Rabu, 06 Februari 2013

INTEPRETASI MIMPI

Foto: Istimewa
Saya sering menghindari keriuhan. Buat saya keriuhan menempatkan saya pada kesunyian. Kesunyian tak berpengetahuan apa-apa tentang bagaimana keriuhan itu bisa diciptakan dan tercipta bagai magnet yang menyedot sekitaran. Seperti kala di kota Kediri tahun 2001 ketika saya membawa calon artis untuk dipentaskan di sana. Di lobby hotel, seorang lelaki berpenampilan agak kemayu hilir-mudik ke meja receptionist. Rupanya tengah menanyakan nomor kamar model yang saya bawa. Itu terjadi di siang hari.

Malamnya, kamar kami diketuk. Saya membukanya. Melihat lelaki berpenampilan kemayu itu menyergah jabatan tangan saya lalu melintas masuk dengan pura-pura menyapa model-model saya begitu akrabnya. Saya tanyakan tegas ke para model dan mereka berbisik tak kenal. Saya mulai melakukan tindakan protektif. Membatasi waktunya berlama-lama di kamar kami. Ia pun undur diri dan esok janji akan memberikan sesuatu yang mengejutkan.

Keesokannya, plaza penuh sesak dengan kerumunan. Terutama di wilayah atriumnya. Panggung dengan lighting tak semewah venue-venue pertunjukan di Jakarta cukup membuat debaran dada para penontonnya berdegub kencang. Mereka tidak peduli dengan tata panggung. Mereka peduli dengan pengisi acara panggung, yakni model-model saya.

Saya membiarkan hingar-bingar terjadi sambil mengabadikan gambar-gambar peristiwa tersebut. Beberapa penonton histeria hendak naik panggung namun ditangkal oleh satpam plaza tersebut. Saya menyaksikan betapa panggung adalah dunia mimpi dan dunia fantasi para penonton. Terlebih ketika pengisi acaranya dielu-elukan oleh mereka. Dunia prestisius yang tak hanya digemari calon artis dan artis sudah jadi. Dan panggung politik pun ikut siap saji. 

***

Sutan Sjahrir (Foto: Istimewa)
Presiden PKS Muhammad Anis Matta akan melakukan perjalanan keliling setelah menggantikan posisi yang sebelumnya diduduki oleh Luthfi Hasan Ishaaq yang diduga tersangkut kasus korupsi impor daging Sapi oleh KPK. Saya tidak ingin membahas kasus ini. Tetapi malah teringat akan buku bacaan saya yang mengungkap sedikit tentang 'coup diam-diam' Sutan Sjahrir setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. 

Presiden Soekarno yang tengah melakukan perjalanan keliling dipanggil oleh Wakil Presiden Hatta untuk membahas masalah Dwi-tunggal mereka yang seolah-olah tengah pecah karena ada kubu selain mereka yang saat itu muncul yakni kubu Sutan Sjahrir-Amir Sjarifoeddin.  Hatta konon memanggil kabinet di bawah pimpinan Sjahrir dan dirinya bersama Soekarno menyatakan bahwa kabinet Sjahrir-Amir adalah kabinet yang sah.  

Sjahrir dan Hatta memiliki kesamaan latar-belakang yang sama-sama didikan dunia barat. Ketika KNIP dibentuk Sjahrir untuk 'tandingan' jalan Pegangsaan (tempat Soekarno-Hatta berada), ia mendapat restu dari Hatta untuk menjadikan KNIP berstatus sama dengan MPR. Soekarno tidak mengiyakan pula tak menolak hal itu. Namun ketika Soekarno tengah keluar kota, Hatta menandatanginya secara sepihak tanpa menunggu persetujuan Soekarno. 

Sjahrir menjadi perdana menteri dan Soekarno tetap menjadi presiden. Pemerintahan ditangani perdana menteri dan negara dipimpin presiden. Karena pemerintahan telah ditangani Sjahrir maka Soekarno memfokuskan diri pada kepemimpinannya dalam revolusi.  

Empat hari setelah Sjahrir menjadi perdana menteri, ia mengeluarkan tulisannya yang berdasarkan keterangannya adalah maklumat pemerintahannya. "Pada waktu negara Indonesia yang merdeka didirikan, pimpinan hampir seluruhnya dipegang oleh mantan pembantu dan pejabat zaman Jepang. Hal ini menjadi kendala untuk membersihkan masyarakat dari penyakit Jepang, yang menjadi bahaya maut bagi kaum pemuda." Begitu salah-satu petikan tulisannya.

Maklumat itu menyakitkan perasaan. Sebab Soekarno mengusahakan kemerdekaan sebelum proklamasi, bekerjasama dengan Jepang sesuai dengan janji Jepang pada waktu itu.   Hingga pada akhirnya proklamasi pun diusahakan sendiri oleh bangsa Indonesia. Meski demikian Soekarno memiliki pendapat apa yang dilakukan Sjahrir sama halnya dengan dirinya, yakni tujuan Indonesia untuk mencapai pengakuan internasional. Soekarno sadar Sjahrir dianggap lebih mampu menjalankan perundingan dengan pihak Belanda dan Inggris. Peristiwa Surabaya 1945 yang menurut Inggris gagal diredam oleh Soekarno, membuahkan hilangnya kepercayaan Inggris terhadapnya. Inggris mencari figur lain yang memiliki pengaruh di rakyat Indonesia. Sjahrir lah orangnya.

