportation facilities and more humane.
Structuring a densely populated area, said Yayat, it is not easy to do, but coaching a major thing for the community aware of the danger of fire due to electricity use that is not good
"Must be doing the building. They (the government) just react if cornered," said Yayat.
The solution to suppress fires at this time is by arrangement and coaching. Because the program a million tower is not considered a solution that favor small people.
"There may be a million tower development, Jakarta is not a socialist city. So just dream <'Yayat said.
Currently, in addition to congestion and flooding, fires are also a threat to citizens of Jakarta. Within a year more than 800 times the incidence of fires. Kebarana red zone located in 53 villages and 97 traditional markets in Jakarta.