Rabu, 27 Oktober 2010

Gelombang 8 Meter

TEMPO Interaktif, Padang - Tsunami menerjang Muntei Barubaru, daerah pesisir barat Pulau Pagai Utara hingga setinggi pohon kelapa. Rida, 16 tahun, warga yang selamat mengatakan tsunami terjadi 10 menit setelah gempa.

Ia mengatakan awalnya gempa yang datang hanya dianggap remeh, karena itu warga kembali ke rumah.
“Awalnya gempa tidak begitu keras, hanya bergoyang tetapi lama. Saya sekeluarga keluar rumah, lalu 10 menit kemudian tiba-tiba terdengar letusan yang sangat kuat dari arah laut, dan datang gelombang pertama dari arah kanan kampung dengan ketinggian 8 meter dan masuk ke kampung."

"Kami melarikan diri ke arah bukit yang berjarak 1 kilometer, anak saya dibawa suami. Gelombang kedua datang sesaat kemudian dari arah kanan kampung, airnya seperti bertepuk di tengah dan menyapu kampung dan menghancurkan seluruh bangunan,” kata Rida.

Warga Muntei yang selamat adalah yang berhasil melarikan diri sekencangnya menghindari air yang membawa pohon-pohon bakau yang tercabut, pohon kelapa, terumbu karang dan batu karang di pantai.

“Malam itu kami tinggal di bukit di dalam pondok yang pernah didirikan untuk mengungsi saat gempa 2007. Tsunami hanya berlangsung tidak lama, hanya dua gelombang itu yang tinggi. Malamnya para lelaki mencari warga yang selamat. Kalau terdengar rintihan baru bisa tahu karena malam gelap gulita,” kata Rida.

Keesokan harinya baru terlihat kampungnya hancur rata dengan tanah, rumah, gereja, masjid, sekolah hilang tersapu tsunami. Tidak ada bangunan yang tersisa. Korban tewas ditemukan di bawah puing rumah, terhimpit pohon dan tersangkut di batang kayu yang masih berdiri.

“Pada Selasa ditemukan 40 warga yang tewas. Keluarga saya selamat semua, yang tewas dijajarkan di jalan. Lalu dua warga yang kuat tenaganya berjalan kaki ke Sikakap meminta bantuan untuk kami,” kata Rida.

Ia mengatakan untuk makanan mereka mencari keladi dan pisang dan memakannya. Bantuan ke Muntei datang Rabu pagi.

Rabu ini baru 80 korban tewas ditemukan dan 102 masih hilang. Hanya 40 orang yang selamat, 20 orang di antaranya luka dan dibawa ke Sikakap.

Menurut Supri Lindra, jurnalis lokal yang ke lokasi, saat ini telah didirikan dapur umum dan para pengungsi telah diberikan tenda terpal dan makanan siap saji serta makanan instan dan air minum.

"Yang terlihat di kampung ini pucuk kelapa mati tanda bekas kena air laut dan pondisi rumah ikut tercongkel," katanya. Jenazah sore ini dikuburkan masal di Muntei.


English Version


TEMPO Interactive, Padang - Muntei Barubaru tsunami struck, the western seaboard of North Pagai Island up to as high as coconut trees. Rida, 16 years, said residents who survived the tsunami occurred 10 minutes after the quake.

He said the first quake came only be underestimated, because the people back home."At first quake was not so hard, just rocked but long. My family left the house, then 10 minutes and then suddenly heard a very strong eruption from the sea, and come the first wave of the village right direction with a height of 8 meters and the entrance to the village. "

"We fled to the hills, a distance of 1 kilometer, my daughter brought her husband. A second wave came a moment later from the right village, the water is like clapping in the middle and swept villages and destroyed the entire building," said Regine.
 

Residents Muntei survivors who managed to escape is sekencangnya avoid water carrying mangrove trees are uprooted, palm trees, coral reefs and rocks on the beach.
 

"That night we stayed on the hill in the cabin ever established for the displaced during the earthquake of 2007. Tsunami only lasted not long, only two waves were high. At night the men look for residents who survived. If a new jeremiad sounds can tell because the pitch-dark night, "said Regine.
 

The next day it emerged his village razed to the ground were destroyed, houses, churches, mosques, schools were swept away by the tsunami. There are no buildings left. The victim was found dead under the rubble house, squeezed a tree and caught on a log that is still standing.