Namun Sjahrir membuat blunder terhadap kaum militer dengan menyudutkan peran militer Indonesia yang dianggapnya sebagai fasis dan militeris. Kerjasama perjuangan diplomasi dan militer menjadi berjarak karenanya. Dan itu faktor penentu cikal-bakal kejatuhan Sjahrir di kemudian hari dan diselamatkan ia oleh Soekarno.


Pada pertanggungjawaban keputusan Hatta menandatangani sendiri KNIP sebagai kabinet sah yang terkenal dengan Keputusan Presiden X, Hatta mengungkapkan bahwa keputusannya menjadi keputusan yang lainnya. Sebagaimana prinsip dari dwi-tunggal yang waktu itu disepakati. 



***

Tan Malaka (Foto: Istimewa)
Sjahrir tidak berniat merebut jabatan presiden dari tangan Soekarno. Tetapi Tan Malaka mencobanya. Ia mengaku menyesal tidak ikut serta dalam mengurus proklamasi kemerdekaan RI. Sesudah Jepang kalah, Tan Malaka meninggalkan persembunyiannya di Banten menuju Jakarta. Tan Malaka yang waktu itu memakai nama samaran Abdulradjak bertemu dengan Soekarno atas bantuan Soebardjo dan membuka samarannya. 

Soekarno terpesona dengan senioritas Tan Malaka yang telah ia kenal sejak masih duduk di bangku sekolah. Kedatangan Tan Malaka mendengungkan tentang revolusioner internasional dan membuat Soekarno terkesima dengan pemikirannya. Maka tercetus kata-kata Soekarno kepada Tan Malaka. "Andaikata saya tidak lagi bebas bertindak, maka kepemimpinan revolusi ini saya serahkan kepada Anda." 


Soebardjo, ayah angkat Tan Malaka dan calon menteri luar negeri kabinet presidensiil itu membisiki Tan Malaka untuk membuat tawaran Soekarno tersebut hitam di atas putih. Soekarno membuatkannya namun tidak disepakati Hatta. Surat wasiat politik itu sulit untuk ditarik mandatnya karena merasa berjanji dengan 'seniornya' itu. Hatta membuat jalan keluar untuk menulis empat orang ahli waris, termasuk di dalamnya Tan Malaka, Sutan Sjahrir, Iwa Koesoemasoemantri,  dan Wongsonegoro.


Surat wasiat itu menjadi perangsang Tan Malaka untuk mencari jalan sendiri. Sjahrir diajak berkonspirasi dengannya untuk mengambilalih kekuasaan Soekarno. Tan Malaka akan menjadi presiden dan Sjahrir tetap menjadi perdana menteri. Sjahrir menolak halus dengan menantang Tan Malaka mendapatkan popularitas 10% Soekarno. Jika ia mendapatkannya maka Sjahrir akan bergabung. Tan gagal mendapatkannya karena ia begitu lama hidup dalam penyamaran.  Perjalanan kelilingnya tersebut sambil membawa surat wasiat dari Soekarno yang ketiga nama selain dia telah dihapus. Serta memberi kesan seolah-olah Soekarno dan Hatta telah menjadi tawanan Inggris di Jakarta dan tak bebas bertindak.


Kesan yang dilahirkan Tan Malaka itu dijawab Soekarno dengan melakukan perjalanan keliling meski kondisi negara tengah rawan pada akhir 1945. Soekarno membuktikan masih bebas bergerak dan tetap diminati dan dielu-elukan.



***


Foto: Istimewa
Kebebasan saya sebagai peliput terusik ketika beberapa orang menghampiri dan mengelu-elukan secara histeris saya. Rupanya mereka salah orang. Dipikirnya saya seorang artis juga yang tengah berada di backstage. Meski demikian saya tidak bangga atau antusias membiarkan mereka salah terka tentang diri saya. 

Kembali saya teringat buku bacaan favorit saya, The Intepretation of Dream karangan Sigmund Freud tentang hal tersebut. Buku itu pula membuat asistennya Carl Gustav Jung mengundurkan diri. Sebuah mimpi bukan bentukan dan manusia bukan mesin. Jung berkilah tentang pendapat Freud. Dan nahas Freudian telah menjadi dogma di masyarakat. Hingga pada akhirnya ideologi bukan melulu soal ketulusan, tetapi kebutuhan yang harus diasup terus-menerus. Semoga tak bermimpi karena diminta, tetapi bermimpilah dengan segala ketidaksadaran. Itu yang hakiki dan mewujudkannya adalah hakekat.  


Supported By

    

Gadabima Creative: EMPATI TIKUS

Gadabima Creative: EMPATI TIKUS: ( Foto: Istimewa ) Saya tidak bercita-cita menjadi pemburu. Bermula dari rasa kesal banyak dagangan ibu disabot Tikus, maka saya mena...

EMPATI TIKUS

(Foto: Istimewa)
Saya tidak bercita-cita menjadi pemburu. Bermula dari rasa kesal banyak dagangan ibu disabot Tikus, maka saya menabung dan patungan dengan adik membeli senapan angin. Karena Tikus memiliki insting yang luar biasa terhadap ancaman. Ia selalu menerjunkan satu ekor advance sebelum keseluruhan anggotanya keluar dari lubangnya. Dan diberi durasi. Jika ia tidak kembali ke lubang dalam kurun waktu tertentu yang ditetapkan, maka seluruh anggotanya harus mengurungkan niatnya keluar lubang. Maka saya akan memburunya dengan tetap menjaga jarak yang ia rasa aman. Dan saya leluasa mengancam.

