Rabu, 22 September 2010

MENGUSIK SISI BANTARAN MUSI

Bergiat dan berbenah. Dua kata untuk menjuluki kota Palembang saat ini. Hidup lampau dengan image kriminalitas tentang kota tak aman, kini wilayah yang dikembangkan taman-taman komunitas tersebut ramai aktifitas positif. Kawasan hijaunya menggugah tentang kota Palembang yang panas menjadi kota yang rimbun. Dan kemilau di malam hari.

Kumuh, kusam, dan rawan, kini tak nampak di sepanjang pangkal jembatan Ampera, sungai Musi. Kesemrawutan mula diubah menjadi keteraturan. Tujuannya tak lain guna memunculkan kota Palembang yang manusiawi. Adalah Ir. Eddy Santana Putra yang mengubah kota Palembang saat ini dengan pukulan aksi satu periodenya membenahi kota yang semrawut dan kumuh menjadi tertib. Di periode kepemimpinannya yang kedua, ia meluaskan pembangunan penyangga kota Palembang. Semula tak dilirik, kini berbondong investor lokal dan asing datang ke kota Pempek tersebut.

Tahun 2003, Pasar 16 Ilir yang kumuh dan jorok disulap menjadi taman kota yang hijau dan bersih dan merelokasi pedagangnya ke wilayah Jakabaring. Wilayah-wilayah sepanjang pangkal jembatan Ampera sungai Musi ditertibkan menjadi kawasan wisata lokal yang nyaman. Tahun 2007 – 2008, kota Palembang menyandang predikat kota Adipura. Tahun 2005 silam, padahal kota Palembang menyandang predikat kota terkotor. Langkah-langkah pemerintah kota diambil berdasarkan evaluasi tentang kota yang manusiawi bagi warganya. Hingga di tahun yang sama pula, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono mendukung upaya pembangunan kota Palembang sebagai Kota Wisata Air, layaknya konsep wisata di kota Bangkok, Thailand dan Phnom Pehn, Kamboja.

Kawasan Benteng Kuto Besak pun tak luput dari pembenahan. Kesemrawutannya berkurang. Yang ada sekarang adalah kawasan wisata sungai Musi yang dikunjungi setiap harinya oleh warga lokal dan luar kota Palembang. Beberapa sarana pun terbangun, dari dermaga kapal wisata hingga pusat jajanan kakilima. Di areal Benteng Kuto Besak atau lebih dikenal BKB, dibangun panggung permanen yang kerap digelar event-event berskala lokal, nasional dan internasional.

Ada dua fasilitas transportasi yang terkenal dibuat di BKB. Kecintaan akan kuliner lokal serta potensi sungai Musi sebagai kawasan wisata andalan, membuat Dinas Pariwisata Kota Palembang dan pihak swasta antusias membuat resto kambang sekaligus menyediakan kapal pesiar resto. Dinas Pariwisata kota Palembang menyediakan kapal pesiar Putri kembang Dadar berkapasitas maksimum 120 orang. Menawarkan harga tiket sebesar Rp 70 ribu per orang dan Rp 6,5 juta untuk tarif charter,  rute wisata yang dilalui adalah: Rumah Rakit – PT. Pusri – Pertamina – Daerah Bagus Kuning – Mesjid Lawang Kidul – Mesjid Ki Merogan – Benteng Kuto Besak – Pulau Kemarau. Pelayanan jasa kapal pesiar dibuka hari Sabtu, Minggu, atau hari libur nasional.

Rute yang sama juga dilalui oleh kapal pesiar milik restoran Riverside. Memiliki dua opsi tempat berkunjung di tempat tersebut, Riverside menawarkan masakan khas Palembang yang serba ikan itu. Menempatkan areal di sisi sungai Musi, view yang ditawarkan tentunya pemandangan sungai Musi dan sekitarnya. Panoramanya akan lebih indah di waktu malam dengan taburan cahaya lampu yang dikelola dinas penerangan kota Palembang yang tujuannya memang untuk memperindah kota Palembang, guna menyemarakkan Visit Musi 2008 lalu.

