Jumat, 29 Oktober 2010

Balada Patah Hati Dan Teh Basi

Jika sekarang aku mengalami patah hati, remuk redamnya hati yang terluka cukup mendegupkan nyali untuk membangun tekad lagi. Bahkan irisannya, menyakitkan untuk lebih dirasakan sebagai sayatan silet tajam pada kulit. Apalagi jika menjalar pada rongga-rongga syaraf pikiran, semua terlihat gelap. Yang berdigjaya kali ini adalah hitam, kecewa, kosong, sesal, dan pikiran-pikiran negatif lainnya yang memburamkan kemampuan konsentrasi. Hati dan otak menjadi bukti mampu membangun manusia menjadi stabil atau labil.

Anehnya, semua gejolak patah hati itu sekejap lenyap saat tersedak teh basi yang disajikan tukang baso saat makan malam. Gejolak dasyat itu tidak menghantarkanku pada kemarahan membludak tak terkontrol disajikan minuman tersebut. Aku malah terbangun kesadaranku saat mengulum teh basi itu dalam mulutku. Rasa anyir, tidak berasa teh lagi, wicikan tangan sesudah makan, air got tercemar limbah tahu, air tebu kadaluwarsa, terhimpun menjadi satu rasa. Aku membuangnya dari mulutku dengan penghayatan betapa bodohnya meminum teh yang sebelumnya sudah kucurigai tak seperti air teh layak minum.

Kupanggil si tukang bakso dengan ramah (padahal berkalut dengan rasa dongkol) untuk menukarkan teh basi tersebut dengan yang layak minum. Dan minuman penggantinya kemudian menggelegak dalam kerongkonganku. Menyegarkan kini…!

Dan kisah itu membuatku semakin heran pada diriku sendiri. Setelah remuk redam dengan patah hati, teriris dengan segala jargon kegagalan, lemasnya seluruh persendian menerima kenyataan, aku tidak marah. Aku sadar si tukang bakso tak menyadari minuman yang disajikannya sudah tidak layak minum. Ia hanya memenuhi permintaanku yang ingin minum teh. Itu saja!

Lalu aku merunutkan kejadian itu pada keadaan diriku saat ini. Aku mengobservasi seseorang yang sedang kutumbuhkan keberadaannya di hatiku. Aku termotivasi oleh tekadku mendekatkan tubuhku padanya untuk lebih tajam lagi mencium aroma wewangiannya, apakah benar ia seseorang yang kucari? Aku memaksakan kehadirannya di rentang perjalananku mencari sosok seseorang idamanku, dan itu bersifat spekulatif pula. Aku tidak mengetahui sedikitpun tentang obyek yang sedang kuobservasi, walaupun kesempatan mengetahuinya cukup besar. Ini karena masih ada keraguan.

Seperti pertamakali aku disajikan semangkuk bakso lezat, teh botol pesanan kemudian datang. Selama makan aku mengamati fisik botol teh yang sedikit aneh warnanya. Kusenyapi keraguanku tentang keanehan tersebut, lalu menegaskan pengamatanku pada warnanya. Pengetahuanku tentang warna teh yang benar dengan yang buruk bersifat spekulatif. Bisa saja keraguan itu tidak benar atau malah benar. Aku kemudian meminumnya secara spekulatif untuk mengetahui bagaimana nantinya rasa teh itu terasa di mulutku. Lalu aku baru mengetahuinya jika teh itu memang benar-benar basi. Rumusan dari hubungan ini adalah:
1. Aku mengobservasi seseorang = Mengamati fisik botol teh yang sedikit aneh warnanya

2. Sedang menumbuhkan keberadaannya di hatiku = Senyap meragukan tentang keanehan warna teh botol tersebut.

3. Motivasi mendekatkan tubuhku padanya untuk lebih tajam lagi mencium aroma wewangiannya, apakah benar ia idamanku? = Pengetahuanku tentang warna teh yang benar dengan yang buruk bersifat spekulatif. Bisa saja keraguan itu tidak benar atau malah benar.

4. Memaksakan kehadirannya di rentang perjalananku mencari sosok jodohku dengan bersifat spekulatif = Meminumnya secara spekulatif untuk mengetahui bagaimana nantinya rasa teh itu terasa di mulutku.

5. Tidak mengetahui sedikitpun tentang obyek yang sedang kuobservasi, walaupun kesempatan mengetahuinya cukup besar oleh karena masih ada sisa keraguan = Harus diketahui jika teh itu memang benar-benar basi setelah mencoba meminumnya.

Benang merah dari kejadian ini adalah: aku sedang mencari seseorang yang kebetulan obyek-obyeknya sedang berlintasan di sekitarku. Ketika kedekatan itu menumbuhkan rasa simpati, aku belum menghayati simpati itu cinta! Aku terlalu lamur menghayati perasaan itu hingga gelap membedakan antara simpati dan cinta. Saat memasuki proses meyakinkan perasaan itu, secara memaksa dengan berdalih tak ada waktu dan kesempatan yang tersisa lagi, hingga aku berspekulasi berhenti pada obyek satu ini. Karena tidak mendalam berupaya meyakinkan keberadaannya, pengetahuan yang kecil namun berdampak besar dapat mengganjal perjuangan mencari pengertian simpati dan cinta. Jalan satu-satunya adalah mengenalnya lebih dekat, walau keraguan kerap menghenyak rasa kedekatan tersebut.