Sebelum memiliki senapan angin, pernah berjam-jam saya duduk diam sambil membawa tombak buatan sendiri yang ujungnya diberi paku besar diikat di bekas gagang sapu patah. Saya dan Tikus beradu insting. Insting Tikus itu bersembunyi di balik kardus mie instant dagangan. Saya tahu itu. Mata saya dibuat harus mengurangi kedipan. Sebab saya mengincarnya, tak boleh luput dari pengawasan. Lampu sengaja dimatikan untuk menghilangkan keberadaan saya yang dapat diamati Tikus tersebut. Dalam pengamatan saya itu, Tikus bergeming dalam persembunyiannya. Hanya suara nafasnya saja yang masih bisa saya dengar. Untuk berbuat lebih dari itu semisal memporak-porandakan persembunyiannya, maka saya akan kalah cepat. Biar, saya dan Tikus itu harus adu kuat berdiam diri. Walaupun akhirnya Tikus itu luput dari sergapan saya sambil membawa luka tusukan tembus paku besar.

Di lain waktu setelah kejadian itu, saya mendengar ada sedikit kegaduhan khas yang dibuat Tikus. Serta merta saya melompat dari duduk dan menyerbunya. Lampu saya nyalakan. Tikus itu tengah berada di ember beras, terkaget dengan kehadiran saya. Saya mencari-cari senjata yang dapat membunuhnya, Tikus itu hendak melompat, lantas dengan cekatan saya mengambil kayu penakar literan beras kemudian memukulnya berkali-kali ke tubuh Tikus itu hingga kemampuannya melarikan diri melemah. Akhirnya mati.

Sejak itu saya memaklumatkan diri sebagai Mouse Hunt alias pemburu Tikus. 

(Foto: Istimewa)
Saya berlatih keras dengan kertas target. Hingga lebih dari 5 kotak mimis senapan angin habis sehari. Saat itu per kotak peluru senapan angin atau sering disebut mimis harganya antara Rp 750 - Rp 1000. Dari mimis yang berujung tajam hingga berujung dandang. Keduanya saya pelajari efektifitas membunuhnya. Mimis tajam membuat luka besar saat masuk ke tubuh Tikus lantas terpendam di dalam. Sedangkan mimis dandang atau berujung tumpul tidak merusak tubuh kala masuk, tetapi justru pada saat keluar. Mimis dandang cenderung tembus jika hanya mengenai bagian lunak tubuh. 

Kemudian saya pelajari titik-titik kematian paling efektif pada tubuh Tikus berikut jarak tembaknya. Pada jarak 20 meter ke atas, saya harus rela melihat penderitaan kematian Tikus yang cukup lama karena sasaran tembak dengan kemampuan tembak senapan angin saya tersebut, presisinya tak bisa dipertanggungjawabkan keakurasiannya. Saya membidik kepala, yang kena perut. Saya menembak perut, yang kena bokong. 

Dari sekitaran rumah hingga akhirnya sekitaran kampung. Dalam semalam saya menarget minimal 13 Tikus dengan asumsi bentuk kesialan Tikus yang bertemu saya. Target itu terpenuhi pada setiap perburuan. Tempat sampah umum selalu ada bangkai Tikus jadinya. Bahkan ketika menggenjot target maksimal, saya berhasil mencapai pembantaian 27 Tikus dalam kurun dua jam setengah saja. 

Tahun 2002, banjir lima tahunan terjadi. Isu pasca banjir tentang penyakit Leptospirosis yang berasal dari air seni Tikus mencemari kesehatan manusia merebak. Tikus disayembarakan untuk didapat bangkainya sebanyak-banyaknya. Sayembara itu menjanjikan per ekor Tikus dihargai antara 1000 - 3000 rupiah. Pemrakarsanya tak tanggung-tanggung. Kelurahan siap menampung bangkai Tikus dan membayarnya. 

Sejak itu tiap berburu Tikus saya menjadi tak sendiri lagi karena keikutsertaan peserta sayembara tersebut. Saya dan Tikus naik daun. 
    
***

Bung Tomo (Foto: Istimewa)
Pergolakan Surabaya tahun 1945 menjadi mencekam. Pasukan Inggris yang mendaratkan tentara Gurkha berjumlah 4000 orang bertugas mengkapitulasi dan melucuti persenjataan Jepang yang kalah perang di Indonesia. Padahal dua puluh ribu lebih pucuk senjata api dan lebih dari seribu senapan mesin Jepang berhasil dirampas oleh para pemuda. Bahkan dua ribu kendaraan, beratus-ratus senjata mortir, artileri, tank dan senjata anti tank Jepang berhasil direbut pula. Komandan Angkatan Laut Shibata menurut keterangannya sendiri tidak memiliki pilihan lain  menyerahkan peralatan tempurnya itu karena jika tidak menyerahkannya maka penduduk sipil Jepang dan Belanda di Surabaya akan dihabisi.