Pikat Investor
Desember tahun lalu, saya bersama tim Colour of the World TVRI mendampingi kunjungan Duta Besar Palestina Untuk Indonesia Farez M. Mehdawi. Disambut oleh Walikota Palembang Eddy Santana Putra, kunjungan tersebut mengagendakan diantaranya mengenai potensi kerjasama Palembang-Palestina di waktu mendatang. Berkunjung pula ke lokasi-lokasi wisata kota Palembang seperti Kambang Iwak, Pusat Industri Kerajinan Ukiran Palembang, Museum Tekstil, Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, Pusat Kerajinan Songket, home industry pembuatan makanan Pempek, dan kios tenda jajanan kaki lima sungai Musi.

Sejarah tentang penciptaan kain songket Palembang, serta asal-usul industri tekstil tradisional Palembang, informasinya bisa didapat dengan mengunjunginya di Museum Tekstil di Jalan Merdeka, kota Palembang. Lewat berbagai koleksi-koleksi peninggalan kain-kainnya, akulturasi dan asimilasi budaya asli dan budaya pendatang ternyata sudah lama berlangsung. Kain batik asal Jawa, dijelaskan di museum ini, adalah bagian dari khazanah perkembangan kain Palembang. Teknologi pencetakan kain batik dan tenun songket, dapat ditelusur keberadaanya di tempat ini.

Namun untuk mendapatkan situasi dan kondisi industri Songket yang tengah terjadi saat ini, Anda bisa mendatangi kawasan 30-32 Ilir kota Palembang. Mulai dikembangkan sejak tahun 1990-an, daerah tersebut dikembangkan menjadi kawasan pusat industri Songket Palembang. Anda dapat melihat langsung proses tenun pembuatan songket hingga memilih koleksi-koleksi terbaik yang dijajakan di sana.
Kambang Iwak sebagai taman kota di depan rumah dinas Walikota Palembang, tepatnya jalan Tasik Palembang, juga bisa menjadi tujuan wisata kota Palembang. Banyak berdiri kafe-kafe dan sarana rekreasi taman, tempat ini tak pernah sepi pengunjung. Bagi warga kotanya di hari libur, kerap dijadikan arena bermain anak, remaja dan olahraga.

Tepat di depan rumah dinas Walikota Palembang, terdapat pohon-pohon simbolis dari bukti apresiasi tamu daerah baik lokal maupun internasional terhadap perkembangan kota Palembang. Duta Besar Farez M. Mehdawi juga dirujuk untuk menanam pohon simbolis bersama Walikota Palembang. Duta besar Palestina tersebut adalah satu diantara sekian tamu daerah yang menanam pohon simbolis di Kambang Iwak.

Keterbukaan pemerintah kota terhadap investor dari luar daerah dibuktikan secara konkrit. Berdasarkan data terkini Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Januari tahun 2010, investasi asing di Palembang sudah mencapai angka 1,14 triliun rupiah. Di tahun 2010 ini pula investasi ditargetkan 5,2 triliun rupiah. Kepala Dinas Pariwisata Baharuddin Ali mengungkapkan, sektor pariwisata dianggarkan oleh daerah sangat kecil. Hanya 3 miliar rupiah. Namun hal tersebut tidak menyurutkan tekadnya. Minat investor asing menjajagi kota Palembang bakal disambutnya dengan memberikan alternatif berinvestasi di sektor pariwisata.

Pucuk Ampera
Berkunjung ke Mesjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II, tidak lupa singgah di Sentra Industri Ukiran Khas Palembang yang tak jauh letaknya dengan mesjid tersebut. Tepatnya di jalan Pakih Jalalludin 19 Ilir Palembang. Sedikitnya ada 15 pengrajin ukiran khas Palembang berada di situ. Dulunya pengrajin di tempat tersebut berasal dari Kampung Sayangan, Kampung Kuningan, dan Kampung Plampitan, dimana seni kerajinan ukir khas Palembang berkembang. Ukiran khas Palembang dapat dilihat secara visual lewat kombinasi warna hitam, coklat, dan kuning keemasan. Motif ukiran khasnya terletak pada ornamen kembang dan daun. Berbeda dengan motif ukiran Jepara yang khasnya adalah hewan.

