Kamis, 14 Oktober 2010

Hentikan Longsor Dengan Pohon Salak

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO--Tim peneliti Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Sebelas Maret Surakarta merekomendasikan agar daerah bencana erosi dan tanah longsor di Desa Beruk dan Desa Wonorejo, Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, ditanami pohon salak.

"Untuk tanaman ini memiliki perakaran yang kuat, tajuk lebar, mampu menahan percikan air hujan dan biomasnya relatif ringan sehingga tidak membebani tanah dengan tingkat kemiringan lereng tinggi," kata salah satu tim peneliti LPPM UNS Prof Dr Ir Nandariyah MS, usai meninjau hasil penelitian di Desa Wonorejo, Kabupaten Karanganyar, Rabu (13/10).

Di Desa Beruk dan Desa Wonorejo, Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, pada akhir tahun 2007 pernah terjadi bencana erosi dan tanah longsor yang merenggut korban jiwa. Menurut Nandariyah, penelitian ini juga untuk mengetahui jenis-jenis kultivar salak (Salacca zalacca Gaertn Voss) yang sesuai untuk dibudidayakan dan mempunyai kemampuan menahan erosi tanah dan longsor, serta daya produksi yang baik.

Tim peneliti merekomendasikan antara lain pembuatan teras-teras bangku, penanaman menurut garis kontur, penanaman pohon penguat di bibir teras dan memperhatikan tanaman pokok yang memperkuat konstruksi tanah agar lebih tahan terhadap bahaya erosi dan longsor. "Salah satu tanaman konservasi yang berpotensi dikembangkan yaitu pohon salak," kata Nandariyah.

Kepala Desa Wonorejo, Kecamatan Jatiyos, Kabupaten Karanganyar Sudrajad, mengatakan, dalam rangka konservasi lahan yang dilakukan bekerja sama dengan UNS untuk di daerahnya telah ditanami pohon salak sebanyak 6.000 batang di Wonorejo dan 2.500 batang di Beruk. Pohon salak tersebut ditanam di tiga atas hektar tanah dan saat ini berumur satu tahun seta diperkirakan tahun 2013 berbuah.

Bibit salak berasal dari Sleman yang harganya antara Rp 5.000 sampai Rp 7.000 per batang. Ada enam hektar lahan milik petani yang siap ditanami salak. Lahan tersebut memiliki kemiringan 80 derajat. Sekitar 80 hektare perlu konservasi. "Lahan seluas ini menunggu untuk ditangani," kata Sudrajad.


Limbah Salak Jadi Bioetanol

Adhita Sri Prabakusuma, mahasiswa Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, berhasil membuat kompor berbahan bakar bioetanol terbuat dari limbah buah salak.

"Bioetanol sebagai bahan bakar pengganti minyak maupun elpiji terbuat dari limbah buah salak yang cacat panen atau busuk," katanya  di Yogyakarta, Senin.

Ia mengatakan selama ini, buah salak tidak layak jual tersebut dibuang petani atau dibiarkan membusuk di pekarangan kebun salaknya.

"Di Dusun Ledoknongko, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman yang merupakan salah satu sentra penghasil salak dihasilkan sekitar 1-3 ton limbah salah dalam satu bulan," katanya.

Menurutnya, dari 10 kilogram limbah buah salak dihasilkan sedikitnya 1 liter bioetanol, setelah sebelumnya, limbah buah salak tersebut difermentasikan dahulu selama satu minggu dengan menambah ragi dan urea.

"Cairan fermentasi tersebut dipanaskan dengan suhu 70 derajat Celcius pada tabung destilasi. Hasil pemanasan ini nantinya menghasilkan bioetanol," katanya.

Praba mengakui belum banyak masyarakat Dusun Ledoknongko yang mau mengolah limbah buah salak menjadi bahan bakar.

"Tidak mudah menyosialisasikan inovasi tersebut karena tingkat pendidikan masyarakat di Dusun Ledoknongko berbeda-beda," katanya.

Ia berharap inovasinya membantu masyarakat dalam mengatasi limbah salak, mendukung program pertanian terpadu, dan dalam menerapkan energi ramah lingkungan.