Para pemuda mawas diri dengan kehadiran NICA yang sudah bersiap-siap di Australia untuk turut kembali ke Indonesia. Pasukan Inggris tersebut dipimpin oleh Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby. Ia harus berhadapan dengan gerombolan pemuda marah akan kedatangannya yang dikira turut di dalamnya NICA  Belanda. Gerombolan pemuda marah yang melebihi jumlah pasukan Mallaby dipimpin oleh Moestopo, seorang dokter gigi yang mengangkat dirinya sendiri sebagai komandan tentara Republik Indonesia di Surabaya.

Pendaratan Inggris tersebut sukses tanpa perlawanan, oleh karena pihak pemerintah RI di Jakarta menginstruksikan larangan penyerangan. Namun ditanggal 27 Oktober 1945 pesawat terbang Inggris di atas langit Surabaya menghujani selebaran dan pamflet berisi anjuran menyerahkan senjata. Raungan mesin pesawat Inggris di udara Surabaya tidak kalah sengit dengan ucapan Bung Tomo yang berapi-api membuka kedok Inggris sebagai kaki tangan NICA. Bung Tomo menyerukan untuk melawan Inggris.

(Foto: Istimewa)
Tidak mudah bagi saya menggambarkan situasinya waktu itu. Namun ketika menyimak perlawanan rakyat Somalia terhadap raid ranger Amerika Serikat di film Black Hawk Down, begitulah kiranya perlawanan yang dapat saya pikirkan tentang masa yang digambarkan Lambert Giebel di bukunya: Soekarno, Biografi 1901-1950. Mallaby dalam tugasnya itu memerintahkan pasukannya bertindak polisionil bukan militer. Kesatuannya dipecah-pecah menjadi peleton. Tentara Inggris - India dibuat tunggang-langgang dengan kondisi perlawanan rakyat yang mencapai jumlah ratusan ribu orang. Sebagiannya bersenjatakan rampasan Jepang, sebagiannya bersenjatakan pisau, tombak, kapak, dan bambu runcing. 

Tentara Inggris yang berhasil lolos dari serbuan massa yang mengamuk, bertahan dalam lima gedung yang tersebar di pusat kota. Di sana mereka berusaha menangkis serbuan ribuan massa Surabaya. Mallaby khawatir pasukannya akan dihabisi, maka ia menelepon Christison di Jakarta untuk membantu meredam pergolakan tersebut. Christison meminta Presiden Soekarno menenangkan rakyat Surabaya. Bersama Wakil Presiden M. Hatta dan Amir Sjarifoedin, Presiden Soekarno menyambangi rakyat Surabaya yang tengah bertempur. Ketika roda pesawat masih menggelinding di landasan, riuh terdengar hujan peluru yang disasarkan ke pesawat. Setelah pesawat berhenti, Presiden Soekarno keluar lebih dulu sambil melambaikan bendera putih atas desakan Hatta dan Amir. Lantas disambut para penembaknya dengan teriakan-teriakan merdeka atau mati. Pertemuan ini dari pihak Inggris diwakili oleh Hawthron. Efek proklamasi kemerdekaan dan semangat merdeka terasa menderu sanubari pemuda Indonesia di Surabaya  1945 kala itu.

Moestopo (Foto: Istimewa)
Ketika kesepakatan gencatan senjata disepakati dengan Gubernur Jawa Timur Soerio yang republik fanatis, Amir memanggil beberapa pemimpin pemuda untuk menghadiri perundingan keesokan harinya dengan Mallaby dan Hawthron. Moestopo yang dijuluki 'komandan kota' pula hadir dengan baju serba hitam hingga wajahnya pun ditutupi syal warna hitam. Hatta meminta keterangan dan pertanggungjawaban tindakan lelaki berselubung hitam tersebut tentang aksinya melawan Inggris di Surabaya. Moestopo membalikkan kata-kata yang pernah diucapkan Hatta dan berbicara lantang bahwa setiap orang harus lebih suka mati berdiri daripada membiarkan diri dijajah lagi.

Hatta putus asa mendengar jawabannya tersebut, khawatir perundingan gencatan senjata tak akan sukses. Secara politik, perundingan merupakan senjata perjuangan. Bagi kaum militan, mengangkat senjata dan bertempur lah merupakan perjuangan. Kemudian Hatta bertanya pada Soekarno apa yang harus dilakukan terhadap Moestopo itu. Karena perjuangan kemerdekaan Indonesia dilakukan dengan dua cara: perundingan dan angkat senjata. 

Soekarno memutuskan mengangkat Moestopo menjadi jenderal lantas serta merta pula menyuruhnya pensiun saat itu juga.

***

Saya jadi teringat dengan kisah dongeng The Pied Piper of Hamelyn. Tentang seorang pemuda peniup seruling penghalau Tikus di desa Hamelyn. Meski bukan cerita favorit saya, tetapi ada yang membuat saya selalu bertanya-tanya tentang suara yang dihasilkan Tikus sekarat karena keberhasilan bidikan saya mengenai lehernya. Pada saat meregang nyawa, Tikus itu mengeluarkan semacam bunyi yang panjang tanpa henti. Saya menyimaknya dan untung saat itu sepi. Suara itu seperti peluit Anjing yang ditiup panjang-panjang.