Baru kusadari sekarang cinta juga didapatkan secara spekulatif. Baru kusadari pula kala membangun keraguan menjadi keyakinan, kemampuan analisa dengan penggunaan logika terlalu kaku dilakukan. Bahkan kesadaran baru dari peristiwa ini adalah: aku terlalu lama bergeming pada mimpi-mimpi indah yang kubangun dari pikiranku. Ketika mimpi indahku buyar, aku tidak kuasa berdiri pada ketegaran menanggapinya (dalam hal ini dilakukan oleh perasaan). Dari persoalan membangun mimpi indah dengan pikiranku sendiri atau rapuh pada kenyataan buyarnya mimpi tersebut, ternyata aku masih memilih. Ya, aku masih berspekulasi memilih siapa yang layak kudekati dari aroma wewangian kaum Hawa yang berlintasan di depanku…, sampai bertemu!

English Version

If now I have a broken heart, uncertainty of the wounded heart burn enough guts to build willpower anymore. Even a painful incision to more perceived as a sharp razor blade incision in the skin. Moreover, if the spread in the recesses of the mind nerves, all look dark. That debuted this time is black, disappointed, empty, regret, and other negative thoughts that cloud the ability to concentrate. Liver and the brain becomes capable of building human evidence becomes stable or unstable.

Strangely, all the turmoil heartbroken when it disappeared instantly choke stale tea served at dinner meatball sellers. Terrible turmoil does not lead me to uncontrollable anger exploded served the drink. I even woke my consciousness when stale tea suck it in my mouth. Rancid flavor, no taste of tea, washing hands after eating contaminated waste water drains out, sugarcane juice expired, collected into one flavor. I throw it out of my mouth with appreciation how stupid drinking tea previously I suspect not like drinking tea water.

I called the repairman meatballs with friendly (though mixed feeling cranky) to exchange stale tea with a decent drink. And his replacement drinks then bubbled in my throat. Refreshing now ...!

And the story made me even more amazed at myself. After go to pieces with broken hearts, cut with all the jargon failure, his limp around the joints to accept the fact, I'm not angry. I realized the repairman did not realize drinks meatballs it presents are not worthy of drinking. He only wanted to fulfill my request that drinking tea. That's it!

Then I reconstruct what happened in the situation myself right now. I observe someone who is growing its presence in my heart. I am motivated by my determination my body closer to him to be sharper longer smell the fragrance, is it true he was looking for someone? I'm imposing presence in the span of my journey to find the figure of someone's dream, and it is speculative as well. I did not know anything about the object being I observations, although the opportunity to know quite big. This is because there are still doubts.

As I was first served a bowl of delicious meatballs, orders a bottle of tea then come. During the meal I noticed a bottle of tea that a little physical strange color. I'm still with my doubts about the strangeness of it, and confirmed observations on color. My knowledge of the true color of tea with a bad speculative. It could be any doubt that was not true or even true. I then drink it is speculative to know how it feels later tea taste in my mouth. Then I just know if the tea is really stale. The formulation of this relationship is: 

1. I observed someone = physical Observing bottle of tea is a bit odd color 

2. Been growing its presence in my heart = Silent doubts about the strangeness of color tea bottle. 

3. Motivation my body closer to him to be sharper longer smell the fragrance, is it true that I dream it? = My knowledge of the true color of tea with a bad speculative. It could be any doubt that was not true or even true.

4. Imposing presence in the span of my way looking for a mate I figure with speculative speculatively = drink it to know how it feels later tea taste in my mouth. 

5. Did not know anything about the object being I observations, although the opportunity to know quite big because there was still some doubts = You must know if the tea was really stale after trying to drink it.

The common thread in these events is: I'm looking for someone who happens to objects was passing around me. When the closeness it creates a sense of sympathy, I do not appreciate the sympathy is love! I was too myopic to appreciate the feeling is dark to distinguish between sympathy and love. Upon entering the process of convincing the feeling, is forced by arguing there was no time remaining and a chance again, until I stop speculating on this one object. Because the depth is not trying to convince its existence, the knowledge that a small but significant impact to prop up the struggle to find understanding sympathy and love. The only way is to know him more closely, though doubts are often flicked a sense of closeness.

I realize now love also obtained speculative. Also I noticed when building new doubt into confidence, capability analysis with the use of logic is too rigid. Even the new awareness of this event is: I'm too old budge on beautiful dreams that I built from my mind. When indahku shattered dreams, I can not stand on the hardness of the power of responding (in this case performed by the feeling). From issue to build a beautiful dream with my own thoughts or in fact undermine the fragile dream, it turns out I still vote. Yes, I'm still speculating choose who should I approach from the Eve of fragrances passing in front of me ..., see you!