Memasuki lokasi tersebut, Anda akan mencium aroma bakaran Lenggang. Sejenis Pempek yang dibakar dengan daun pisang sebagai wadahnya. Pempek yang oleh sebagian besar masyarakat Palembang juga dijadikan makanan pokok, banyak dibuat oleh produsennya dengan penawaran berbagai macam rasa dan jenis. Jika Anda datang ke kota Palembang, beberapa nama besar usaha kuliner tersebut yang patut dikunjungi adalah Pempek Pak Raden, Pempek Candy, Pempek Mangdin, dan masih banyak lagi. Kalaupun ingin menyantap Pempek murah meriah namun nikmat, Anda bisa kunjungi Jalan Mujahidin Kelurahan 26 Ilir, terusan jalan Radial Palembang. Di jalan tersebut pula, Anda dapat memperoleh toko-toko souvenir berupa kasur Lehat.

Sejurus lalu, konsep wisata yang dikembangkan di sepanjang sungai Musi dari pangkal jembatan Ampera sudah berjalan dan berfungsi baik, pada malam harinya, wisata kuliner sungai Musi terletak di pasar 16 Ilir. Deretan warung tenda dimana pusat jajanan kaki lima yang disediakan oleh dinas perdagangan kota Palembang, menyajikan berbagai menu makanan yang dapat dinikmati sambil menyelami pemandangan Musi di waktu malam. Konsep pusat jajanan kaki lima ini menyangga wisata Musi.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata kota Palembang Baharuddin Ali, hambatan yang dialami oleh instansinya dalam menggalakkan pariwisata kota Palembang terletak pada daya jual wisatanya itu sendiri. Banyak ditumbuhi pemakaman para leluhur, hal ini tak dapat ditoleh oleh investor manapun sebagai wisata ziarah. Seperti makam Sultan Mahmud Badaruddin I dan Kawah Tengkurep yang terdapat di satu areal di Kelurahan 3 Ilir, makam Sultan Agung dan Ki Gede Ing Suro di 1 Ilir, dan makam Sabokingking di Sei Buah Ilir Timur II. Meski wisata ziarah sudah dikenal, namun untuk memunculkan minat investasi di kalangan investor bukan lah hal mudah.

Karena Musi masih memiliki pesona dan daya pikat tersendiri, maka pengembangan pariwisatanya dibuat maksimal. Jembatan Ampera yang semula dapat dinaik-turunkan untuk mendukung lalulintas air, di non-aktifkan sejak 1970 oleh karena lalu lintas darat lebih padat ketimbang lalu lintas air. Proses pengangkatan jembatan memakan waktu 30 menit untuk bisa dilalui kapal besar. Hal tersebut menghambat lalu lintas darat yang memang sudah sangat vital pada saat itu. Praktis, mesin-mesin penggerak jembatan hasil pampasan perang dengan Jepang tersebut pensiun. Demi menambah warna baru, direncanakan pucuk menara jembatan Ampera tersebut menjadi target pariwisata andalan kota Palembang. “Kita merencanakan akan menurunkan semua mesin-mesin tersebut dan menghidupkan kembali lift yang lama mati dan mengubahnya untuk wisata restoran di atas menara,” sergah Baharuddin Ali optimis.

Saya sempat mendaki tangga menara jembatan Ampera hingga ke pucuk untuk mengabadikan kota Palembang dari atas jembatan tersebut. Dan memang, pemandangan kota Palembang sangat memukau di situ. Bahkan mesin-mesin pengangkat jembatan sebagian besarnya masih utuh meski tak terawat. Yang tergambar saat itu adalah potensi wisata ekstrim bisa dibuat di situ seperti halnya wisata jembatan di Sidney. Di luar dugaan pula jika kelak pucuk menara jembatan Ampera tersebut akan hadir restoran seperti yang dikemukakan kepala dinas pariwisata kota Palembang tersebut. Kita tunggu saja!