Setelahnya, wilayah tersebut sepi Tikus. Berkali-kali saya mondar-mandir dari lubang satu ke lubang lainnya yang biasa saya sambangi, tak ada penampakan. Keesokan harinya pun demikian. Tikus-Tikus tak keluar sarang. Di hari keempat barulah saya menemukan aktivitas Tikus mencari makan lagi.

Mendapat pengalaman itu saya tertarik mempelajari tentang perilaku Tikus. Pastinya secara permukaan untuk sekedar tahu. Sebab saya tidak bercita-cita menjadi Profesor Tikus yang sebenarnya menjanjikan sebagai profesi di masa depan seiring ledakan penduduk serta pola hidup tak sehat manusia. Tikus ternyata memiliki meta kognisi yang tak dimiliki oleh binatang lain. Tikus mampu mengungkapkan perasaan empatik (berusaha memahami perasaan yang dirasakan lainnya) dan altruistik (mementingkan kepentingan bersama ketimbang kepentingan sendiri).

Dari perilaku Tikus tersebut, maka saya membeberkan sekelumit kisah dr. Moestopo mendaulat dirinya sebagai komandan. Ia bertindak demikian bukan karena ingin mencari popularitas atau berambisi menjadi pemimpin, tetapi lebih karena ia ingin menjadi seorang advance atau pelopor dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia kala itu khususnya di Surabaya. Dengan kata lain dr. Moestopo berinisiatif membangun kekuatan yang memotivasi siapapun untuk turut bersama mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamirkan.

Presiden Soekarno melakukan hal demikian semirip dengan perlakuan Ratu Wilhelmina terhadap Van Mook yang tidak gegabah begitu saja menghentikan seseorang yang tengah memegang kendali kekuasaan di tanah Hindia Belanda. Mengangkat dr. Moestopo menjadi jenderal lantas memensiunkannya merupakan tindakan empati Presiden Soekarno tetapi win-win solution. 

Manusia dan Tikus akan terus berdampingan sampai kapanpun. Dimana ada manusia, di situ ada Tikus. Bahkan Tikus menurut Profesor Neurolobiologi Peggy Mason PhD, ditemukan  pola emosi dari empati, dan memiliki perilaku menolong sangat aktif, ekspresif dan jauh lebih kompleks dari empati. Sifat tersebut pula notabene dimiliki manusia. "Ketika kita bertindak tanpa empati, maka kita bertindak melawan warisan biologis kita," ujar Peggy Mason PhD.       

Melihat lima Tikus bergelimpangan di depan lubang mereka, membuat saya menghentikan perburuan terhadap mereka untuk selama-lamanya. Sebab Tikus kedua hingga kelima merupakan korban bidikan senapan angin saya ketika mereka tengah mengitari dan mengendus kebingungan Tikus pertama yang telah mati. Saya menghabisi mereka sekaligus ketika mereka berupaya memberi bantuan terhadap rekannya yang ditembak saya lebih dulu.




Supported By



Selasa, 05 Februari 2013

Senin, 04 Februari 2013

SALAH TULIS SALAH SEJARAH

Foto: Istimewa
Saya tidak mengecek kepada pemiliknya tentang arti dari nama usaha PITI PILI Money Changer di daerah Tebet Jakarta Selatan. Dan rasanya tak perlu. Saya hanya tertarik dengan penggunaan namanya saja. Maka tak perlu saya mewawancarai pemiliknya untuk sekedar bertanya arti dari nama usahanya tersebut. Butuh surat tugas dan butuh singgah dulu. Sebab saya tengah dalam perjalanan ke tujuan lain.

Saya buka KBBI, tak ditemukan artinya. Saya buka google translate-pun tak ada artinya. Tetapi nama PITI PILI itu sudah merasuk ke dalam pikiran saya sepanjang jalan waktu itu. Apa artinya dan kenapa dipergunakan sebagai nama usaha money changer? Unik memang dan enak diingat. Atau terkesan jenaka. Bisa jadi nama itu diambil dari bahasa Spanyol atau Italia. Karena agak mendekati lafalannya. Namun pula ketika saya cari di arti kata PITI PILI dalam bahasa Spanyol atau Italia, juga tak ditemukan. Juga dibeberapa bahasa asing lainnya. Ah, sudahlah.

Di lain waktu perjalanan, saya melihat sebuah gerobak beratap terpal plastik. Di dalamnya ada dua orang anak kecil usia berkisar delapan tahunan dan seorang ibu terduduk sambil menyusui bayinya. Gerobak itu ditarik oleh seorang bapak tua dengan pakaian kumal seperti lusuhnya bentuk gerobaknya itu. Di dinding gerobak bagian luar bertuliskan "MILIK KAMI SATU-SATUNYA". Saya berasumsi tulisan itu diperuntukkan bagi gerobaknya yang merupakan harta mereka paling berharga. Sebab tak mungkin kalimat itu ditujukan bagi orang-orang di dalam gerobaknya. Karena penggunaan kata 'KAMI' sudah menjelaskan bahwa mereka lah pemiliknya. Sekali lagi saya tidak menghentikan kendaraan untuk sekedar bertanya.

