Senin, 18 Oktober 2010

Elegi Sepi

Ketika tingginya Gunung Lamongan di antara kebanggaan Semeru menghenyakkanku dalam konsentrasi menyibak makna rintihan jangkrik dan kelampusan, diriku sedang terbuai dalam ingatan 15 tahun silam tentang kampung halamanku yang sentosa.

Walau kilauan bintang yang seolah dekat pada dataran tinggi, aku tetap merasa tempatku kini adalah tempatku sering meluapkan kegembiraan dan kesedihan akan keakraban suatu lingkungan. Dan ketinggian dataran mendekati pandangan bintang inipun kugubris sebagai kedekatanku pada suatu tempat yang dulu kuakrabi.

Semula hanya kenangan akan kecintaan tentang suatu lingkungan, lama-kelamaan menjadi kebosanan akan keakrabannya. Aku bosan dengan sepi, sebab lewat suasana itu kecamuk masalah bertempur sendiri dalam otakku. Aku sebal dengan keterasingannya, sebab dengan perasaan itu aku merasa disadarkan oleh keterasingan diriku pada duniaku.

Maka ketika waktu berjalan lambat, diriku memacunya lebih cepat, agar bisa kutinggalkan lekas wahana sepi ini. Tetapi, acapkali kuremuk-redamkan suasana sepi ke dalam suasana kemelut, aku merasa berada pada kekosongan harapan. Harapan ketika motivasi dan akal sehat sedang berkobar. Harapan ketika perilaku kemalasan terasa dogmatis menjelma pada lambatnya perjalanan waktu di sini.

Entah, aku akan sadari berapa lama ketika di suatu saat aku butuh kesepian ini, kelampusan ini, pandangan bintang yang terasa dekat pada dataran tinggi, rintihan jangkrik yang riang menyeruak ruang gelap… .

Padahal, nun jauh di sana sekembalinya aku nanti, tetap suatu lingkungan ini yang akan merayuku kembali.