Ketika saya hendak membeli tiket kereta api untuk kepulangan keluarga saya ke kampung halaman, di Stasiun Jatinegara tempat saya membeli tiket terpampang papan bertuliskan nama loket tersebut. Tulisannya membuat saya tersenyum-senyum. Menyebut kata EXECUTIVE atau dalam bahasa serapan ke Indonesia menjadi 'EKSEKUTIF', di papan tersebut bertuliskan kata tersebut menjadi 'EXEKUTIF'. Entahlah, mungkin salah dalam pencetakan sablonnya atau memang sudah terlanjur dibuat maka dipergunakan.
Tulisan yang salah atau tak diketahui artinya bagi saya sangat mengganjal. Itu akan mengolah seluruh kemampuan otak saya untuk menafsirkan yang tersurat maupun yang tersirat. Mudah sebenarnya dengan hanya tinggal mengabaikannya saja, namun saya selalu tergelitik untuk memikirkannya. Kelas BUMN saja bisa salah mengintepretasikan intelektualitas berbahasanya ke masyarakat pengguna jasanya.

Setelahnya melihat tulisan itu saya melaju ke tujuan lain. Cuaca panas dan saya butuh air minum segar. Maka menepilah di sebuah rombong pinggir jalan. Selain berjualan berbagai jenis rokok dan makanan ringan, rombong tersebut pula berjualan pulsa handphone. Kembali saya dibuat tergelitik dengan tulisan "JUAL PULSA ELEXTRIK." Kali ini saya tidak perlu menjabarkan kesalahannya karena saya yakin Anda telah tahu salahnya apa...

Bagi sebagian orang, kesalahan tulis bukan hal yang mencemaskan untuk dipublikasikan. Bagi saya itu sudah menjadi bentuk kesalahan yang membuat masygul karenanya. Pada tulisan saya sebelumnya di blog ini, saya membiarkan kesalahan itu terjadi. Di artikel saya berjudul SENDAL JEPIT DI BATAS SUCI saya menyebut SANDAL dan juga SENDAL. Juga SUBUH dan SHUBUH. Tujuan artinya tetap sama namun penulisannya yang berbeda. Padahal berbeda sedikit saja penulisannya maka bisa jadi akan berbeda arti. Tetapi saya telusuri tidak ada yang berbeda, maka saya gunakan saja. Karena sudah terlalu banyak distorsi pada penulisan kata-kata tersebut, maka saya membuatkan saja pilihan untuk dimaklumi. Semoga mahfum.

Juga judul artikel NARKOBA DAN NARSIS, saya menyebut nama tempat KARANGHANTU dan juga KARANGANTU. Dua tulisan itu saya buat untuk menerjemahkan mana yang bisa dipergunakan berdasarkan ejaan yang saya baca dan juga pengucapan yang saya dengar dari masyarakat sekitar.

Jakarta surganya berbagai pesan dalam bentuk tulisan. Otak kanan dan otak kiri terlatih jadinya melihat tulisan-tulisan tersebut. Dari tulisan di billboard, poster, leaflet, hingga produk-produk dari aksi vandal. Buat saya yang tukang keliling, tulisan-tulisan tersebut merupakan hiburan sepanjang jalan. Maka saya disadarkan tentang masa sejarah dan masa pra sejarah. Masa yang ditandai dengan sebelum dan mengenal tulisan. Sebab sejarah  valid terdeteksi oleh peninggalan tulisan. Sebuah tulisan Hieroglyph tak pernah salah tulis dan akhirnya dipecahkan artinya oleh para arkeolog. Atau malah tulisan berhuruf Pallawa, dapat dibaca tanpa harus menerka tulisan huruf yang salah.

Ketika Short Messages System (SMS) merebak dengan gaya penulisan disingkat-singkat, saya ditanya oleh owner perusahaan saya bekerja usai chat SMS dengannya. "Bahasa kamu gaul juga ya." Buat saya saat itu, ucapan atasan saya bukan hinaan, tetapi pujian. Sebab saya berhasil meyakinkannya kalau saya (dan tim saya) tepat mengelola tabloid remajanya dengan gaya bahasa khasnya. Di satu sisi, saya takut menjadi salah-satu perusak bahasa untuk generasi mendatang.

Bertemu dengan seorang teman asal Bima - Nusa Tenggara Barat, saya mendapatkan arti dari kata Piti yang berarti uang dan Pili berarti sakit. Entah Piti Pili yang dimaksud itu memang benar-benar berasal dari bahasa Bima atau bukan. Karena saya tidak pernah menggunakan jasa money changer tersebut dengan alasan kondisi keuangan saya sering sakit.

Sudahlah, ternyata tulisan-tulisan itu tidak hanya perkara makna, tetapi juga latar belakang penulisnya. Kita harus menerkanya sekaligus. Karena tulisan menunjukkan bahwa  kita adalah mahluk sejarah. Dan mahluk sejarah dewasa ini mudah dideteksi lewat kronologis akun jejaring sosialnya. Suatu fenomena yang mengingatkan saya dengan pendapat Theodore Adorno: "Sejarah ditulis oleh para pemenang..." Sebab status yang ditulis di akun jejaring sosial kerap tersembul perasaan ingin diperhatikan dan memenangkan perhatian lewat komentar atau sekedar mendapatkan LIKE. Sah-sah saja, sebab ada ruang eksistensi yang mengakomodirnya.

Uang sakit dan mahluk sejarah, sekali lagi saya dibuat berpikir. Apakah orang-orang yang 'sakit' karena uang dan dihebohkannya ia  pada situs-situs jejaring sosial serta-merta menjadi mahluk sejarah?  Sebab sepengetahuan saya dalam aksinya ia akan menghilangkan berbagai bukti tertulis untuk menghindari pelacakan. Cara paling jitu mengetahuinya adalah menangkap basah alias tertangkap tangan. Untuk kasus ini saya berpikir sedikit nakal memelesetkan pendapat Adorno dengan fenomena tulis-menulis dewasa ini: "Sejarah ditulis oleh para korban sejarah..." Saya rasa cukup relevan bagi pemilik akun facebook yang kritis melihat gejolak dan mengeksposenya.

Pada perjalanan keliling selanjutnya, saya melihat lagi tulisan-tulisan pada material promosi dan informasi yang saya tahu maksudnya namun ditulis berbeda: BENKLEDING; CERVICE HANDPHONE;  SANYANGI KESELAMATAN HINDARI KECELAKAAN; CETAK FOTO dari HP BLUTUT, CD-R, FLADIS, MMC, SKEN, POTO; HALTE PLY OFER; KUE FUKIS DAN PANCONG; TAKE THE BUS, NO IT'S WAY; SANKSI PIDANA PALING LAMA 6 (TIGA) BULAN -  UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NO.23 TAHUN 2007 TENTANG PERKERETAAPIAN; TATA TERTIP PENGUNJUNG; ISTIFAR; UNDER CONTRACTION; SIYOMAY; dan masih banyak lagi.  Lumayan buat tersenyum namun menohok persepsi saya. Sejarah dan tulisan saling terkait. Sejarah dan tulisan punya sifat yang sama. Mudah ditertawakan, diingat, diserap, dilupakan, disiniskan, dan dirindukan.

Itu pelajaran bagi saya sebagai penulis sekarang atau nanti. Huruf-huruf kapital yang dipergunakan dan salah tulis bagi saya adalah kelalaian intelektualitas menulis yang dibesar-besarkan. Sejarah tidak butuh itu.


Supported By






Gadabima Creative: MATA IKAN DAN LAMPU PETROMAX

Gadabima Creative: MATA IKAN DAN LAMPU PETROMAX: Foto: Istimewa Pasar Kramat Jati memang unik di dini hari. Pedagang memenuhi badan jalan dan menyisakan rongga jalan untuk satu mobil s...

MATA IKAN DAN LAMPU PETROMAX

Foto: Istimewa
Pasar Kramat Jati memang unik di dini hari. Pedagang memenuhi badan jalan dan menyisakan rongga jalan untuk satu mobil saja pada masing-masing ruasnya. Karena beraksi di tengah malam hingga dini hari, kemacetan bukan masalah pelik. Paling-paling nestapa kala musim penghujan datang. Karena mereka hanya bertendakan terpal plastik agar memudahkan waktu membongkar kiosnya. Maklum, jam tayang jualan mereka hanya berbatas hingga pukul 4 subuh saja. Setelah itu mereka harus mengembalikan fungsi awal jalan raya.

Sebelum seperti saat ini dimana penerangan mereka menggunakan lampu neon listrik, lampu petromax menjadi andalan penerangannya. Seingat saya rata-rata tanki minyak tanahnya dicat minyak warna biru. Bukan menunjukkan keseragaman tetapi memang pemilik lampu petromax tersebut hanya segelintir saja. Bisnis lampu petromax menjanjikan kala itu di kalangan pedagang Pasar Kramat Jati dini hari dengan cara menyewanya. Pijaran lampunya yang jauh lebih baik dari lampu sentir membuat suasana Pasar Kramat Jati dini hari memiliki eksotika malam tersendiri. Sebuah peradaban pasar tradisional di kota besar. Kota Jakarta yang sejak dulu terkenal tak pernah tidur.

Foto: Istimewa
Di Desa Tanjungkerta Kuningan Jawa Barat, sebuah perkampungan yang berada di kaki gunung Ciremai, lampu petromax sudah menjadi tradisi penerangan malam hari. Listrik belum masuk desa tersebut. Kira-kira 22 tahun silam saya singgah di sana. Saya terbiasa butuh kegelapan untuk tidur. Karena dengan gelap, mata tak fokus mencari sasaran yang memfungsikan otak untuk bekerja lagi. Namun situasi kegelapan kampung tersebut rupanya mengubah kebiasaan  saya itu. Kegelapan menjadi menakutkan, dan lampu petromax seperti tak cukup untuk membenderangi kamar tempat saya menginap saat itu. Terutama ketika bunyi Tokek bersahut-sahutan dari rumah satu ke rumah lainnya di jam-jam tertentu. Saya berharap saat itu Tokek menjadi barang komoditas yang diburu orang hingga habitatnya punah.

Di salah satu desa di Banjarnegara Jawa Tengah, saya head to head dengan Tokek. Masih pula belum dimasuki listrik hingga lagi-lagi lampu petromax menjadi pencahayaan ruangnya. Tokek itu hanya beberapa centimeter dari wajah saya yang tidur terlentang di kursi panjang yang menempel dinding rumah. Antara mendiamkan atau meloncat menjadi keputusan saat itu. Sesaat melihat, Tokek tersebut mulutnya tengah ngganyem alias mengunyah. Setelahnya ia diam lagi. Kedua matanya yang tak sinkron itu seolah mencari-cari lagi. Rupanya nyamuk yang tak kugubris kehadirannya karena kelelahan, menjadi santapannya. Entah sudah nol koma sepersekian cc darahku dihisap oleh nyamuk-nyamuk santapannya. Sejak saat itu setidaknya saya sudah cukup mengenal baik tentang Tokek yang saya pikir sebelumnya binatang menyebalkan. Saya menarik harapan saya dulu terhadap Tokek dan berdoa agar Tokek tetap lestari.

***

Virus HPV (Foto: Istimewa)
Clavus, atau lebih dikenal mata ikan atau caplak merupakan penyakit kulit menyebalkan. Ia berasal dari virus HPV - Human Papilloma Virus yang kerap menyerang telapak kaki karena merupakan bagian tubuh paling sering berkoneksi dengan berbagai jenis material. Awalnya seperti bisul renik dengan bagian dalamnya terdapat bintik warna hitam. Mirip mata ikan. Lama kelamaan jika dibiarkan maka akan membesar dan berakar. Mata ikan yang saya miliki saat itu sudah membuat lubang di telapak kaki bagian ujung di bawah jari kaki. Di dalamnya terdapat akar-akarnya. Diameter lubangnya kira-kira 3-4 milimeter, sedangkan dalamnya berkisar 2-3 milimeter. Sangat mengganggu. Terutama kala kaki lembab. Gatal-gatal sering mendera. Upaya menggaruk tak cukup, kadang-kadang saya harus mengkeset-kesetkan bagian mata ikan itu pada lantai yang kasar. Agar cepat hilang rasa gatalnya.

Ketika tak berulah, saya sering melakukan operasi kecil-kecilan pada mata ikan saya itu. Menggunakan pinset atau pencabut uban. Bahkan peniti hingga jarum. Ada rasa penasaran ada apa di balik akar tersebut. Namun seringnya berdarah dan saya biasanya akan menghentikan tindakan tersebut. 

Di Desa Tanjungkerta saya mendapatkan solusi dari membasmi Clavus tersebut. Sebenarnya idenya tidak spontan, tetapi berliteratur dari pengalaman film Rambo yang mengobati luka tembak di perutnya dengan menggunakan mesiu dan membakarnya untuk mematikan kuman setelah peluru berhasil diambil. Efek pengobatannya memang menyakitkan, namun setelahnya cukup memuaskan. 

Sewaktu kecil saya pernah terkena luka kecil habis bermain. Dan pula dulu saya sangat suka main bakar-bakaran dengan spirtus atau spiritus. Jika diguyur di kulit, maka dinginnya merambat. Namun spirtus adalah bahan bakar, yang antara lain terbuat dari fermentasi tetes tebu. Kerap dipakai untuk menyalakan lampu petromax. Ditaruhnya di cawan di bawah sarung lampunya. Digunakan untuk membakar, lantas apinya merambat ke sarung lampu tersebut. Masa pendudukan Jepang di Indonesia herannya tidak mengembangkan spirtus ini menjadi bahan bakar kebutuhannya, justru malah menggalakkan menanam pohon Jarak yang pada akhirnya tak sukses. Padahal sumberdaya penghasil bahan baku spirtus tersedia banyak dari pabrik gula-pabrik gula yang didirikan Belanda dan notabene sudah tersedia dan siap memproduksi saja. Mungkin gula masih jauh lebih menguntungkan ketimbang menggantinya dengan memproduksi spirtus. Toh, Balikpapan menjadi sasaran utama Jepang sebagai penyedia bahan bakar mesin perangnya di kawasan Asia Timur Raya. 

Saya meringis ketika luka kecil saya tersiram spirtus yang saya mainkan. Sejak itu luka saya langsung mengering dan hilang sama sekali. Karena keinginantahuan masa kecil saya besar, maka beberapa bulan kemudian saya mengguyur beberapa tetes spirtus ke tangan kiri saya lantas saya nyalakan api. Tentu terbakar tangan saya itu namun tidak membuat perih, tetapi meninggalkan bekas hingga saat ini. Eksperimen selesai. Sekedar tahu saja.

Tentang spirtus yang mampu menyembuhkan luka, maka saya melakukannya untuk Clavus yang saya idap. Sewaktu tengah menyalakan lampu petromax jelang Maghrib, saya mengguyurnya beberapa tetes spirtus ke Clavus saya itu dan menghasilkan kesakitan yang hebat beberapa menit. Setelahnya hilang kesakitan itu sama sekali. Beberapa hari kemudian Clavus saya mengering dan beberapa bulan kemudian hilang tak berbekas. Dan saya tidak sarankan ini dilakukan oleh Anda.

Clavus sama halnya dengan rangen atau kutu air. Sama-sama dituding penyakit kampungan. Dan saya hanya bersyukur pernah mengalami penyakit itu dan berhasil mengobatinya. Tidak lebih, tak mau lagi. Sebab seiring pengetahuan saya bertambah, HPV punya jenis beragam. HPV yang saya alami merupakan risiko rendah yang kurang membahayakan namun harus tetap ditangani. Sedangkan HPV risiko tinggi rupanya meningkat menjadi penyakit berbahaya yang rata-rata menyerang kelamin.

Biarlah saya pernah punya penyakit kampungan. Sebab punya penyakit kota jauh lebih berbahaya. Tetap sehat ya!




Supported By